• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Mengagetkan Hasil Peneliti...

Mengagetkan Hasil Penelitian Ini, Kebiasaan Mengambil “Screenshot” Bisa Memicu Gangguan Ingatan

Jumat, 28 Agu 2026, 09:17 WIB

JAKARTA - Kebiasaan mengambil screenshot (tangkapan layar) ponsel menurut penelitian dari Binghamton University, New York, Amerika Serikat, berkaitan dengan gangguan ingatan.

Mengambil screenshot merupakan cara seseorang untuk mengingat atau menyimpan informasi yang mereka butuhkan ketika sedang mengakses ponsel. Penelitian berjudul "Digital Amnesia: The Aftermath of a Screenshot", seperti yang dimuat oleh New York Post, Sabtu (22/8), menemukan bahwa kebiasaan tersebut justru membuat seseorang lebih mudah melupakan sesuatu,

Ket. Foto: Ilustrasi - Sejumlah peserta mempraktikkan cara memotret objek menggunakan ponsel pintar di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (27/4/2024). — Sumber: Antara foto

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai photo-taking impairment effect atau efek gangguan akibat mengambil foto. Fenomena tersebut terjadi ketika orang yang mengambil gambar justru mengingat lebih sedikit dibandingkan orang yang hanya melihat gambar tersebut lalu melanjutkan aktivitasnya.

Mengambil screenshot sebenarnya bisa memberikan manfaat, tetapi hanya jika gambar tersebut dilihat kembali setelahnya. Masalah muncul ketika seseorang mengambil gambar tetapi tidak pernah melihatnya lagi.

"Jika Anda tidak secara aktif meninjau kembali gambar-gambar tersebut sebagai petunjuk, kemungkinan besar gambar itu tidak akan memberikan manfaat bagi ingatan," ujar penulis penelitian Sophia Fabrizio.

Sekitar 90 persen warga AS menggunakan ponsel dan salah satu fungsi utama perangkat tersebut adalah mengambil foto. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa rata-rata orang mengambil sekitar 20 foto setiap hari dan menyimpan sekitar 2.000 foto di perangkat.

Dalam penelitian ini, para mahasiswa diperlihatkan berbagai gambar karya seni, mulai dari foto, lukisan, hingga sketsa. Mereka kemudian diminta mengambil screenshot terhadap beberapa gambar tersebut.

Setelah itu, para peserta diminta memilih satu dari tiga pilihan untuk menentukan karya seni yang sebelumnya mereka lihat. Para peneliti sengaja memilih gambar-gambar yang memiliki kemiripan sangat dekat dengan karya seni aslinya.

Peserta tidak cukup hanya mengingat gambaran umumnya untuk menjawab dengan benar. Peneliti menemukan bahwa peserta tidak mengingat gambar yang mereka screenshot sebaik gambar yang hanya mereka lihat.

Bahkan, seseorang lebih kecil kemungkinannya untuk mengingat bahwa mereka pernah mengambil screenshot gambar tersebut. Mereka justru lebih mungkin mengingat gambar mana yang tidak mereka screenshot.

Fenomena itu bisa terjadi menurut sejumlah teori dan para penulis penelitian menyoroti teori-teori ini yang berkaitan dengan fenomena itu sebaiknya dipandang sebagai faktor yang saling berkontribusi, bukan sebagai satu-satunya penyebab.

Teori pertama divided attention, perhatian terbagi, menyebutkan bahwa tindakan mengambil foto atau screenshot mengalihkan perhatian dan sumber daya kognitif yang seharusnya digunakan otak untuk membentuk ingatan.

Kedua, teori cognitive offloading menyatakan bahwa seseorang tidak berusaha sekeras mungkin untuk mengingat sesuatu ketika mengetahui informasi tersebut sudah tersimpan di tempat lain. Misalnya, menghafal nomor telepon kini dianggap tidak terlalu penting karena semuanya sudah tersimpan di ponsel.

Bahkan ketika peserta penelitian mengetahui bahwa gambar mereka akan langsung dihapus dan tidak disimpan secara eksternal, mereka tetap tidak mampu mengingat gambar yang di-screenshot dengan baik.

Ketiga, teori attentional disengagement menjelaskan bahwa mengambil foto dapat membuat kita keluar dari momen yang sedang dialami dan secara tidak sadar menciptakan jarak dengan pengalaman tersebut.

Para peneliti menyarankan agar kita menuliskan informasi tersebut daripada mengambil screenshot. Cara ini memang tidak sempurna karena proses cognitive offloading masih dapat terjadi.

Namun, menulis memaksa otak untuk memproses informasi yang ingin diingat. Proses tersebut justru dilewati ketika hanya mengambil screenshot dan kemudian tidak pernah melihatnya kembali.

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Marcellus Widiarto

Berita Terbaru

Mengapa Lagu Dolly Parton Dinilai Punya Cara Unik Menyatukan Banyak Orang? Ini Penjelasan dari Psikolog

BeFa Bangun Kawasan Industri AI-Ready Pertama di Indonesa

Kasus Korupsi KUR Bank BUMN, Kejari Purwakarta Buka Peluang Tersangka Baru

Mengapa Sup Ayam Jadi Makanan Andalan Ketika Sakit? Simak Alasan Selengkapnya

Atasi Kemacetan, Dishub Bali Pastikan Keberlanjutan Trans Metro Dewata

Undian US Open 2026 Beri Alcaraz dan Sabalenka Jalan Terjal

Tingkatkan Efektivitas Pemadaman Karhutla Gambut, Polda Kalimantan Selatan Gunakan Cairan Tepung

Gunung Semeru Alami 21 Kali Gempa Letusan dalam Enam Jam, TNBTS Tutup Total Jalur Pendakian

Liga Inggris: Para Pesaing Arsenal Memburu Kebangkitan setelah Awal yang Sulit

Jaga Harga Bahan Pangan, Pemprov Sumut Inisiasi Gerakan Pangan Murah Serentak

MotoGP: Marc Marquez Berpeluang Kejar Martin di Aragon

BMKG Ingatkan Masyarakat Dampak Perubahan Cuaca hingga Gangguan Jarak Pandang di Beberapa Daerah

Serie A Italia: Inter Milan dan Para Pesaing Scudetto Bertekad Lanjutkan Awal Sempurna

Liga Champions: PSG Jumpa Lawan Berat, Hadapi Barcelona, Manchester City dan Aston Villa

Beberapa CCTV di Jakarta Dirusak saat Aksi Unjuk Rasa, Masyarakat Makin Waswas

Titik Temu Masa Lalu dan Masa Kini

Hasil Undian Liga Champions, Tim-tim Besar Saling Bertemu

Seleksi Khusus Kepala Desa, Pemkab Bekasi Tekankan Aspek Objektif

Carabao Cup: Chelsea ke Putaran Tiga setelah Kalahkan Luton Town 2-0

BMKG Prakirakan Sejumlah Kota Besar pada Jumat (28/8) Hujan dan Diselimuti Kabut Asap

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.