Indonesia Jadi Incaran Investasi Data Center, ESI Ingatkan Soal Listrik dan Energi Bersih
Rabu, 30 Sep 2026, 06:00 WIBJakarta - Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna menilai Indonesia menjanjikan sebagai tujuan investasi pusat data (data center) melalui dukungan insentif yang kompetitif, pasokan listrik andal, serta transisi energi yang dilakukan secara bertahap.
Menurut Putra, pemerintah dapat memperkuat daya tarik investasi pusat data dengan merancang insentif yang tetap mengedepankan nilai tambah domestik sehingga manfaat ekonomi dari investasi tersebut lebih besar dirasakan Indonesia.
"Indonesia negara menjanjikan untuk pasar DC (data center), tetapi insentif harus berpijak pada unsur keadilan nilai tambah dalam negeri dan transisi yang lebih hijau, termasuk dalam sumber energinya," kata Putra di Jakarta, Selasa (29/9).
Pernyataan tersebut disampaikan Putra merespons tawaran Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kepada investor untuk memanfaatkan pulau-pulau di Indonesia sebagai lokasi pembangunan pusat data.
Putra mendorong agar pemberian insentif tidak hanya didasarkan pada besarnya nilai investasi, tetapi juga dikaitkan dengan kontribusi terhadap penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Menurut dia, industri pusat data menciptakan lapangan kerja permanen yang relatif terbatas, yakni sekitar 15 pegawai untuk setiap investasi senilai 100 juta dolar AS. Oleh karena itu, manfaat ekonomi dari investasi pusat data perlu diukur secara lebih menyeluruh.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memastikan setiap pemberian insentif didasarkan pada bukti kontribusi terhadap perekonomian nasional agar kebijakan tersebut tetap adil dan efektif.
Di sisi lain, Putra mengatakan investor pusat data memiliki kebutuhan yang beragam, mulai dari harga listrik yang kompetitif hingga ketersediaan energi bersih untuk mendukung operasional dalam jangka panjang.
Namun, keandalan pasokan listrik tetap menjadi salah satu pertimbangan utama investor. Untuk itu, PT PLN (Persero) perlu memastikan sistem kelistrikan mampu memenuhi pertumbuhan kebutuhan pusat data tanpa mengganggu layanan bagi masyarakat maupun sektor industri lainnya.
Putra juga mendorong pemerintah mengarahkan pengembangan pusat data menuju penggunaan energi hijau secara bertahap, misalnya melalui target pemanfaatan energi bersih sebesar 30 persen, kemudian meningkat menjadi 50 persen hingga 70 persen.
Menurut dia, pendekatan bertahap tersebut lebih realistis dibandingkan langsung mewajibkan penggunaan 100 persen energi bersih. Selain mendorong transisi energi, skema itu juga memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk berinvestasi.
"Dengan cara itu maka pelaku usaha diberikan sebuah dorongan yang lebih terukur dan data center tidak menjadi alasan untuk ekspansi PLTU dan justru menghambat transisi bersih," tuturnya.
Ia menambahkan kombinasi insentif yang dikaitkan dengan nilai tambah domestik, pasokan listrik yang andal, serta peningkatan penggunaan energi bersih dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi pusat data yang kompetitif dan berkelanjutan.
Kebutuhan Listrik
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menawarkan kepada investor untuk memanfaatkan pulau-pulau di Indonesia sebagai lokasi pembangunan pusat data.
"Bapak-ibu semua, tidak perlu ragu para investor kalau membangun data center di Indonesia. Wilayah kami ini wilayah yang terbesar di kawasan Asia Tenggara, pulau kami masih terlalu banyak," ujar Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 di Tangerang, Banten, Selasa (22/9).
Selain wilayah yang luas, Bahlil mengatakan Indonesia memiliki potensi energi yang besar untuk mendukung operasional pusat data, antara lain energi matahari, air, panas bumi, dan angin.
Ia juga menyebut biaya produksi listrik di Indonesia dapat lebih kompetitif dibandingkan negara lain serta menjanjikan kemudahan bagi investor.
"Kami akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi bapak-ibu semua," ucap Bahlil di hadapan peserta Electricity Connect 2026.
Bahlil juga memastikan tidak ada permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan listrik untuk pusat data, mengingat kepastian pasokan menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan infrastruktur tersebut.
Sementara itu, PT PLN (Persero) mencatat konsumsi energi 159 pelanggan pusat data yang dilayani perusahaan mencapai 2.378 gigawatt hour (GWh).
"Meningkatnya kebutuhan listrik dalam ekosistem data center menunjukkan semakin pentingnya infrastruktur energi bagi pertumbuhan ekonomi digital," kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam keterangannya yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta, Sabtu.
Darmawan mengatakan pertumbuhan pusat data membutuhkan dukungan kelistrikan dengan karakteristik yang semakin spesifik, terutama dari sisi kapasitas, keandalan, kualitas daya, hingga pemanfaatan energi bersih.
Kondisi tersebut mendorong PLN menyiapkan infrastruktur dan layanan yang selaras dengan kebutuhan serta rencana pengembangan pelanggan.
Darmawan menyampaikan PLN akan terus memperkuat infrastruktur ketenagalistrikan untuk mendukung pertumbuhan sektor pusat data di Indonesia seiring dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital.
"PLN ingin pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan dapat berjalan seiring dengan perkembangan sektor digital, dengan perencanaan yang dilakukan lebih awal agar kebutuhan energi dapat diantisipasi dan investasi dapat berkembang secara berkelanjutan," ujar Darmawan.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.