- Home
-
- Luar Negeri
-
- Wabah Campak di Bangladesh...
Wabah Campak di Bangladesh Tewaskan Lebih dari 1.000 Anak
Kamis, 10 Sep 2026, 00:15 WIBDHAKA - Jumlah kematian akibat campak di Bangladesh telah melampaui 1.000 jiwa anak-anak sejak Maret, kata pejabat kesehatan pada Rabu (9/9), seraya mengakui bahwa kegagalan dalam program vaksinasi mungkin telah memicu wabah tersebut.
Negara di Asia selatan berpenduduk 170 juta jiwa ini telah mencatat 1.002 kematian dan 187.484 infeksi di kalangan anak-anak, menjadikan wabah tahun ini sebagai yang paling mematikan di negara itu dalam beberapa dekade, menurut Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan (DGHS).
Campak sangat menular, menyebar melalui batuk dan bersin, dan tidak ada pengobatan khusus setelah tertular. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi pembengkakan otak dan masalah pernapasan yang parah. Meskipun siapa pun dapat tertular penyakit ini, anak-anak kecil sangat rentan.
Penyakit ini terus menyebar di Bangladesh meskipun otoritas kesehatan telah meluncurkan program vaksinasi massal untuk memerangi wabah tersebut.
Juru bicara DGHS, Zahid Raihan, mengatakan bahwa lebih dari 18 juta anak telah divaksinasi sejauh ini, dan tim sedang mencari anak-anak yang belum divaksinasi. "Kami tidak berhasil mencapai kekebalan kelompok," kata Raihan kepada AFP.
Angka resmi menunjukkan bahwa sekitar empat juta anak tidak termasuk dalam kampanye tersebut, sehingga meninggalkan kantong-kantong kerentanan yang menurut para ahli telah memicu wabah.
"Campak tidak dapat diberantas dan tujuannya adalah untuk mengurangi korban jiwa. Kami akan terus memvaksinasi anak-anak kami," kata Raihan.
Namun, menurut Raihan, mengendalikan wabah ini membutuhkan lebih dari sekadar vaksinasi, dan ia menekankan perlunya mengatasi kekurangan gizi kronis pada anak-anak, faktor yang dapat memperburuk dampak penyakit ini.
Krisis campak yang semakin meningkat juga memperparah sistem layanan kesehatan yang sudah terbebani, sementara pihak berwenang juga berupaya mengatasi lonjakan kasus demam berdarah secara bersamaan.
"Rumah sakit yang sebelumnya mampu menangani 50 pasien demam berdarah kini menangani 500 pasien," kata Raihan.
Sembilan orang dilaporkan telah meninggal dunia akibat demam berdarah pada Selasa (8/9) lalu, sementara 1.571 pasien dirawat di rumah sakit, menurut data kementerian kesehatan.
Sejak Januari, Bangladesh mencatat 45.475 kasus demam berdarah dan 130 kematian. Pada tahun 2023, terdapat 321.017 kasus penyakit yang ditularkan nyamuk ini - angka tertinggi yang tercatat di negara tersebut.
Wakil Menteri Kesehatan Bangladesh, MA Muhit, memperingatkan bahwa kasus demam berdarah dapat meningkat lebih lanjut dalam beberapa pekan mendatang.
"Jika kita mengambil langkah-langkah untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar, kita mungkin akan melihat penurunan angka kejadian demam berdarah," kata dia dalam sebuah seminar pada Rabu.
"Jika tidak, demam berdarah dapat berubah menjadi berbahaya pada pekan terakhir bulan September dan awal Oktober," imbuh dia.
Perdana Menteri Tarique Rahman dijadwalkan meresmikan kampanye anti-demam berdarah nasional selama tiga bulan pada Sabtu (12/9) mendatang. ils/AFP/I-1
- bangladesh
- Campak
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP, Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Peningkatan Ekspor Dimulai dari Penguatan SDM dan IKM
-
KKP: Penyaluran BBM Solar Rp15.000 per Liter bagi Nelayan, Begini Skema & Mekanismenya!
-
BPS Natuna Data 784 Titik Kegiatan Ekonomi Lewat Sensus Ekonomi 2026 di Wilayah Perbatasan.
-
Pemkab Kepahiang Minta Pengembang PSN PLTP Kabawetan Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal
-
Jadi Sorotan! Presiden Naik Maung MV3 Garuda Limousine ke Kompleks MPR
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.