DPRD Kota Bandung Tegaskan Puskesmas Harus Bisa Wujudkan Pelayanan Kesehatan yang Cepat, Ramah, dan Berkualitas
Jumat, 04 Sep 2026, 01:30 WIBBANDUNG - Puskesmas menjadi salah satu garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Tak hanya hadir ketika warga sakit, puskesmas kini terus bertransformasi agar menjadi layanan kesehatan yang mudah diakses, ramah, profesional, serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam live streaming Radio Sonata pada Rabu (2/9), melalui Sonata Talkshow bertajuk âPuskesmas untuk Semua: Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang Cepat, Ramah, dan Berkualitasâ. Talkshow menghadirkan Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp.PD., KHOM., MMRS., FINASIM, serta Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bandung, dr. Ira Dewi Jani, MT.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Agung Firmansyah Sumantri, mengatakan kenyamanan dan kepercayaan masyarakat terhadap puskesmas salah satunya dibangun dari pengalaman ketika mendapatkan pelayanan. Menurut dia, masyarakat yang datang ke puskesmas berharap mendapatkan sambutan yang baik, pelayanan yang cepat, keluhan yang didengarkan, pemeriksaan secara profesional, hingga penjelasan mengenai kondisi kesehatan yang mudah dipahami.
âKepercayaan itu muncul dari pengalaman. Masyarakat tentu ingin datang ke puskesmas, disambut dengan baik, dilayani dengan cepat, didengarkan keluhannya, diperiksa secara profesional, dan mendapatkan penjelasan yang mudah dipahami,â ujar Agung.
Ia menilai kualitas pelayanan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat agar puskesmas tidak hanya dipandang sebagai tempat berobat, tetapi juga sebagai fasilitas kesehatan yang dapat diandalkan masyarakat.
Dari sisi DPRD, Agung menjelaskan bahwa pembangunan kesehatan perlu mendapatkan perhatian melalui fungsi anggaran, legislasi, dan pengawasan. Pembangunan puskesmas tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan, tetapi harus diikuti dengan pemenuhan sarana dan prasarana, peralatan medis, ketersediaan obat, akses bagi lansia dan penyandang disabilitas, serta penguatan sumber daya manusia.
âJangan sampai kita memiliki gedung puskesmas yang bagus, tetapi masyarakat masih menghadapi antrean yang panjang atau obat yang tidak tersedia. Prinsipnya, gedung diperbaiki, alat dilengkapi, tetapi SDM juga diperkuat dan pelayanan harus semakin baik,â ucap dia.
Agung juga menekankan pentingnya kesetaraan akses kesehatan bagi seluruh warga Kota Bandung. Ia menegaskan bahwa setiap warga memiliki hak yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan tanpa dibedakan berdasarkan wilayah tempat tinggal. âSetiap warga Kota Bandung harus memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,â tegas dia.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bandung, Ira Dewi Jani, menjelaskan konsep âPuskesmas untuk Semuaâ hadir untuk memastikan seluruh masyarakat Kota Bandung memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses layanan kesehatan.
Konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan siapa yang mendapatkan pelayanan, tetapi juga menggunakan pendekatan siklus hidup, sehingga layanan kesehatan dapat dimanfaatkan masyarakat sejak lahir hingga lanjut usia.
âPuskesmas untuk semua itu ingin memastikan semua masyarakat Kota Bandung memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mengakses layanan kesehatan. Jadi bukan hanya datang ke puskesmas ketika sakit, tetapi bagaimana masyarakat mengingat puskesmas untuk menjaga dan mengecek kondisi kesehatannya,â tutur Ira.
Ia menjelaskan, puskesmas saat ini memiliki peran dalam lima upaya kesehatan, mulai dari promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif hingga paliatif.
Perubahan paradigma tersebut juga membuat pelayanan kesehatan tidak hanya berpusat di gedung puskesmas, tetapi semakin didekatkan dengan masyarakat melalui berbagai komunitas, seperti sekolah, tempat kerja, tempat usaha, serta lingkungan masyarakat.
Puskesmas Keliling dan Posyandu
Upaya mendekatkan layanan juga dilakukan melalui puskesmas keliling dan posyandu. Menurut dr. Ira, puskesmas keliling menjadi salah satu solusi bagi masyarakat yang mengalami kendala untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan, baik karena persoalan waktu maupun akses dan transportasi.
âKalau masyarakat tidak bisa datang ke puskesmas karena masalah waktu atau lokasi, kita yang datang melalui mekanisme puskesmas keliling,â ujar dia.
Posyandu juga mengalami perubahan paradigma. Jika sebelumnya lebih dikenal dengan pelayanan ibu dan anak, kini posyandu menggunakan pendekatan siklus hidup sehingga dapat diakses oleh berbagai kelompok usia, mulai dari anak, dewasa hingga lansia. Layanan yang diberikan antara lain skrining kesehatan dan imunisasi sebagai bagian dari penguatan upaya promotif dan preventif.
Selain kesehatan fisik, perhatian terhadap kesehatan mental juga menjadi bagian dari pengembangan layanan kesehatan di Kota Bandung.
Saat ini, layanan psikolog klinis telah tersedia di 12 UPTD Puskesmas di Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung juga meluncurkan layanan konseling psikologis Bandung Utama Bagja Sararea (Bangbara) pada 25 Juni 2026 untuk mempermudah masyarakat mendapatkan pendampingan kesehatan mental secara profesional.
Menurut Ira, hadirnya layanan kesehatan mental menjadi bagian dari upaya memperluas akses pelayanan kesehatan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin beragam.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mendapatkan perhatian ketika mengalami gangguan kesehatan fisik, tetapi juga memiliki akses terhadap pendampingan kesehatan mental.
Dalam upaya memberikan akses layanan yang lebih sesuai dengan karakter masyarakat perkotaan, dr. Ira menyampaikan bahwa Kota Bandung juga menghadirkan layanan puskesmas 24 jam. Saat ini terdapat dua puskesmas yang telah membuka layanan tersebut, yakni Puskesmas Ibrahim Aji dan Puskesmas Garuda.
Bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu pada jam kerja, layanan rawat jalan dapat diakses hingga malam hari. Sementara untuk kondisi kegawatdaruratan tertentu yang masih dapat ditangani di tingkat pelayanan kesehatan pertama, layanan tersedia selama 24 jam sesuai kapasitas fasilitas kesehatan.
Selain itu, upaya promotif dan preventif terus diperkuat dengan mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan dan deteksi dini. Salah satunya melalui skrining kesehatan berdasarkan usia dan faktor risiko, sehingga potensi masalah kesehatan dapat diketahui lebih awal.
âParadigmanya harus berubah. Puskesmas itu benar-benar dekat dengan masyarakat, tidak hanya pada saat sakit, tetapi pada saat sehat pun untuk mengecek atau melihat kondisi kesehatan,â pungkas Ira. ils/I-1
- Puskesmas
- DPRD Kota Bandung
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.