Event Horizon: Horor Kosmik Lawas yang Dulu Diremehkan, Kini Justru Terasa Makin Mengerikan
Senin, 24 Agu 2026, 00:00 WIBAda film fiksi ilmiah yang mengajak penonton menjelajahi luar angkasa. Ada pula yang membuat luar angkasa terasa seperti tempat paling mengerikan yang bisa dibayangkan manusia. Event Horizon berada di kategori kedua.
Dirilis pada 1997 dan disutradarai Paul W.S. Anderson, film yang dibintangi Sam Neill dan Laurence Fishburne ini sempat gagal secara komersial dan mendapat respons kritis yang kurang baik. Namun, hampir tiga dekade kemudian, Event Horizon justru semakin sering dipandang sebagai salah satu film horor kosmik yang paling berani.
Film ini mengambil latar tahun 2047. Sebuah pesawat luar angkasa bernama Event Horizon tiba-tiba muncul kembali setelah menghilang selama tujuh tahun dalam pelayaran perdananya.
Sinyal darurat dari kapal tersebut membuat sebuah tim penyelamat dikirim untuk menyelidiki. Kapten Miller yang diperankan Laurence Fishburne memimpin misi tersebut, sementara Dr. William Weir, diperankan Sam Neill, ikut bergabung karena dialah perancang Event Horizon.
Begitu memasuki kapal, mereka menemukan sesuatu yang jauh berbeda dari misi penyelamatan biasa. Kapal tersebut kosong, tetapi meninggalkan sejumlah petunjuk mengerikan mengenai apa yang terjadi pada kru sebelumnya.
Masalah sebenarnya berasal dari teknologi yang digunakan Event Horizon. Kapal itu dirancang dengan sistem penggerak eksperimental yang memungkinkan perjalanan melintasi ruang dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Namun, teknologi tersebut ternyata membuka jalan menuju sesuatu yang tidak seharusnya dijangkau manusia.
Di sinilah Event Horizon mengubah konsep fiksi ilmiah menjadi horor kosmik. Film ini tidak sekadar menggunakan monster atau makhluk asing sebagai sumber ancaman. Kengerian justru muncul dari gagasan bahwa manusia telah membuka pintu menuju sesuatu yang berada di luar pemahaman mereka.
Paul W.S. Anderson juga membuat desain kapalnya menjadi bagian penting dari atmosfer film. Bentuk Event Horizon sengaja dibuat menyerupai sebuah katedral, lengkap dengan lorong-lorong gelap dan interior bergaya Gotik.
Hasilnya adalah pesawat luar angkasa yang terasa seperti rumah berhantu di tengah kehampaan kosmik.
Desain tersebut memperkuat gagasan bahwa Event Horizon bukan sekadar kendaraan. Semakin lama para kru berada di dalamnya, kapal itu terasa seolah memiliki pengaruh terhadap kondisi mental mereka.
Trauma dan rasa bersalah masing-masing karakter kemudian menjadi pintu masuk bagi teror yang mereka alami.
Inilah salah satu kekuatan terbesar film tersebut. Ketakutan tidak hanya datang dari apa yang berada di luar kapal, tetapi juga dari pikiran para karakter sendiri.
Event Horizon memang tidak sempurna. Ceritanya masih memiliki kemiripan dengan sejumlah film horor luar angkasa sebelumnya, terutama Alien. Beberapa bagian juga terasa berlebihan dan eksplisit.
Namun, keberanian film ini justru membuatnya berbeda.
Anderson tidak mencoba membuat horor luar angkasa yang aman untuk semua penonton. Film ini menampilkan kekerasan ekstrem, mutilasi tubuh, penyiksaan, hingga gambaran mengerikan yang membuat perjalanan para kru terasa seperti penurunan menuju neraka.
Pendekatan tersebut membuat Event Horizon lebih dekat dengan horor Gotik dan horor kosmik ketimbang fiksi ilmiah konvensional.
Ada pula pengaruh kuat Hellraiser dalam cara film ini menggambarkan manusia yang berhadapan dengan dimensi di luar pemahaman mereka. Pengetahuan yang seharusnya tidak diketahui justru menjadi sumber kehancuran.
Yang membuat Event Horizon tetap menarik hingga sekarang adalah konsep sederhananya: bagaimana jika manusia menciptakan teknologi untuk menembus batas alam semesta, tetapi ternyata batas tersebut ada karena memang tidak seharusnya dilewati?
Film ini tidak selalu memberikan jawaban yang memuaskan. Namun, atmosfer, desain produksi, penampilan Sam Neill, serta keberaniannya membawa horor ke wilayah yang sangat gelap membuat Event Horizon memiliki daya tahan yang tidak dimiliki banyak film seangkatannya.
Dulu dianggap sebagai kegagalan, Event Horizon kini justru memiliki status kultus. Film ini mungkin bukan film fiksi ilmiah yang paling sempurna, tetapi sebagai pengalaman horor kosmik, film tersebut berhasil membuat luar angkasa terasa bukan sebagai tempat untuk dijelajahi, melainkan sesuatu yang sebaiknya tidak pernah dibuka pintunya.
Dan mungkin itulah alasan mengapa, 29 tahun setelah dirilis, Event Horizon masih mampu membuat penonton merasa tidak nyaman setiap kali kapal tersebut kembali muncul di layar.
- Review Film
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.