Mengapa Erupsi Anak Krakatau Bisa Terdengar sampai Bandung? Ini Penjelasan Daryono
Sabtu, 05 Sep 2026, 18:45 WIBBandung - Pakar gempa dan tsunami sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menganalisis suara dentuman yang terdengar di wilayah Bandung Raya pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari diduga berkaitan dengan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau.
Menurut Daryono, dentuman tersebut bukan disebabkan oleh gelombang gempa yang merambat melalui tanah dari Gunung Anak Krakatau, melainkan kemungkinan berasal dari gelombang tekanan atmosfer berfrekuensi sangat rendah atau infrasound yang dihasilkan oleh energi erupsi.
Saat erupsi berlangsung, energi termal dan mekanis dapat menghasilkan gelombang tekanan yang merambat melalui atmosfer. Gelombang tersebut dapat bergerak melalui lapisan troposfer dan stratosfer dengan redaman yang relatif kecil karena kondisi atmosfer tertentu yang berfungsi sebagai atmospheric waveguide atau saluran gelombang atmosferik.
Ketika mencapai wilayah Bandung, gelombang tekanan tersebut diduga dapat memicu resonansi mekanis pada struktur ringan, seperti kaca jendela dan pintu rumah. Kondisi topografi Cekungan Bandung juga diduga dapat memperkuat efek tekanan secara lokal.
"Kecocokan waktu turut memperkuat dugaan tersebut. Gunung Anak Krakatau mulai mengalami erupsi menerus pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB, sementara laporan dentuman di Bandung Raya mulai muncul sekitar pukul 23.30 WIB hingga dini hari," katanya.
Dengan demikian, mekanismenya dapat digambarkan sebagai erupsi Anak Krakatau menghasilkan energi â terbentuk gelombang infrasound â gelombang merambat melalui atmosfer â mencapai Bandung â menimbulkan suara dentuman dan getaran pada struktur ringan.
Fenomena tersebut tidak berarti terjadi gempa di Bandung yang bersumber dari Anak Krakatau. Penjelasan Daryono mengarah pada mekanisme rambatan gelombang tekanan melalui atmosfer, bukan propagasi gelombang seismik melalui tanah.
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga dan mengalami erupsi menerus pada Sabtu (5/9). Aktivitas tersebut disertai fenomena pancaran lava (lava fountain) serta suara dentuman dan gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau di Pasauran.
Masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi dan rekomendasi resmi PVMBG serta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.