Jajak Pendapat Ungkap Marine Le Pen Berpeluang Besar jadi Presiden Prancis

Kamis, 03 Sep 2026, 02:30 WIB

PARIS - Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, pemimpin sebuah partai sayap kanan memiliki peluang besar untuk merebut kekuasaan di Prancis, sebuah negara ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa dan satu-satunya kekuatan nuklir di kawasan tersebut.

Jajak pendapat memproyeksikan pemimpin sayap kanan Marine Le Pen memiliki peluang terbaik untuk memenangkan kursi di Istana Elysee setelah ia maju untuk ke empat kalinya, karena ia diuntungkan oleh salah satu lanskap politik paling terpecah-pecah dalam sejarah modern Prancis, dengan banyaknya kandidat yang bersaing untuk mendapatkan dukungan dan kekuatan politik tradisional yang lebih lemah dari sebelumnya.

Ket. Foto: Marine Le Pen — Sumber: AFP/THOMAS SAMSON

Lebih dari 30 kandidat yang telah menyatakan diri atau berpotensi menjadi kandidat dari sayap kiri, tengah, dan kanan yang bersaing memperebutkan suara di luar kubu sayap kanan ekstrem dan sayap kiri garis keras, delapan bulan sebelum pemilihan umum.

Sementara itu, Presiden Emmanuel Macron tidak dapat mencalonkan diri lagi setelah menjabat selama satu dekade.

Sistem dua putaran pemilihan presiden di Prancis berarti bahwa kandidat moderat berisiko memecah suara di putaran pertama jika jumlah mereka terlalu banyak, sehingga Le Pen harus menjalani putaran kedua dan kemungkinan besar akan menghadapi pemimpin sayap kiri garis keras, Jean-Luc Melenchon, yang menurut jajak pendapat akan dengan mudah dikalahkannya.

“Semua orang berharap mendapatkan bagian dari kue tersebut, meskipun itu akan terbukti sangat sulit,” kata Emilie Zapalski, seorang ahli komunikasi politik.

Efek Macron

Ilmuwan politik Remi Lefebvre mengaitkan banyaknya kandidat dengan apa yang ia sebut sebagai "efek Macron", dimana mantan menteri ekonomi era kepresidenan Francois Hollande itu terpilih pada tahun 2017 tanpa dukungan dari partai politik besar.

“Hal itu memicu pertarungan ambisi. Orang-orang berpikir mereka juga bisa terpilih meskipun peluangnya kecil,” kata Lefebvre.

Selama dekade terakhir, Macron telah mengubah lanskap politik, mengaburkan pembagian kiri-kanan tradisional yang telah lama menjadi ciri khas politik Prancis.

Jajak pendapat, yang dapat berubah secara signifikan sebelum pemilihan, saat ini menempatkan Le Pen di depan pada putaran pertama dengan sekitar 35 persen suara dan memperkirakan kemenangan di putaran kedua melawan siapapun pesaingnya.

Le Pen, 58 tahun, sebelumnya tak pernah sedekat ini dengan kekuasaan, meskipun ia telah divonis bersalah dalam banding atas penggelapan dana Parlemen Eropa.

Edouard Philippe, perdana menteri pertama Macron, dipandang sebagai kandidat yang paling tepat untuk menyatukan kubu tengah dan kanan serta melawan kubu kanan ekstrem. Namun, beberapa jajak pendapat menunjukkan bahwa Melenchon, pemimpin kontroversial dari partai sayap kiri garis keras France Unbowed, mungkin berada dalam posisi yang lebih baik untuk mencapai putaran kedua melawan Le Pen.

Menurut Blanche Leridon, direktur studi Prancis di Institut Montaigne yang berbasis di Paris, mengatakan bahwa Le Pen dan Melenchon memiliki identitas yang jelas dan terhindar dari racun perpecahan karena mereka tidak menghadapi tantangan di dalam kubu masing-masing.

“Sebuah proyek politik yang dibangun semata-mata sebagai penentangan terhadap, atau sebagai reaksi terhadap, hal-hal ekstrem akan kehilangan sebagian besar daya persuasifnya,” tutur dia. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.