Asian Games: Atlet Remaja Jepang Pecahkan Rekor Dunia Renang, Masalah Penyelenggaraan Disorot

Jumat, 25 Sep 2026, 00:20 WIB

NAGOYA — Atlet remaja Jepang berusia 17 tahun, Shin Ohashi, mencuri perhatian pada Asian Games di Jepang setelah memecahkan rekor dunia nomor 200 meter gaya dada putra, Kamis (24/9).

Namun, di tengah pencapaian luar biasa Ohashi, penyelenggaraan pesta olahraga terbesar di Asia tersebut justru kembali mendapat sorotan. Sejumlah kontingen mengeluhkan persoalan akomodasi hingga transportasi atlet yang dinilai mengganggu persiapan mereka.

Ket. Foto: Shin Ohashi. — Sumber: Asian Games 2026

Ohashi tampil luar biasa di nomor 200 meter gaya dada dan merebut medali emas dengan catatan waktu 2 menit 04,83 detik. Hasil tersebut sekaligus memangkas lebih dari setengah detik rekor dunia sebelumnya yang dicatat perenang Tiongkok, Qin Haiyang, pada Juli 2023.

Pencapaian itu terasa semakin istimewa karena Ohashi tampil di hadapan publik sendiri. Ia kini memiliki target lebih besar dalam perjalanan menuju Olimpiade Los Angeles 2028.

“Target saya selalu memecahkan rekor dunia dan saya sangat bahagia bisa melakukannya,” kata Ohashi.

“Target berikutnya adalah meraih medali emas di kejuaraan dunia tahun depan, kemudian memenangkan emas di Olimpiade. Saya tidak ingin cepat puas dan ingin kembali merasakan emosi seperti ini.”

Ohashi sebelumnya juga telah memenangkan emas nomor 100 meter gaya dada di Tokyo. Ia harus berbagi posisi teratas setelah finis bersamaan dengan perenang Tiongkok, Dong Zhihao.

Pemegang rekor dunia sebelumnya, Qin Haiyang, tidak turun di nomor 200 meter gaya dada pada Asian Games kali ini.

Di balik rekor dunia Ohashi, sejumlah kontingen justru menghadapi persoalan serius di luar arena pertandingan.

Tiga cabang olahraga, termasuk renang, digelar di Tokyo. Namun, sebagian besar kompetisi berlangsung di Nagoya dan Prefektur Aichi.

Untuk menekan biaya, panitia tidak membangun kampung atlet tradisional. Para peserta ditempatkan di sejumlah hotel, kabin sementara bergaya kontainer, serta kapal pesiar Costa Serena yang bersandar di Pelabuhan Nagoya.

Keputusan tersebut memunculkan berbagai keluhan, terutama terkait keterbatasan kamar. Panitia harus mengakomodasi lebih dari 17.000 atlet dan ofisial dari berbagai negara Asia.

“Ini tetap menjadi masalah sejak awal hingga sekarang,” kata Chalitrat Chandrubeksa, wakil sekretaris jenderal Komite Olimpiade Nasional Thailand, kepada AFP.

Menurutnya, jumlah kamar yang tersedia di kapal pesiar dan hotel tidak sebanding dengan kebutuhan kontingen Thailand.

“Jumlah kamar yang tersedia di kapal pesiar dan hotel tidak sesuai dengan jumlah atlet kami,” ujarnya.

Ia bahkan menggambarkan situasi tersebut seperti permainan kursi musik, ketika para peserta harus berebut tempat yang tersedia.

Lebih dari 4.000 orang disebut menginap di kapal pesiar, sementara sekitar 2.000 lainnya ditempatkan di kabin yang oleh panitia disebut sebagai “villas”.

Persoalan tidak berhenti pada akomodasi. Sejumlah kontingen juga mengeluhkan layanan bus antar-jemput atlet yang terlambat atau bahkan tidak datang.

Korea Selatan menjadi salah satu negara yang secara konsisten menyuarakan kritik terhadap penyelenggaraan. Menurut laporan kantor berita Yonhap, pihak Korea Selatan menilai berbagai persoalan tersebut berpotensi memengaruhi performa atlet.

Presiden Korean Sport and Olympic Committee, Ryu Seung-min, bahkan memberikan penilaian sangat rendah terhadap kinerja panitia.

“Jika saya harus memberikan nilai, saya akan memberikan F,” kata Ryu.

Kritik tersebut muncul ketika Asian Games masih berlangsung dan sejumlah cabang olahraga memasuki fase penting perebutan medali.

Di arena pertandingan, Tiongkok terus menambah koleksi medali. Yang Yang merebut emas kelas 60 kilogram putra angkat besi setelah mencatat total angkatan 304 kilogram, hasil dari 138 kg pada snatch dan 166 kg pada clean and jerk.

Pang Un Chol dari Korea Utara meraih perak dengan total 301 kg, sedangkan atlet Thailand Silachai Theerapong menempati posisi berikutnya.

Pang berhasil menyamai rekor dunia clean and jerk miliknya dengan angkatan 174 kg. Namun, ia gagal menambah empat kilogram pada percobaan terakhir yang sebenarnya bisa membawanya melewati total angkatan Yang.

Korea Utara kemudian membalas di kelas 65 kg putra. Pak Myong Jin menjadi juara setelah melakukan angkatan terakhir 182 kg dan mencatat total 328 kg.

Pemegang rekor dunia asal Tiongkok, He Yueji, harus puas dengan perak setelah terpaut hanya satu kilogram.

Di bulu tangkis, Tiongkok juga menunjukkan dominasinya setelah mengalahkan tuan rumah Jepang 3-0 untuk merebut emas beregu putri.

Asian Games kali ini juga menghadirkan cerita unik dari arena eSports. Yuki Kurihara, bocah Jepang berusia 11 tahun, mencuri perhatian setelah menyapu bersih empat pertandingan yang dihadapinya di Grup A.

Siswa sekolah dasar berkacamata itu menjadi atlet termuda dalam Asian Games kali ini. Ia berkompetisi di Puyo Puyo Champions, permainan puzzle yang mengharuskan pemain menyusun dan menghilangkan objek berwarna dari layar.

Kurihara mengatakan dirinya mengonsumsi belut sebagai persiapan sebelum bertanding.

Ia mampu mengalahkan seluruh empat lawannya, yang sebagian besar berusia hampir tiga kali lebih tua darinya, untuk memuncaki Grup A dan menjaga peluang merebut medali emas.

Sementara itu, cabang kriket juga mulai bergulir. Tuan rumah Jepang kalah dari Afghanistan dengan selisih 48 run, sedangkan Malaysia menang telak atas Hong Kong dengan delapan wicket.

India, Sri Lanka, Pakistan, dan Bangladesh yang menjadi tim unggulan langsung lolos ke babak perempat final yang akan berlangsung pekan depan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.