Jejak Simbol Masyarakat Neolitikum yang Rumit
Rabu, 02 Sep 2026, 07:24 WIBSELAMA berdekade-dekade, buku sejarah mencatat Mesopotamia sebagai tempat lahirnya peradaban tertulis. Namun, jauh sebelum sistem tulisan paku (cuneiform) berkembang di kawasan Lembah Sungai Tigris dan Eufrat sekitar 3.400â3.300 SM, masyarakat Neolitikum di Eropa Tenggara ternyata telah mengembangkan tradisi simbol yang sangat kompleks.
Penemuan berbagai artefak prasejarah di kawasan Balkan dan Yunani membuka perspektif baru mengenai evolusi kognitif manusia. Keberadaan penanda visual untuk merekam informasi ternyata telah berlangsung jauh lebih awal dari yang diyakini sebelumnya.
Salah satu bukti fisik paling fenomenal adalah Tablet Dispilio, sebuah kepingan kayu berukir yang ditemukan di tepi Danau Kastoria, Yunani utara. Melalui metode penanggalan karbon murni dan analisis lingkar pohon, tablet ini diketahui berasal dari sekitar 5.260 SMâmenempatkannya lebih dari dua milenium sebelum munculnya tulisan paku di Sumeria.
Selain Dispilio, peradaban Neolitikum di sepanjang Lembah Sungai Danube juga meninggalkan ribuan pecahan keramik, figurin tanah liat, dan segel yang dihiasi guratan unik. Koleksi tanda ini dikenal luas sebagai simbol VinÄa. Di Rumania, perdebatan serupa dipicu oleh penemuan tiga keping Tablet TÄrtÄria yang juga memuat susunan simbol geometris misterius.
Bukan Sekadar Coretan Dekoratif
Guratan-guratan yang ditemukan pada artefak Dispilio maupun kebudayaan VinÄa memperlihatkan tingkat keteraturan yang tinggi. Tanda berupa garis melintang, silang, sudut, serta bentuk berulang lainnya muncul konsisten di lokasi permukiman yang terpisah jarak ribuan kilometer.
Pola berulang ini mengindikasikan bahwa masyarakat Neolitikum Eropa tidak sekadar membuat ukiran estetis atau hiasan tanpa makna. Mereka diperkirakan telah menggunakan bahasa simbolik yang disepakati bersama.
Dalam struktur masyarakat yang mulai menetap, bertani, dan memelihara ternak, kebutuhan komunikasi menjadi jauh lebih rumit. Simbol-simbol tersebut diduga kuat berfungsi untuk menandai kepemilikan aset, mencatat jumlah hasil panen, mengidentifikasi kelompok sosial, hingga memfasilitasi ritual keagamaan.
Meskipun teratur dan berusia sangat tua, para arkeolog dan ahli epigrafi sangat berhati-hati untuk tidak menyebut temuan Eropa ini sebagai âtulisan tertua di duniaâ. Dalam terminologi linguistik, tanda-tanda tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai proto-tulisan atau sistem notasi visual.
Temuan ini menegaskan bahwa lahirnya peradaban tertulis bukanlah proses satu arah yang hanya terjadi di ÂMesopotamia. hay
- Peradaban Tertulis
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.