Sekrup Archimedes, Teknologi Kuno yang Tetap Digunakan hingga Kini
Rabu, 09 Sep 2026, 07:13 WIBJAUH sebelum manusia mengenal pompa listrik, mesin hidrolik, dan sistem pengolahan air otomatis, persoalan memindahkan air dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi sudah menjadi tantangan penting bagi peradaban kuno.
Pada zaman itu pertanian membutuhkan air dalam jumlah besar. Kota-kota yang berkembang membutuhkan sistem pengelolaan air. Tambang membutuhkan cara untuk mengeluarkan air dari lubang yang semakin dalam.
Untuk menjawab persoalan tersebut, manusia menciptakan berbagai perangkat mekanis. Salah satu yang paling menarik adalah sekrup Archimedes atau Archimedean screw, yang bahkan masih digunakan sampai hari ini.
Bentuknya relatif sederhana. Sebuah bilah berbentuk spiral mengelilingi poros yang dipasang miring. Ketika poros diputar, air atau material yang berada di antara lilitan spiral terdorong secara bertahap menuju tempat yang lebih tinggi.
Meskipun konsepnya telah dikenal sejak zaman kuno, prinsip tersebut tidak berhenti menjadi artefak sejarah. Hingga sekarang, mekanisme sekrup Archimedes masih digunakan dalam berbagai bidang, termasuk irigasi, pengelolaan air limbah, pemindahan material, dan pembangkit listrik tenaga air skala kecil.
Perjalanan teknologi ini menjadi contoh bagaimana sebuah gagasan mekanis yang sederhana dapat bertahan selama ribuan tahun karena mampu menjawab persoalan yang tetap relevan bagi manusia sampai sekarang.
Teknologi dari Zaman Archimedes
Sekrup Archimedes secara tradisional dikaitkan dengan Archimedes, ilmuwan dan matematikawan Yunani yang hidup sekitar abad ke-3 sebelum Masehi. Archimedes dikenal karena kontribusinya terhadap matematika, fisika, hidrostatika, dan mekanika. Namanya kemudian diabadikan dalam berbagai prinsip ilmiah, termasuk prinsip Archimedes mengenai gaya apung.
Namun, sejarah sekrup Archimedes tidak sepenuhnya jelas. Perangkat pengangkat air dengan mekanisme spiral kemungkinan memiliki sejarah yang lebih panjang daripada kehidupan Archimedes. Karena catatan sejarah dari dunia kuno sangat terbatas, sulit memastikan dengan mutlak siapa orang pertama yang menciptakan mekanisme tersebut.
Salah satu kisah yang paling terkenal menyebutkan bahwa Archimedes mengembangkan perangkat tersebut ketika berada di Mesir. Teknologi itu kemudian digunakan untuk membantu mengangkat air, terutama dalam kegiatan yang berkaitan dengan irigasi.
Mesir merupakan tempat yang sangat masuk akal untuk perkembangan teknologi semacam itu. Kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Nil sangat bergantung pada pengelolaan air. Air sungai harus dialirkan ke lahan pertanian, sementara perubahan ketinggian permukaan tanah membuat sistem pengangkatan air menjadi penting.
Di Mesir mekanisme spiral menawarkan solusi yang relatif sederhana. Alih-alih mengangkat air dalam satu wadah secara berulang-ulang, sekrup memungkinkan air bergerak terus-menerus selama poros diputar.
Prinsip Sederhana
Cara kerja sekrup Archimedes sebenarnya dapat dipahami dengan mudah. Bayangkan sebuah bidang spiral yang mengelilingi poros seperti ulir pada sekrup berukuran sangat besar. Poros tersebut ditempatkan miring dengan bagian bawah berada di dalam air.
Ketika poros diputar, bagian spiral akan membentuk sejumlah ruang di antara bilah dan dinding tabung atau saluran. Air masuk ke ruang tersebut di bagian bawah. Putaran berikutnya membuat air bergerak mengikuti lintasan spiral ke atas.
