OJK Sentil Bank Digital: Tanpa Ekosistem, Bisnis Sulit Berkelanjutan
Rabu, 09 Sep 2026, 20:55 WIBJAKARTA â Bisnis bank digital terus berkembang seiring perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan layanan keuangan berbasis teknologi.
Persaingan tidak lagi hanya soal kemudahan membuka rekening dan bertransaksi, tetapi juga kemampuan bank digital menawarkan layanan yang cepat, aman, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan nasabah.
Di tengah pertumbuhan ekonomi digital, tantangan terbesar adalah menjaga kepercayaan pengguna sekaligus memastikan pertumbuhan bisnis tetap sehat dan berkelanjutan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang bank digital perlu membangun keunggulan ekosistem yang dimilikinya menjadi model bisnis yang tumbuh secara berkelanjutan dan tidak hanya bergantung kepada dukungan afiliasi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam acara BIG Financial Insights di Jakarta, Rabu (9/9), menyampaikan pihaknya telah mencermati bahwa model bisnis bank digital sangat dekat dengan ekosistem digital.
Kolaborasi dengan perusahaan teknologi, e-commerce, e-wallet, dan fintech maupun institusi lainnya dapat memberikan kemudahan distribusi layanan, kemudian memperluas jangkauan pasar, serta mempercepat inovasi.
âNamun, keunggulan ekosistem tersebut perlu dibangun menjadi model bisnis yang mampu tumbuh secara berkelanjutan dan tidak semata-mata bergantung kepada dukungan afiliasi,â kata Dian.
Adapun transformasi digital perbankan telah menjadi salah satu agenda strategis OJK melalui pilar kedua dari Roadmap Pengembangan Perbankan Indonesia 2020-2025 (RP2I). Kemudian pada 2021, OJK juga telah menerbitkan Cetak Biru Transformasi Digital Perbankan sebagai pengejawantahan lebih lanjut dari pilar kedua RP2I.
Sebagai bentuk dukungan lebih lanjut atas Roadmap dan Cetak Biru tersebut, OJK menerbitkan berbagai ketentuan terkait dengan digitalisasi perbankan, salah satunya POJK Nomor 12 Tahun 2021 tentang Bank Umum yang memberikan kerangka bagi penyelenggaraan bank digital dan transformasi model bisnis perbankan berbasis digital.
âLima tahun setelahnya, fokus kita perlu bergeser dari sekadar akselerasi digitalisasi menuju pembentukan model bisnis digital yang berkelanjutan, inklusif, dan resilien,â kata Dian.
Sejak POJK Bank Umum diterbitkan pada tahun 2021 sampai dengan saat ini, telah terdapat beberapa bank digital yang didirikan melalui empat skema, salah satunya skema akuisisi bank kecil oleh bank umum KBMI 4 dan 3 untuk selanjutnya ditransformasi sebagai bank digital.
Skema kedua adalah masuknya investor strategis sebagai pemegang saham pengendali dari suatu bank yang kemudian melakukan transformasi terhadap bank tersebut menjadi bank digital.
Kemudian, skema ketiga adalah akuisisi bank oleh perusahaan teknologi atau fintech yang kemudian melakukan transformasi terhadap bank tersebut menjadi bank digital. Sementara skema yang keempat yaitu rebranding atau transformasi secara mandiri oleh bank menjadi bank digital.
Dian menyampaikan, terdapat tiga kunci arah pengembangan bank digital ke depan yaitu sustainable, inklusif, dan trusted.
Mengenai sustainable, Dian menekankan bahwa inovasi digital di sektor perbankan perlu senantiasa didukung karena teknologi informasi akan semakin mempengaruhi interaksi masyarakat dan bisnis di masa depan.
Dalam hal ini, perbankan harus bisa beradaptasi dengan perubahan interaksi sosial dan bisnis agar tetap relevan dalam memberikan solusi keuangan.
âBank digital mungkin akan menjadi jembatan yang mengantarkan kita pada bentuk baru industri perbankan di masa yang akan datang,â kata dia.
Terkait dengan inklusif, Dian berharap bahwa model bisnis bank digital bukan sekedar gimmick belaka, tetapi memang betul-betul memanfaatkan momentum era digital.
Menurutnya, bank digital harus memiliki pembeda yang dapat memberikan competitive advantage dibandingkan dengan bank pada umumnya.
Untuk itu, tegas Dian, bank digital tidak bisa hanya bersaing pada produk atau layanan yang sudah ada, melainkan harus mampu menemukan skema-skema produk baru yang dapat menjangkau segmen nasabah yang selama ini belum terlayani secara optimal.
âDengan demikian, kehadiran bank digital akan memperkaya layanan perbankan di Indonesia dan berperan dalam memperdalam pasar keuangan,â kata Dian.
Sementara terkait dengan trusted, Dian mengingatkan bahwa tantangan bank digital ke depan akan semakin besar.
Peningkatan ancaman siber dan perkembangan emerging technology sangat berpengaruh terhadap kelangsungan bisnis bank digital yang hampir sepenuhnya mengandalkan platform aplikasi dalam memberikan layanan kepada nasabah.
âKarena pada akhirnya kepercayaan masyarakat merupakan hal yang utama bagi industri perbankan. Oleh karena itu, bank digital diharapkan dapat terus meningkatkan resiliensi digitalnya untuk tetap mempertahankan kepercayaan dari nasabah dan masyarakat,â kata Dian.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Lens Tantang Dominasi PSG di Final Trophée des Champions
-
Dukung Bulan Literasi Keuangan OJK 2026, CIMB Niaga Edukasi Pelajar Lewat Tour de Bank
-
Sulap Pasar Jadi Lautan Merah Putih, Strategi Pedagang Godean Bikin Pembeli Berdatangan!
-
Hutan Papua Barat Terancam Eksploitasi, Gerakan Lintas Iman Dorong Perlindungan Berkelanjutan
-
Cermati Protect Perkuat Kepercayaan Nasabah Lewat Layanan Asuransi Kendaraan Digital
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.