Peluang Investasi EBT Terbuka, Aturan Jangan Menghambat

Rabu, 09 Sep 2026, 00:00 WIB

JAKARTA – Target pemerintah mengembangkan kapasitas energi baru terbarukan (EBT) hingga 100 gigawatt (GW) perlu diikuti regulasi yang lebih adaptif terhadap tingginya permintaan industri dan dukungan pembiayaan. Hal itu dimaksudkan agar peluang investasi energi bersih dapat direalisasikan.

Chief Executive Officer SUN Energy Emmanuel Jefferson menilai permintaan terhadap pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Namun, tingginya minat tersebut belum sepenuhnya dapat diakomodasi karena keterbatasan regulasi, termasuk kuota Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap.

Ket. Foto: Transisi Energi - Regulasi Jadi Penentu Ambisi EBT 100 GW — Sumber: antara

"Jadi antrean orang pengen pakai atap itu lebih tinggi daripada kuota yang tersedia, bagaimana regulasi beradaptasi untuk mengakomodir demandnya, jadi itu regulasi bagaimana memfasilitasi dan termasuk juga insentif," kata Jefferson di Jakarta, Selasa (8/9).

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan perlu terus menyesuaikan diri dengan perkembangan permintaan di sektor industri. Bahkan, pengembang kerap harus meminta calon pelanggan menunggu hingga siklus kuota berikutnya, sementara sebagian perusahaan telah mendapatkan target penggunaan energi bersih dari kantor pusatnya di luar negeri.

Dia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan dalam mengejar target pengembangan EBT karena permintaan dari sektor swasta sebenarnya sudah terbentuk. Karena itu, target kapasitas energi bersih perlu diterjemahkan melalui kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi partisipasi swasta.

Selain regulasi, insentif dinilai masih diperlukan untuk mendorong elektrifikasi di sektor-sektor yang selama ini bergantung pada energi fosil. Salah satunya industri pertambangan yang ingin mengalihkan kendaraan operasional berbahan bakar diesel ke kendaraan listrik.

"Kalau industri pertambangan mau ganti mobil dari diesel ke listrik, belum ada insentifnya. Jadi buat mereka juga belum cukup dorongannya, bisa didorong lagi,” ujarnya.

Di sisi pembiayaan, SUN Energy melihat minat investor internasional terhadap proyek energi terbarukan di Indonesia sebenarnya cukup besar. Perusahaan mengaku bertemu dengan calon investor dari Tiongkok, Timur Tengah, Amerika Serikat, Eropa dan berbagai wilayah lainnya.

“Namun, tantangannya adalah memastikan proyek yang tersedia memiliki tingkat keekonomian dan struktur risiko yang membuatnya layak dibiayai,” ungkapnya.

Persoalan tersebut semakin kompleks ketika suku bunga meningkat dan nilai tukar rupiah mengalami depresiasi. Kondisi itu dapat meningkatkan biaya modal proyek dan membuat proyek yang sebelumnya dinilai layak secara finansial menjadi kurang menarik.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.