Cegah LGBT pada Remaja, MUI Kabupaten Bekasi Ajak Orang Tua Perkuat Pendidikan Moral

Jumat, 04 Sep 2026, 01:05 WIB

KABUPATEN BEKASI - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi menyerukan pentingnya penguatan pendidikan karakter dan ketahanan keluarga sebagai pendekatan utama dalam menghadapi tantangan sosial remaja, termasuk pencegahan fenomena lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT), Kamis (3/9). 

"Pendekatan yang mengedepankan dialog, pendidikan karakter, pendampingan dan lingkungan sosial yang sehat lebih strategis dibandingkan sekadar kecaman maupun stigma," kata Ketua MUI Kabupaten Bekasi KH. Prof. Mahmud di Cikarang, Kamis.

Ket. Foto: Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bekasi KH. Prof. Mahmud. — Sumber: ANTARA/Pradita Kurniawan Syah.

Dia mengatakan keluarga harus kembali menjadi tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, keteladanan sekaligus ruang dialog yang aman. Kehadiran orangtua secara emosional dinilai sangat penting di tengah perubahan sosial dan derasnya pengaruh media sosial.

Menurut dia, solusi permasalahan LGBT yang paling strategis bukanlah memperbanyak konflik sosial, melainkan memperkuat ketahanan keluarga. Orangtua perlu hadir secara emosional, bukan hanya secara fisik sebab anak-anak membutuhkan perhatian, dialog, kasih sayang serta figur teladan.

Fenomena LGBT, kata dia, tidak dapat dilihat hanya dari satu sudut pandang. Penguatan keluarga perlu berjalan beriringan dengan pendidikan karakter di sekolah maupun kepedulian masyarakat pada lingkungan masing-masing.

"Sekolah diharapkan tidak hanya membangun kemampuan akademik tetapi juga menanamkan tanggung jawab, pengendalian diri, etika pergaulan serta nilai agama dan budaya," ujarnya.

Dirinya juga mendorong agar pendekatan keagamaan dilakukan secara ramah dan mendidik. Dakwah hendaknya menjadi sarana membimbing masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar memberikan penghakiman.

"Dakwah yang menyejukkan sering lebih efektif dibandingkan dengan dakwah yang hanya berisi kemarahan. Tujuan agama bukan sekadar menghakimi, tetapi mengarahkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik," katanya.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung periode 2015-2023 itu mengaku masyarakat Kabupaten Bekasi memiliki modal sosial kuat melalui budaya gotong royong, kedekatan keluarga dan kehidupan komunal, hanya saja perlu diperkuat agar generasi muda memiliki lingkungan sehat dan suportif.

Prof. Mahmud mengajak keluarga memperbanyak aktivitas bersama tanpa gawai, melibatkan remaja dalam kegiatan olahraga, seni, organisasi maupun kegiatan sosial, menghadirkan figur teladan yang dekat dengan anak serta membangun budaya dialog dalam keluarga.

"Anak yang didengar cenderung lebih terbuka dibanding anak yang hanya dihakimi. Ketika anak tumbuh dalam keluarga yang hangat, memperoleh pendidikan moral yang baik, memiliki tujuan hidup yang jelas serta merasa dicintai dan dihargai, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai pengaruh zaman, termasuk fenomena LGBT," ucapnya.

Ia menekankan bahwa upaya membangun generasi muda yang tangguh harus dimulai dari lingkungan terdekat. Keluarga yang kuat, pendidikan karakter yang kokoh dan masyarakat yang peduli menjadi tiga pilar penting dalam membangun ketahanan generasi muda Kabupaten Bekasi.

"Perubahan besar dalam masyarakat tidak pernah dimulai dari ruang sidang atau media sosial, melainkan dari rumah. Rumah yang penuh kasih sayang, keteladanan dan nilai-nilai luhur akan selalu menjadi benteng pertama bagi masa depan bangsa," kata dia.

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.