• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Erupsi Anak Krakatau Jadi ...

Erupsi Anak Krakatau Jadi Pengingat Pentingnya Mitigasi dan Kesiapan Evakuasi Darurat

Rabu, 09 Sep 2026, 18:12 WIB

JAKARTA — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, termasuk bagi perusahaan yang menjalankan kegiatan operasional di wilayah dengan potensi risiko bencana.

Bencana alam tidak hanya mengancam keselamatan manusia, tetapi juga dapat mengganggu fasilitas, mobilitas pekerja, rantai operasional, hingga keberlangsungan bisnis. Karena itu, kesiapan menghadapi kondisi darurat perlu dibangun sebelum ancaman berkembang menjadi situasi yang sulit dikendalikan.

Ket. Foto: Ilustrasi pertolongan korban bencana erupsi gunung berapi. Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Siaga menjadi pengingat pentingnya mitigasi, kesiapan evakuasi, dan Emergency Response Team bagi perusahaan. — Sumber: Nawakara

Berdasarkan analisis dan evaluasi Badan Geologi hingga 7 September 2026, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Episode erupsi yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir, tetapi aktivitas vulkanik masih terus dipantau. Tingkat kegempaan yang masih tinggi menunjukkan potensi terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan tetap perlu diwaspadai.

Sejumlah potensi bahaya yang menyertai aktivitas vulkanik antara antara lain awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki juga direkomendasikan untuk tidak memasuki maupun melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana tidak dapat dilakukan hanya setelah keadaan darurat terjadi. Perusahaan yang berada di kawasan dengan paparan risiko bencana perlu memiliki sistem tanggap darurat yang jelas, mulai dari prosedur evakuasi, jalur komunikasi, personel terlatih, hingga mekanisme pengambilan keputusan.

Security Response Department Head PT Nawakara Perkasa Nusantara, Panji Baskoro, mengatakan tahap mitigasi diperlukan untuk menekan risiko sebelum kondisi darurat berkembang menjadi situasi yang lebih besar.

“Dalam kondisi darurat, beberapa menit pertama sangat menentukan. Karena itu, perusahaan harus mengetahui risiko yang dihadapi, siapa yang mengambil keputusan, bagaimana informasi disampaikan, ke mana pekerja harus bergerak, serta bagaimana proses evakuasi dilakukan secara aman,” ujar Panji dalam keterangannya pada hari Rabu (9/9).

Menurut dia, keberadaan Emergency Response Team (ERT) menjadi salah satu unsur penting dalam memastikan respons terhadap keadaan darurat berlangsung secara terstruktur dan terkoordinasi.

Mitigasi Dimulai dari Pemetaan Risiko

Kesiapsiagaan idealnya dimulai dengan melakukan risk assessment terhadap lokasi kerja serta berbagai ancaman yang mungkin muncul di sekitarnya.

Dari pemetaan tersebut, perusahaan dapat menyusun Emergency Response Plan yang mencakup skenario keadaan darurat, pembagian tanggung jawab, jalur evakuasi, titik kumpul atau assembly point, hingga mekanisme komunikasi.

Kesiapan juga perlu didukung sistem peringatan dini, perlengkapan pertolongan pertama, masker dan alat pelindung diri, serta daftar pekerja yang memungkinkan dilakukan pendataan secara cepat ketika evakuasi berlangsung.

Pendataan pekerja menjadi aspek penting karena dalam kondisi darurat perusahaan perlu mengetahui siapa saja yang berada di lokasi dan memastikan seluruh personel telah mencapai tempat aman.

Kelompok yang membutuhkan bantuan khusus juga perlu diidentifikasi sejak awal sehingga dapat memperoleh prioritas dan pendampingan ketika proses evakuasi dilakukan.

Dalam menghadapi paparan abu vulkanik, perusahaan juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan maupun fasilitas. Aktivitas di luar ruangan dapat dibatasi dan penggunaan masker perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.

Abu vulkanik juga dapat mengganggu kendaraan, mesin, sistem ventilasi, dan perangkat elektronik. Dampak tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kelancaran operasional apabila tidak diantisipasi dalam rencana kesiapsiagaan.

Di sisi lain, setiap keputusan terkait aktivitas operasional maupun evakuasi perlu didasarkan pada informasi yang terverifikasi. Perusahaan dan masyarakat diimbau mengacu pada informasi dari otoritas resmi, bukan informasi yang belum diketahui sumber maupun kebenarannya.

