- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ditentang AS, PBB Adopsi R...
Ditentang AS, PBB Adopsi Resolusi 'Koreksi Peta Dunia', Benua Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar!
Sabtu, 05 Sep 2026, 09:47 WIBMajelis Umum PBB telah memberikan suara untuk mengganti peta dunia tradisional dengan peta yang lebih akurat yang mencerminkan ukuran benua Afrika.
BBC melaporkan, Resolusi "Koreksi Peta", yang disponsori oleh Togo dan didukung oleh anggota Uni Afrika (AU), disahkan dengan dukungan 164 negara, termasuk Prancis dan Inggris. Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang menentangnya, enam negara abstain.
Pemungutan suara PBB ini tidak mengikat, tetapi akan menghasilkan perubahan pada peta yang digunakan oleh lembaga-lembaga di seluruh dunia.
Peta Mercator, yang telah umum digunakan sejak abad ke-16, menuai kritik karena menunjukkan benua Afrika memiliki ukuran yang mirip dengan Greenland, padahal sebenarnya ukuran Afrika 14 kali lebih besar.
Para kritikus mengatakan hal ini menyebabkan kebutuhan dan potensi pembangunan negara-negara di dekat khatulistiwa menjadi diminimalkan.
Peta Mercator dirancang pada tahun 1569 oleh kartografer Flandria Gerardus Mercator untuk membantu para penjelajah Eropa bernavigasi di seluruh dunia.
Distorsi pada petanya merupakan akibat dari kenyataan bahwa tidak mungkin merepresentasikan permukaan bola dunia secara akurat pada peta dua dimensi.
Setiap kali peta dunia digambar, kompromi perlu dilakukan.
Peta Mercator menunjukkan kelengkungan Bumi dengan membuat negara-negara di dekat khatulistiwa tampak lebih kecil dari ukuran sebenarnya, sementara negara-negara yang lebih dekat ke kutub tampak lebih besar.
Dalam upaya untuk memperbaiki hal ini, sebuah tim kartografer pada tahun 2018 menciptakan peta area yang sama yang mereka sebut proyeksi Bumi yang Sama (Equal Earth projection).
Pada bulan Februari, 54 negara anggota AU mengadopsinya, dan mengatakan bahwa peta tersebut "lebih akurat menggambarkan ukuran semua benua, khususnya Afrika".
Kelompok kampanye daring #CorrectTheMap mengatakan: "Anda bisa memasukkan Amerika Serikat, Tiongkok, India, Jepang, Meksiko, dan sebagian besar Eropa ke dalam Afrika dan masih ada lahan yang tersisa."
Menjelang pemungutan suara hari Jumat (4/9), Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey mengatakan kepada kantor berita Reuters: "Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil."
Sebelumnya, ia mengatakan dalam sebuah pengarahan PBB: "Peta tidak pernah netral. Peta membentuk persepsi, mempengaruhi bagaimana posisi masyarakat dan benua di dunia dipahami."
Ia mendapat dukungan dari Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot, yang mengatakan bahwa kementeriannya akan berhenti menggunakan peta Mercator.
"Mengubah peta jelas tidak mengubah dunia. Tetapi mengoreksi representasi yang mendistorsinya sudah merupakan tindakan kebenaran," katanya.
Namun Yaryna Ferencevych, seorang perwakilan AS di PBB, mengatakan bahwa resolusi tersebut mengejek kerja dan tujuan Majelis Umum PBB.
"Alih-alih berfokus pada masalah nyata perdamaian internasional, kemakmuran, atau hubungan baik, badan ini malah memperdebatkan proyek peta dari abad ke-16, dan perannya dalam mempromosikan reparasi dan 'keadilan kognitif'," katanya.
Pada bulan Maret, AS juga menuai kritik ketika sebuah resolusi diadopsi yang menyatakan perdagangan budak translantik sebagai "kejahatan berat terhadap kemanusiaan".
"Kesalahan penggambaran Afrika pada peta dunia bukan hanya kesalahan kartografi - ini adalah masalah naratif," kata Lerato Mogoatlhe dari Africa No Filter, salah satu kelompok di balik kampanye untuk meninggalkan peta Mercator, kepada BBC.
Hal itu merupakan bagian dari upaya untuk menghentikan "misinformasi dan disinformasi terpanjang di dunia" tentang Afrika, katanya.
Bagi ahli geografi Kenya, Kioko Muendo, peta Mercator secara implisit telah meremehkan sumber daya, populasi, dan peluang investasi yang melimpah di benua Afrika.
"Peta bukan hanya sekadar panduan bagi para pelancong - peta membentuk bagaimana suatu wilayah dipandang secara politik dan ekonomi," katanya kepada BBC.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Lili Lestari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.