Toto Wolff: Generasi Kimi Antonelli Lebih Siap Menuju Kesuksesan di Formula 1
Kamis, 10 Sep 2026, 00:35 WIBLONDON â Kimi Antonelli disebut sebagai fenomena baru Formula 1. Pembalap muda Mercedes itu bahkan berada di jalur untuk menjadi juara dunia termuda dalam sejarah F1 pada usia 20 tahun.
Namun, bagi bos Mercedes Toto Wolff, kehebatan Antonelli bukan sekadar persoalan bakat alami. Pembalap asal Italia tersebut dinilai menjadi simbol dari generasi baru pembalap yang jauh lebih siap menghadapi tuntutan Formula 1 dibandingkan generasi sebelumnya.
Wolff menyampaikan pandangan itu ketika ditanya mengenai pengaruh karakter mobil Formula 1 2026 terhadap perkembangan pesat Antonelli. Mobil generasi terbaru F1 memiliki porsi tenaga listrik yang lebih besar dan karakteristik yang menuntut pendekatan berbeda dalam mengemudi.
âIni adalah generasi yang sedang tumbuh dan mereka lebih siap dibandingkan generasi sebelumnya,â kata Wolff.
Menurut pria asal Austria itu, perkembangan teknologi simulator menjadi salah satu faktor utama. Simulator kini tidak lagi sekadar perangkat hiburan, tetapi telah berubah menjadi alat penting dalam proses pembentukan pembalap muda.
âSimulator sudah berkembang jauh lebih dari sekadar mainan. Anda bisa melihat bahwa ketika mereka menggunakan simulator, mereka mengemudikan berbagai jenis mobil, mulai dari mobil reli, mobil sport hingga GT,â ujarnya. âJadi, itu menjadi alat tambahan yang dimiliki generasi pembalap ini.â
Wolff bahkan menggambarkan Antonelli seperti sebuah agen kecerdasan buatan yang terus memperbaiki dirinya sendiri. Kapasitas pembalap berusia 20 tahun itu dalam menyerap informasi dan belajar disebut luar biasa.
Wolff meyakini proses tersebut bahkan bisa dimulai sejak usia sangat dini.
âSaya pikir jika Anda menempatkan anak berusia lima atau enam tahun di simulator, Anda mengajarkan kemampuan kognitif kepada mereka. Atau mereka mempelajari kemampuan kognitif tanpa melakukannya secara aktif,â kata Wolff.
âKarena itulah mereka bisa masuk Formula 1 pada usia tersebut dengan bandwidth yang jauh lebih besar. Semuanya terasa seperti bergerak dalam gerakan lambat karena mereka melakukan ini setiap hari, hari demi hari.â
Menurut Wolff, generasi berikutnya kemungkinan akan memiliki kemampuan yang bahkan lebih berkembang.
âDan pembalap berikutnya mungkin akan memiliki satu lapisan tambahan lagi,â ujarnya.
Kemenangan Monza Mengubah Suasana Italia
Antonelli sendiri baru saja menciptakan salah satu momen paling spektakuler dalam kariernya. Start dari posisi ke-19 pada GP Italia di Monza, ia mampu bangkit dan merebut kemenangan di depan publik sendiri.
Kemenangan tersebut mengingatkan pada aksi comeback legendaris para pembalap masa lalu. Tidak mengherankan jika Antonelli langsung dibandingkan dengan sejumlah nama besar Formula 1, termasuk legenda Ferrari, Ayrton Senna.
Kesuksesan itu juga memicu euforia luar biasa di Italia, meski Ferrari justru menjalani akhir pekan yang mengecewakan.
Selama puluhan tahun, Ferrari menjadi magnet utama bagi penggemar Italia. Dukungan terhadap tim nasional mereka di Formula 1 bahkan semakin kuat ketika Ferrari memiliki pembalap seperti Michael Schumacher, yang mempersembahkan tujuh gelar dunia dengan seragam merah.
Kini, Antonelli membuka kemungkinan lahirnya era baru.
Jika mampu menjadi juara dunia, pembalap Italia tersebut akan menciptakan sejarah yang belum pernah disaksikan sebagian besar penonton Monza saat ini. Italia terakhir kali memiliki juara dunia Formula 1 pada 1953.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni turut mengirimkan ucapan selamat. Sementara itu, media olahraga Gazzetta dello Sport mendedikasikan 15 halaman pertama untuk keberhasilan Antonelli.
Wajah Antonelli pun menghiasi berbagai pemberitaan di Italia. Salah satu gambar yang paling mencuri perhatian memperlihatkan dirinya menikmati spaghetti dari mangkuk trofi perak kemenangan.
Namun, Antonelli tetap punya standar tersendiri. Ia bahkan mengaku spaghetti tersebut masih kalah lezat dibandingkan masakan neneknya.
Kemenangan di Monza membuat Antonelli menjadi satu-satunya pembalap Italia yang masih hidup yang pernah merasakan kemenangan di Grand Prix tersebut.
Ia menjadi pembalap Italia pertama yang menang di Monza sejak Ludovico Scarfiotti pada 1966 dan hanya pembalap Italia keempat yang mampu melakukannya sejak Kejuaraan Dunia Formula 1 dimulai pada 1950.
Dua nama lainnya adalah Giuseppe Farina yang menang pada 1950 serta Alberto Ascari yang berjaya pada 1951 dan 1952.
Antonelli juga sudah mencatat sejumlah pencapaian bersejarah lainnya. Sebelumnya, ia menjadi pembalap Italia pertama dalam 73 tahun yang memimpin klasemen kejuaraan ketika F1 tiba di âTemple of Motorsportâ, julukan Monza.
Setelah kemenangan tersebut, ia meninggalkan Monza dengan status sebagai pemenang Grand Prix Italia termuda sekaligus pembalap pertama yang memenangkan tujuh Grand Prix dalam satu musim.
Lebih luar biasa lagi, hanya satu pembalap dalam sejarah yang pernah memenangi balapan F1 dari posisi start yang lebih buruk.
Pembalap tersebut adalah John Watson. Pada GP Amerika Serikat Barat 1983 di Long Beach, California, Watson meraih kemenangan untuk McLaren setelah mengawali balapan dari posisi ke-22.
Antonelli kini berada di jalur untuk menciptakan sejarah yang jauh lebih besar. Dengan keunggulan 66 poin atas rekan setimnya, George Russell, pembalap muda Italia itu tidak hanya menjadi simbol generasi baru, tetapi juga kandidat kuat untuk mengubah peta sejarah Formula 1.
- Formula 1
- Toto Wolff
- Kimi Antonelli
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Tekanan terhadap Infantino Meningkat, UEFA Pertahankan Ancaman Boikot meski CAF Beri Dukungan
-
Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Mastel Dorong Platform Global Andil ke Infrastruktur Digital Nasional
-
Menuju Generasi Emas, Bunda PAUD Aceh Kampanyekan Gemarikan di Pulau Simeulue
-
Bea Cukai gagalkan penyelundupan ekspor emas
-
Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Diatur dalam UU
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.