Mau Bawa Pulang Fosil Dinosaurus? Museum Sejarah Alam San Diego Tempatnya

Kamis, 10 Sep 2026, 05:10 WIB

SAN DIEGO – Bagaimana jika perpustakaan tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga tulang paus, kulit macan tutul, burung yang diawetkan, hingga kotoran dinosaurus yang telah menjadi fosil?

Hal itu benar-benar ada di San Diego, California. Museum Sejarah Alam San Diego memiliki program unik bernama Nature to You, yang memungkinkan masyarakat umum meminjam sekitar 1.400 spesimen sejarah alam untuk dibawa pulang, dipajang, atau digunakan dalam berbagai kegiatan.

Ket. Foto: Total terdapat sekitar 1.400 spesimen, mulai dari fosil gigi megalodon hingga kepala ular kobra raja dalam toples. — Sumber: Istimewa

Dari The Guardian, lewat program tersebut, masyarakat dapat meminjam spesimen asli milik museum selama dua minggu. Koleksinya mencakup hewan yang diawetkan, fosil, tulang, kulit binatang, hingga serangga.

Pada suatu siang di bulan Agustus, seorang pengunjung bahkan membawa pulang tulang rusuk paus, kulit macan tutul, musang yang diawetkan, serta sepotong kecil kotoran dinosaurus yang telah menjadi fosil.

San Diego memiliki satu-satunya museum sejarah alam di Amerika Serikat yang diketahui menyediakan koleksi spesimen alam untuk dipinjam dan dibawa pulang masyarakat umum, dengan konsep serupa perpustakaan yang meminjamkan buku.

Di dalam museum, rak-rak logam berisi hewan yang diawetkan memenuhi ruangan dari lantai hingga langit-langit. Cahaya memantul dari deretan kotak plexiglass yang berisi kucing hutan, burung, dan kelinci liar.

Ada pula lemari Riker berisi kumbang dan kupu-kupu, rak berisi makhluk laut yang diawetkan, ular dalam stoples, serta wadah plastik berisi kulit binatang eksotis.

Haylie Priest, manajer program peminjaman, memandu pengunjung melewati koleksi tersebut. Total terdapat sekitar 1.400 spesimen, mulai dari fosil gigi megalodon hingga kepala ular kobra raja dalam toples.

“Di bagian depan ada burung pemangsa – tulang-tulang besar dan fosil di sebelah kiri – sedangkan reptil berada di bagian paling belakang,” jelas Priest.

Di salah satu lorong, pada rak paling bawah, terdapat seekor buaya kecil yang diawetkan.

“Beberapa jari kakinya hilang,” kata Priest.

Berawal dari program sekolah

Koleksi taksidermi museum tersebut berawal dari program peminjaman yang dimulai pada 1920-an. Saat itu, museum membawa “lemari alam” ke sekolah-sekolah lokal di sekitar San Diego.

Beberapa perlengkapan lama masih dipajang hingga sekarang, termasuk kotak kayu berisi sampel mineral dengan panduan ketikan yang tampak berasal dari era 1940-an.

Pada sekitar awal 2000-an, museum membuka program tersebut sehingga siapa pun yang tertarik dapat meminjam koleksi spesimen museum.

Elizabeth Merritt, ahli tren di American Alliance of Museums, mengatakan museum sejarah alam di Amerika memang banyak yang menyediakan perlengkapan ilmiah bagi guru sekolah. Namun, program peminjaman spesimen yang terbuka untuk masyarakat umum merupakan sesuatu yang unik.

Program di San Diego tersebut tampaknya menjadi satu-satunya program sejenis di Amerika Serikat.

Merritt mengatakan museum lain sebenarnya dapat dengan mudah menawarkan program serupa.

“Ada banyak jenis spesimen sejarah alam yang sangat umum, dan seringkali museum sejarah alam memiliki banyak spesimen tersebut,” katanya.

Seorang juru bicara Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian, yang memiliki koleksi 145,8 juta spesimen dan objek, menyebut program San Diego tersebut “tentu saja menarik”.

