Krisis Pendidikan Dunia Makin Serius, Rektor UNIDA Gontor Tawarkan Model Pesantren

Sabtu, 05 Sep 2026, 14:52 WIB

Jakarta - Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor KH Hamid Fahmy Zarkasyi mengatakan sistem pendidikan pesantren yang telah berakar selama berabad-abad di Nusantara dapat menjadi jawaban atas krisis pendidikan holistik yang masih dihadapi Indonesia dan dunia.

Menurut Hamid, perkembangan pendidikan modern di Barat yang dipengaruhi sekularisasi sejak era Renaissance telah memisahkan ilmu pengetahuan dari nilai-nilai agama. Pendekatan yang terlalu menitikberatkan aspek kognitif untuk mendukung pertumbuhan industri, kata dia, turut memunculkan persoalan karakter dan keterampilan nonteknis (soft skill) pada peserta didik.

Ket. Foto: Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor KH Hamid Fahmy Zarkasyi (tiga dari kiri), Ketua MPR RI Ahmad Muzani (empat dari kiri) dalam pembukaan Global International Holistic Education Summit (GIHES) di Jakarta, Sabtu (5/9). — Sumber: Antara

"Banyak tokoh Barat seperti Pestalozzi, Fröbel, hingga John Dewey mencoba mengintegrasikan kepala, tangan, dan hati (head, heart, and hand). Namun, model pendidikan mereka gagal mengimbangi dominasi aspek kognitif. Sebaliknya, pesantren justru telah mempraktikkan konsep pendidikan kehidupan ini secara berkelanjutan (sustainable) selama ratusan tahun," kata Hamid dalam Global International Holistic Education Summit (GIHES) di Jakarta, Sabtu (5/9).

Ia menegaskan pendidikan holistik tidak cukup hanya diterapkan melalui teori di ruang kelas, tetapi harus dipraktikkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Hamid, salah satu keunggulan sistem pesantren terletak pada kemampuannya mengintegrasikan pendidikan formal, nonformal, dan informal dalam satu ekosistem kehidupan berasrama selama 24 jam.

"Model pendidikan holistik yang menyatukan peran sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam satu lingkungan ini tergolong unik di tingkat global karena hanya ditemukan di dunia Melayu (Nusantara) dan tidak dijumpai di negara-negara lain seperti Arab, India, maupun Pakistan," ujarnya.

Ia menilai pengalaman pesantren yang mampu bertahan dan berkembang secara mandiri selama lebih dari satu abad juga menjadi modal penting untuk memperkenalkan sistem tersebut ke tingkat internasional.

Hamid mendorong agar pendidikan pesantren diakui secara nasional sebagai salah satu sistem pendidikan asli Indonesia sekaligus ditawarkan sebagai alternatif model pendidikan kepada masyarakat dunia.

"Sistem pendidikan di pesantren benar-benar holistik dan dapat kita tawarkan kepada dunia internasional sebagai alternatif pendidikan manusia seutuhnya, demi menciptakan perdamaian global. Ini adalah hadiah Indonesia untuk dunia," tuturnya.

GIHES 2026 sendiri digelar pada 5-6 September di Jakarta sebagai forum internasional yang membahas masa depan pendidikan holistik dan sistem pendidikan pesantren. Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.