- Home
-
- Luar Negeri
-
- Laut China Selatan Kembali...
Laut China Selatan Kembali Memanas, Filipina dan China Saling Lempar Kritik
Kamis, 10 Sep 2026, 06:12 WIBISTANBUL - China dan Filipina saling melontarkan pernyataan keras terkait sengketa di Laut China Selatan, dengan perselisihan terbaru terjadi saat Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. berbicara di forum pertahanan di Korea Selatan.
Dalam tayangan di forum Seoul Defense Dialogue (SDD), Selasa, menunjukkan Menhan Teodoro menerima secarik pesan dari pihak China saat menjawab pertanyaan di panggung forum.
Pesan tersebut menjabarkan posisi pihak China terkait sengketa di Laut China Selatan, kata Teodoro, yang kemudian membacakan satu per satu kalimat dalam pesan tersebut serta menanggapinya dengan keras.
"Posisi China atas arbitrase Laut China Selatan jelas, konsisten, dan tegas," kata surat tersebut, sebagaimana dibaca Teodoro. Dia lantas membalas bahwa Beijing "tidak berpendirian".
Dalam surat itu, kata dia, China berkata bahwa "arbitrase tersebut melanggar prinsip dasar hukum internasional".
"Berarti apa yang kalian tandatangani, UNCLOS, juga melanggar hukum internasional juga," kata dia membaca surat dari pihak China, merujuk kepada Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
Mahkamah Arbitrase (PCA), yang berbasis di Den Haag, Belanda, pada 2016 memutuskan bahwa klaim maritim China di Laut China Selatan tidak memiliki kekuatan hukum.
"Apa yang disebut 'putusan' itu ilegal, batal, dan tidak berlaku," kata pesan dari China itu.
Teodoro lantas membalas, "Kalian berkata hal itu tak berkekuatan hukum karena kalian tidak mau mematuhi UNCLOS".
"China tidak akan menerima dan mengakui putusan itu," ucap Teodoro dengan lantang saat membacakan pesan dari China itu. "Tentu saja, karena kalian kalah," balasnya.
Teodoro menyebut pesan tersebut sebagai "bentuk koersi, perundungan, dan agresi".
Meski demikian, dia mengaku akan menyimpan surat pesan tersebut sebagai kenang-kenangan akan "betapa putus asanya China".
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning, dalam konferensi pers pada Rabu mengatakan "tak tahu pasti apa yang terjadi dalam kegiatan tersebut".
"Tetapi, posisi China sudah jelas soal apa yang disebut 'arbitrase Laut China Selatan' itu," kata dia.
Manila "secara sepihak mengajukan gugatan tersebut, yang merupakan distorsi dan penyelewengan terhadap mekanisme penyelesaian sengketa berdasarkan UNCLOS," ucap Mao Ning.
Dia menuding Filipina melanggar prinsip UNCLOS serta merongrong "integritas dan wewenangnya".
Jubir Kemlu China itu mendesak Teodoro untuk "menghentikan provokasi dan sandiwaranya, serta berhenti mengganggu hubungan China-Filipina dan stabilitas di Laut China Selatan".
Insiden tersebut terjadi di tengah ketegangan antara China dan Filipina di Laut China Selatan, di mana kedua negara berulang kali terlibat dalam bentrokan untuk menegaskan klaim teritorial mereka.
Laut China Selatan merupakan salah satu jalur perdagangan laut tersibuk sedunia, dengan nilai perdagangan yang mengalir di sana mencapai triliunan dolar AS per tahunnya.
- filipina
- Laut China Selatan
- Pemerintah China
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Marcellus Widiarto
Berita Terkait:
-
KKP Tangkap Kapal Filipina dan Bongkar 25 Rumpon Ilegal di Maluku Utara
-
Safari Literasi Jawa Dorong Minat Baca dan Keterampilan Menulis di 28 Daerah
-
Pengadilan Filipina Perintahkan Tangkap Wapres Sara Duterte
-
Pemkab Bangka Tengah Dukung Program Layanan Paspor Jemput Bola
-
Mengakali Sinyal “Eat-Me”: Langkah Baru Menumbuhkan Organ Donor dari Spesies Lain
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.