15 Orang Utan Terselamatkan dalam Sebulan Akibat Karhutla

Kamis, 10 Sep 2026, 22:17 WIB

Bengkayang - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah menyelamatkan 15 individu orang utan yang terdampak ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sebulan terakhir.

Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting mengatakan, kebakaran tidak hanya menjadi ancaman ketika api mendekati satwa, tetapi juga ketika memutus akses orang utan menuju habitat alaminya.

Ket. Foto: BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI saat evakuasi orang utan di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. — Sumber: Antara

"Yang kami khawatirkan bukan hanya ketika api mendekati orang utan, tetapi juga ketika kebakaran memutus akses mereka menuju hutan. Mereka akhirnya terjebak di lanskap perkebunan dan berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya untuk mencari makanan dan tempat berlindung," ujarnya di Ketapang, Kamis.

Terbaru, katanya, pihaknya sudah menyelamatkan enam individu orang utan dari kawasan perkebunan campuran milik warga di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, dalam dua operasi evakuasi pada 4 dan 8 September 2026.

Enam orang utan tersebut terdiri atas dua pasangan induk dan anak serta dua individu remaja. Mereka masing-masing bernama Mama Nopi dan anaknya, Nopi, Mama Noni dan anaknya, Noni, serta dua orang utan remaja, Naufal dan Nopan.

Keenam orang utan dievakuasi setelah tim menerima laporan mengenai keberadaan satwa yang bergerak di sekitar perkebunan warga. Kondisi itu terjadi setelah kebakaran di sekitar kawasan memutus akses orang utan menuju blok hutan yang masih tersisa.

Sementara itu, Ketua Umum YIARI Silverius Oscar Unggul menyatakan pihaknya mendukung upaya pemerintah melalui Kementerian Kehutanan dan BKSDA Kalimantan Barat dalam merespons dampak karhutla terhadap satwa liar.

"YIARI mendukung penuh upaya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalimantan Barat dalam merespons dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap satwa liar," katanya.

Menurut Silverius, penyelamatan satwa menjadi bagian penting dari penanganan dampak karhutla, terutama ketika kebakaran menyebabkan habitat dan akses satwa menuju hutan semakin terbatas.

Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan, kebakaran hutan dan lahan menyebabkan terganggunya akses satwa liar terhadap sumber pakan dan ruang jelajahnya.

"Pencegahan karhutla tetap menjadi pilihan utama. Namun, ketika kebakaran telah terjadi, keterlibatan masyarakat untuk mendeteksi dan melaporkan keberadaan satwa terdampak menjadi bagian penting dalam penanganan dampaknya," katanya.

Ia mengharapkan seluruh elemen masyarakat segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang keluar dari habitatnya, khususnya di kawasan yang terdampak atau terancam kebakaran.

  • Dampak Karhutla

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.