Proses tersebut berlangsung berulang kali. Setiap bagian spiral membawa sejumlah air dari satu tingkat ke tingkat berikutnya hingga akhirnya air keluar di bagian atas. Dengan kata lain, sekrup Archimedes mengubah gerakan rotasi menjadi perpindahan fluida secara bertahap. Sumber tenaga untuk memutar poros pada masa lalu dapat berupa tenaga manusia atau hewan. Dalam sistem modern, poros biasanya digerakkan oleh motor listrik.
Menariknya, mekanisme tersebut juga dapat bekerja dalam arah sebaliknya. Jika air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah melalui sekrup, aliran air dapat memutar spiral dan porosnya. Putaran tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan energi mekanik. Prinsip inilah yang menjadi dasar turbin sekrup Archimedes.
Kemiringan merupakan bagian penting dari desain sekrup Archimedes. Poros tidak dipasang secara vertikal, melainkan pada sudut tertentu terhadap permukaan tanah. Kemiringan memungkinkan ruang yang terbentuk oleh spiral membawa air dari elevasi rendah menuju elevasi yang lebih tinggi.
Dalam praktiknya, desain sekrup harus mempertimbangkan sejumlah faktor, antara lain diameter sekrup, panjangnya, jarak antarlilitan atau pitch, sudut kemiringan, kecepatan rotasi, volume air, serta perbedaan ketinggian yang harus diatasi.
Mengangkat Air hingga Mengangkut Material
Salah satu kelebihan konsep sekrup adalah kemampuannya tidak hanya memindahkan cairan. Prinsip serupa digunakan dalam berbagai jenis screw conveyor, yaitu alat yang memanfaatkan ulir berputar untuk memindahkan material. Dalam industri, mekanisme tersebut dapat digunakan untuk memindahkan biji-bijian, tepung, serpihan kayu, pasir, lumpur, limbah, dan material lainnya.
Pada sistem tertentu, material dimasukkan ke bagian bawah atau salah satu ujung sekrup. Ketika poros berputar, bilah spiral mendorong material sepanjang saluran hingga mencapai titik keluaran. Teknologi ini memiliki keuntungan karena konstruksinya relatif sederhana dan dapat dibuat dalam berbagai ukuran.
Dalam pengolahan limbah, misalnya, material yang memiliki kandungan air tinggi dan tekstur tidak seragam dapat menjadi tantangan bagi sebagian sistem pemindahan material. Mekanisme sekrup dapat menjadi salah satu solusi karena material tidak harus dipindahkan menggunakan aliran air bertekanan tinggi.
Pengolahan Air Limbah
Salah satu penggunaan modern yang menarik terdapat pada instalasi pengolahan air limbah. Air limbah sering kali perlu dinaikkan dari satu elevasi ke elevasi lainnya sebelum menjalani tahap pengolahan berikutnya. Pada kondisi tertentu, sekrup Archimedes dapat digunakan sebagai pompa pengangkat.
Sistem itu dapat beroperasi dengan kecepatan rendah dan mampu menangani air yang mengandung berbagai material padat. Karakteristik ini membuatnya menarik untuk aplikasi air limbah, karena fluida yang dipindahkan bukanlah air bersih. Air limbah dapat mengandung padatan tersuspensi, serat, lumpur, dan material lainnya.
Sekrup Archimedes sebagai Turbin
Perkembangan paling menarik dari teknologi ini terjadi ketika prinsip kerja sekrup dibalik. Jika pada awalnya sekrup digunakan untuk mengangkat air, dalam aplikasi pembangkit listrik air justru digunakan untuk memutar sekrup.
Air dari elevasi lebih tinggi diarahkan menuju bagian atas sekrup. Karena gaya gravitasi, air bergerak turun melalui ruang-ruang di antara bilah spiral. Aliran air memberikan gaya pada bilah dan menyebabkan sekrup berputar.
Poros yang berputar kemudian dihubungkan dengan generator. Energi mekanik dari putaran tersebut diubah menjadi energi listrik. Teknologi ini dikenal sebagai Archimedes screw turbine atau turbin sekrup Archimedes. hay
- Sekrup Archimedes
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.