Program Nature to You juga merupakan bagian dari tren yang lebih luas. Merritt mengatakan banyak museum di Amerika mencoba membuka koleksi mereka kepada publik dengan cara-cara baru dan tidak tradisional.

Ia menyebut tren tersebut sebagai “museum terdistribusi”, yang mulai berkembang sekitar 2014 bersamaan dengan munculnya “ekonomi berbagi” berbasis teknologi.

Seperti belanja di supermarket

Proses peminjaman di perpustakaan spesimen San Diego dibuat sederhana. Sejumlah troli plastik kokoh tersedia di dekat pintu sehingga anggota dapat mendorongnya menyusuri lorong dan memilih spesimen yang mereka inginkan.

Priest menggambarkan proses itu seperti “berbelanja di supermarket”.

Pengunjung dapat mengambil kelelawar, tulang, atau kucing hutan dari rak dan memasukkannya ke troli.

“Dan kemudian kami melayani Anda,” kata Priest.

Mamalia predator menjadi spesimen yang paling banyak diminati. Coyote besar berada di urutan pertama, disusul kucing hutan dan rubah.

Berikutnya terdapat berang-berang laut yang diawetkan dalam posisi telentang dengan seekor landak laut di cakarnya.

“Kami memanggilnya Ophelia,” ujar Priest.

Priest enggan memilih spesimen favoritnya, meski ia mengaku sangat menyukai kākāpō, burung beo nokturnal yang tidak bisa terbang dari Selandia Baru.

Ia juga menolak menyebut ada spesimen yang paling tidak populer, termasuk ular mati yang melingkar di dalam toples berisi formalin.

“Saya merasa ada ceruk atau alasan bagi seseorang untuk memeriksa semuanya,” katanya.

Bukan koleksi penelitian

Spesimen yang tersedia dalam program Nature to You berbeda dengan koleksi penelitian museum yang mencapai 9 juta spesimen.

Salah satu perbedaan terbesar terletak pada data yang menyertai spesimen. Koleksi yang dipinjamkan kepada masyarakat memiliki data jauh lebih sedikit. Usia dan asal-usulnya, bahkan spesies pastinya, terkadang tidak jelas.

Karena itu, nilai spesimen tersebut bagi penelitian ilmiah jauh lebih rendah.

Namun, koleksi itu tetap digunakan untuk berbagai kegiatan pendidikan dan kreatif.

Dalam setahun terakhir, perpustakaan tersebut memiliki 186 anggota yang meminjam total 3.807 spesimen.

Sekitar 60 persen anggota merupakan guru sekolah, sementara 30 persen lainnya adalah pendidik yang bekerja untuk organisasi nirlaba atau organisasi komunitas.

Sisanya, sekitar 10 persen, merupakan seniman pribadi, keluarga, dan individu yang memiliki ketertarikan terhadap koleksi tersebut.

Spesimen pernah digunakan sebagai dekorasi untuk produksi teater universitas dan model untuk kelas patung.

Seorang perempuan yang bekerja dari rumah bahkan datang setiap dua minggu untuk mendapatkan spesimen baru yang digunakan sebagai latar belakang panggilan videonya.

“Dia berkata: ‘Ini sangat menyenangkan! Karena para pekerja saya selalu berpikir, apa yang akan dia pilih selanjutnya?’” kata Priest.

Ramai saat Halloween dan musim semi

Perpustakaan spesimen tersebut buka sepanjang tahun. Namun, menurut Priest, ada dua musim utama ketika permintaan meningkat.

Pertama adalah Halloween. Pengunjung mencari berbagai koleksi untuk dekorasi, mulai dari kelelawar, gagak, kerangka, burung hantu, hingga laba-laba dan kalajengking.

Musim kedua adalah musim semi.

“Semua orang menginginkan siklus kehidupan, bayi, kupu-kupu, ngengat, burung kolibri,” kata Priest.

Selama kunjungan, sejumlah petugas taman lokal juga terlihat meminjam burung dan mamalia kecil untuk kursus alam yang mereka ajarkan.

Monica Demetry, petugas taman di Mission Trails Regional Park, mengaku terkejut melihat banyaknya spesimen yang tersedia.