Evakuasi Membutuhkan Komando dan Pendataan

Ketika situasi dinilai membutuhkan evakuasi, prosedur tanggap darurat harus segera diaktifkan. ERT melakukan verifikasi terhadap ancaman, berkoordinasi dengan manajemen dan otoritas terkait, kemudian menyampaikan instruksi melalui sistem komunikasi darurat yang telah ditentukan.

Pekerja selanjutnya diarahkan menuju assembly point atau lokasi aman melalui jalur evakuasi yang telah ditetapkan. Dalam proses tersebut, pekerja yang membutuhkan bantuan khusus menjadi salah satu prioritas.

Apabila kondisi memungkinkan, penyisiran area dapat dilakukan untuk memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal. Setelah seluruh pekerja tiba di titik kumpul, dilakukan head count atau pendataan personel.

Jika terdapat personel yang belum teridentifikasi, informasi tersebut harus segera diteruskan kepada tim terkait untuk ditindaklanjuti. Namun, proses pencarian tetap harus memperhitungkan kondisi lapangan dan keselamatan petugas agar tidak menimbulkan korban tambahan.

ERT juga memiliki peran dalam memberikan pertolongan pertama dan melakukan triase awal apabila terdapat korban. Bila diperlukan, koordinasi dapat dilakukan dengan fasilitas kesehatan, pemadam kebakaran, BPBD, aparat keamanan, maupun instansi terkait.

Pekerja yang telah dievakuasi perlu tetap berada di lokasi aman sampai terdapat informasi resmi mengenai perkembangan situasi. Keputusan untuk kembali ke tempat kerja atau melakukan relokasi harus mempertimbangkan penilaian risiko dan arahan otoritas.

“Evakuasi bukan sekadar memindahkan orang dari satu lokasi ke lokasi lain. Harus ada komando, jalur yang aman, komunikasi, pendataan personel, penanganan korban, hingga koordinasi dengan pihak eksternal,” kata Panji.

Karena itu, menurut dia, prosedur tanggap darurat perlu diuji melalui emergency drill secara berkala. Latihan memungkinkan pekerja dan tim respons memahami peran masing-masing sehingga tidak terjadi kebingungan ketika keadaan darurat yang sebenarnya terjadi.

ERT sebagai Bagian dari Kesiapsiagaan Perusahaan

Kesiapan menghadapi bencana juga membutuhkan pembentukan sistem respons yang dapat beradaptasi dengan berbagai skenario. Melalui layanan Emergency Response Teams (ERT), Nawakara menyatakan mendukung perusahaan dalam melakukan identifikasi dan asesmen risiko, menyusun Emergency Response Plan, mempersiapkan personel respons, menjalankan simulasi dan emergency drill, serta memberikan dukungan dalam evakuasi dan penanganan awal insiden.

Tim respons juga dapat berperan dalam koordinasi di lapangan ketika perusahaan harus berhadapan dengan kondisi yang membutuhkan keterlibatan sejumlah pihak eksternal.

Keberadaan sistem tersebut tidak hanya relevan untuk menghadapi bencana alam seperti erupsi gunung api, tetapi juga dapat diterapkan untuk berbagai keadaan darurat lain, termasuk kebakaran, kecelakaan kerja, dan insiden yang berpotensi mengganggu keselamatan pekerja maupun operasional perusahaan.

“Emergency response yang efektif selalu dimulai jauh sebelum keadaan darurat terjadi. Semakin baik mitigasi, latihan, dan koordinasi yang dibangun, semakin besar kemampuan perusahaan untuk melindungi pekerja, aset, serta menjaga keberlangsungan operasionalnya,” ujar Panji.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berada pada tingkat Siaga menjadi pengingat bahwa kesiapan menghadapi bencana merupakan proses yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

Perusahaan perlu memastikan rencana tanggap darurat tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi benar-benar dipahami pekerja dan diuji melalui latihan. Dengan demikian, ketika kondisi darurat terjadi, proses pengambilan keputusan, komunikasi, evakuasi, dan pendataan dapat dilakukan secara lebih cepat dan terkoordinasi.

Nawakara juga mengimbau perusahaan dan masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta rekomendasi resmi dari Badan Geologi/PVMBG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah.

Masyarakat yang terdampak abu vulkanik disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker, sekaligus mengikuti arahan petugas. Informasi mengenai perkembangan erupsi juga perlu diperoleh dari sumber resmi untuk mencegah penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.