Zelenskyy Optimistis Perundingan Russia-Ukraina Digelar Bulan Ini

Rabu, 09 Sep 2026, 02:50 WIB

KYIV - Para negosiator Russia, Ukraina, dan Amerika Serikat (AS) dapat bertemu paling cepat bulan ini untuk membahas upaya mengakhiri perang. Hal itu dikemukakan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada Selasa (8/9), beberapa jam setelah Moskwa membombardir Kyiv dengan misil dan drone.

Sementara itu wali kota Kyiv melaporkan serangan udara semalaman telah menewaskan tiga orang, menyebabkan asap mengepul di atas kota saat Moskwa mengakhiri penghentian sementara serangan terhadap Kyiv.

Ket. Foto: Sejumlah anggota pemadam kebakaran Ukraina berupaya memadamkan api usai terjadinya serangan misil Russia yang menyasar Ibu Kota Kyiv pada Selasa (8/9) pagi. Russia kembali menggempur Ukraina setelah 3 hari tak melancarkan serangan. — Sumber: AFP/SERHII OKUNEV

Utusan Presiden AS, Donald Trump, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah mengunjungi ibu kota Russia dan Ukraina pada akhir pekan lalu untuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Zelenskyy dan Presiden Russia, Vladimir Putin.

Kunjungan Witkoff dan Kushner menandai keterlibatan kembali Washington DC dalam upaya menengahi kesepakatan antara kedua pihak, yang telah tertunda selama berbulan-bulan.

Witkoff sendiri telah menggembar-gemborkan adanya kemajuan substansial dalam diskusi dengan Ukraina dan Russia, meningkatkan prospek untuk menghidupkan kembali pembicaraan perdamaian tiga pihak .

"Presiden Trump bekerja keras untuk menghentikan pembunuhan dan berupaya mewujudkan perdamaian yang langgeng dan berkelanjutan," kata Witkoff di media sosial X.

Sejauh ini tidak ada terobosan langsung dalam upaya mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II, tetapi Zelenskyy pada Selasa mengatakan ada harapan untuk melanjutkan pembicaraan langsung antara Russia dan Ukraina dalam beberapa pekan mendatang.

"Kita semua akan mempersiapkan dan mendekatkan kemungkinan pertemuan trilateral antara Ukraina, Russia, dan Amerika," kata Presiden Zelenskyy kepada wartawan.

"Jika semua pihak setuju, kami juga ingin menyelenggarakannya di musim gugur. Jika bulan September memungkinkan, maka itu akan sangat bagus. Semakin awal semakin baik," kata dia, tanpa menjelaskan lebih lanjut atau mengkonfirmasi di mana pembicaraan itu akan berlangsung.

Sebelumnya pada Senin (7/9) Kremlin menyatakan bahwa mereka tidak mengesampingkan pembicaraan tiga pihak, tetapi juru bicara Dmitry Peskov mengatakan kepada wartawan bahwa masih terlalu dini untuk mengatakan apapun tentang tempat atau tanggal pasti perundingan pada tahap ini.

Beberapa putaran negosiasi sebelumnya gagal membawa kedua pihak lebih dekat satu sama lain. Akibat tingkat kepercayaan rendah, sejauh ini tidak ada tanda-tanda bahwa Moskwa atau Kyiv akan mengubah pendiriannya.

Zelenskyy mengatakan kepada media AS, Axios, bahwa AS berupaya meredakan konflik menjelang musim dingin dan bahwa Putin tidak ingin membuat Trump marah sebelum pemilihan legislatif paruh waktu AS pada awal November.

Mencekam

Sementara itu para reporter AFP di Kyiv melaporkan bahwa mereka mendengar ledakan baru yang menggema pada Selasa dini hari, memicu kebakaran dan membuat warga setempat berlindung di ruang bawah tanah dan stasiun metro.

"Begitu utusan perdamaian presiden AS pergi, Putin melancarkan serangan besar dan mengerikan lainnya terhadap Kyiv," kata Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiga, di media sosial. "Misil balistiknya berbicara lebih lantang daripada kata-katanya tentang diplomasi," sindir dia.

Militer Russia mengatakan pihaknya telah melakukan serangan besar-besaran terhadap lokasi industri militer, pusat logistik, dan pusat penyimpanan di Kyiv dan sekitarnya. Russia sebelumnya telah menyerang jaringan energi Ukraina setiap musim dingin sejak invasi pada Februari 2022, memutus aliran listrik dan pemanas bagi jutaan orang.

Warga setempat menceritakan kepada AFP bagaimana mereka berlari mencari perlindungan saat serangan Russia dimulai.

"Itu sangat mencekam, kami hampir tidak berhasil menyelamatkan diri. Saya rasa serangan terakhir tidak seperti ini," kata warga Kyiv bernama Nina Kimova, 55 tahun. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.