“Saya sangat terkejut dengan banyaknya spesimen yang mereka tawarkan untuk diperiksa,” kata Demetry.

“Saya seperti anak kecil di toko permen yang mencoba memilih mana yang ingin saya periksa.”

Coyote bisa mencapai 5.000 dolar AS

Koleksi taksidermi tersebut bukan sumber pendapatan bagi museum, kata Priest dan Eowyn Bates, seorang eksekutif museum.

Museum justru menggalang dana untuk membantu memperluas koleksi perpustakaan tersebut. Salah satu kendalanya adalah biaya taksidermi yang tidak murah.

Seekor coyote, misalnya, dapat berharga sekitar 5.000 dolar AS.

Salah satu tambahan terbaru adalah seekor rakun kecil yang merupakan bangkai hewan tertabrak kendaraan dan kemudian ditata dengan teliti oleh ahli taksidermi lokal.

Koleksi juga terkadang bertambah melalui pemberian masyarakat.

Menurut Bates, ada orang yang mencoba mewariskan hasil pengawetan hewan kepada museum melalui surat wasiat.

Ada pula orang yang datang langsung ke perpustakaan atau meja resepsionis museum membawa hewan mati yang mereka anggap dapat berguna.

Namun, petugas harus menjelaskan bahwa museum tidak menerima bangkai tanpa pengaturan sebelumnya.

Pada kesempatan lain, Priest mengatakan, orang-orang menelepon atau mengirim email setelah menemukan burung yang mati akibat menabrak jendela.

Bangkai burung itu kemudian disimpan di dalam freezer dan mereka bertanya apakah museum dapat menggunakannya.

Priest mengatakan ia terkadang menerima tawaran tersebut, tergantung pada spesies dan kondisi hewan.

Memilih koleksi untuk dibawa pulang

Seorang pengunjung yang mencoba meminjam spesimen mengaku kesulitan menentukan pilihannya.

Ia menginginkan seekor musang yang berdiri malu-malu di atas jari-jari kakinya.

Menurut Priest, kemungkinan besar musang tersebut merupakan spesimen yang pernah dipajang di museum antara 1930-an hingga 1950-an, ketika hewan yang diawetkan dipamerkan dalam lemari besar.

Pengunjung itu juga menginginkan fosil sederhana berupa koprolit, yakni kotoran berusia jutaan tahun yang telah menjadi fosil.

Untuk burung, pilihannya jatuh pada burung puyuh California yang berada di dalam kotak kaca. Spesimen tersebut dinilai cocok untuk memberikan nuansa “pedesaan” pada kamar tidur kecilnya di California.

Namun, akhirnya burung puyuh itu dikembalikan karena troli belanja sudah terlalu penuh.

Pengunjung tersebut kemudian memilih tulang rusuk paus yang besar dari rak tulang.

Setelah itu, ia menuju bagian belakang yang dipenuhi wadah plastik berisi kulit binatang eksotis.

Kulit gajah sudah diperiksa. Kulit ular piton terlihat menakutkan dan berbau. Ada pula kulit singa betina Afrika.

Namun, perhatian akhirnya tertuju pada kulit macan tutul muda dengan kepala tiga dimensi utuh dan mata kaca. Mulutnya terbuka seolah sedang menggeram.

Spesimen itu kemudian dipilih untuk dibawa pulang.

Aturan peminjaman

Setelah menentukan pilihan, proses peminjaman berlangsung lancar.

Priest memberikan informasi mengenai cara merawat spesimen, termasuk larangan mengikatnya dengan sabuk pengaman di dalam mobil dan larangan menyemprotkan Windex pada kaca akrilik.

Anggota juga diberi informasi mengenai batas waktu pengembalian.

Perpustakaan dapat mengenakan denda keterlambatan sebesar 2 dolar AS per hari untuk koleksi taksidermi. Namun, museum umumnya fleksibel apabila anggota menyampaikan alasan keterlambatan.

Selama 21 tahun bekerja di museum, Bates mengatakan dirinya tidak mengingat adanya kasus pencurian spesimen dari program tersebut.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.