• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Pontianak Biennale 2026 Pe...

Pontianak Biennale 2026 Pertemukan Seniman Lokal dan Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026, 16:53 WIB

PONTIANAK -- Wali Kota Pontianak, Kalimantan Barat Edi Rusdi Kamtono menyambut baik penyelenggaraan Pontianak Biennale 2026 yang mempertemukan seniman lokal, nasional, hingga mancanegara.

“Ini bentuk sinergi seniman yang tidak hanya dari Pontianak dan Kalimantan Barat, tetapi juga dari Pulau Jawa bahkan mancanegara, seperti Singapura, Kroasia, Malaysia, dan Brunei,” ujarnya di Pontianak, Sabtu.

Ket. Foto: Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat mengunjungi pameran Pontianak Biennale 2026 di Port 99, Jumat (25/9) malam. — Sumber: ANTARA/Dedi

Menurutnya, kegiatan Pontianak Biennale 2026 di Port 99 tersebut menunjukkan bahwa ekosistem seni di Pontianak mampu terhubung dengan jejaring yang lebih luas sekaligus menghadirkan gagasan-gagasan penting tentang alam, kota, dan kehidupan masyarakat.

Pontianak Biennale 2026 mengusung tema “Arus Pertemuan dan Gelombang” dan untuk pertama kalinya digelar secara urundaya dan swakelola dengan melibatkan berbagai institusi, lembaga, organisasi, kolektif, komunitas, serta individu. Biennale dirancang sebagai ruang pertemuan gagasan dan praktik artistik sekaligus memperkuat jejaring pelaku seni dari tingkat lokal hingga global.

Ia menilai, karya-karya yang ditampilkan terasa relevan dengan kondisi Pontianak dan Kalimantan Barat saat ini, terutama terkait lingkungan, sungai, dan kebakaran lahan.

“Di tengah kondisi bencana asap, kita tidak berhenti berkreasi dan berinovasi. Para seniman juga menyampaikan perasaannya terhadap alam. Banyak karya berbicara tentang sungai, kebakaran lahan, dan bagaimana kita perlu menjaga keseimbangan hidup,” katanya.

Menurutnya, seni memiliki kemampuan menyampaikan pesan yang panjang melalui visual, bunyi, instalasi, maupun karya tiga dimensi. Ia menilai sejumlah karya yang menggambarkan suara alam, Sungai Kapuas sebagai nadi kehidupan, hingga hubungan masyarakat dengan hutan memberi pengalaman yang kuat bagi pengunjung.

“Semua tampilannya, baik video visual, sculpture maupun lukisan, menggambarkan sesuatu yang menginspirasi. Ini bukan sesuatu yang biasa kita lihat di ruang umum,” ujarnya.

Pontianak Biennale tahun ini menghadirkan 41 seniman lokal, nasional, dan internasional. Sebanyak 22 di antaranya merepresentasikan Pontianak, Kalimantan dan Borneo, empat berasal dari luar Kalimantan, sementara 12 seniman internasional berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong, Inggris, India, Belanda, Kroasia, San Marino, Jepang, Vietnam dan Thailand.

Sementara itu, perwakilan Pontianak Biennale 2026 Gusti Enda mengatakan, tema “Arus Pertemuan dan Gelombang” dipilih untuk merepresentasikan posisi Pontianak dan Kalimantan Barat sebagai titik temu berbagai arus peradaban, budaya, migrasi, dan niaga. Sungai ditempatkan sebagai metafora yang sejak lama menjadi jalur pertemuan manusia, kebudayaan, pengetahuan dan peradaban.

Penyelenggaraan berlangsung selama satu bulan, 25 September hingga 25 Oktober 2026, dengan pameran dan berbagai program publik. Selain Port 99, aktivitas juga tersebar di Pasar Tradisional Purnama, SD Negeri 14, Tempias Kopi Banjar Serasan, ruang konferensi, hingga ruang komunal lainnya. Rangkaian program tidak hanya berupa pameran seni rupa kontemporer, tetapi juga konferensi dan forum, Dapok Warge, Beranda Sinema, tur budaya dan sejarah “Pontianak Punye Cerite”, Bukumpul Library, hingga Kids Corner.

“Kami ingin Pontianak Biennale menjadi ruang yang terus tumbuh, membuka dialog, dan mempertemukan banyak pihak. Dari pertemuan-pertemuan itu, mudah-mudahan muncul gelombang baru bagi perkembangan seni dan kebudayaan di Pontianak,” kata dia.

  • Pontianak Biennale 2026

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.