Atasi Kekeringan dan Polusi Udara, Pemprov DKI dan BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca

Jumat, 28 Agu 2026, 17:35 WIB

JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya menghadapi dampak musim kemarau sekaligus membantu menekan pencemaran udara di ibu kota. Program tersebut dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Smart Cakrawala Aviation.

Pelaksanaan OMC dilakukan berdasarkan hasil pemantauan atmosfer secara real time dan rekomendasi BMKG. Langkah tersebut diambil setelah lima wilayah administrasi Jakarta masuk status Siaga peringatan dini kekeringan meteorologi dengan kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) mencapai sedikitnya 31 hari berturut-turut.

Ket. Foto: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya menghadapi dampak musim kemarau sekaligus membantu menekan pencemaran udara di ibu kota. Program tersebut dilaksanakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Smart Cakrawala Aviation. — Sumber: Pemprov DKI Jakarta

Selain ancaman kekeringan, kualitas udara Jakarta juga menjadi perhatian pemerintah. Sebelum 20 Agustus 2026, kualitas udara ibu kota tercatat berada pada kategori tidak sehat selama 26 hari berturut-turut.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan OMC menjadi salah satu langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak musim kemarau. Menurutnya, penyemaian dilakukan berdasarkan lokasi yang telah dipantau, termasuk wilayah yang memiliki konsentrasi polutan relatif tinggi.

"Kami melakukan ikhtiar bersama untuk menjaga Jakarta dari potensi ancaman musim kemarau. Modifikasi cuaca ini dilakukan di lokasi yang telah kami pantau, termasuk titik-titik dengan angka polutan relatif tinggi," ujar Marulitua di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat (28/8).

Posko OMC yang berada di Bandara Pondok Cabe telah beroperasi sejak 21 Agustus 2026. Hingga 26 Agustus, tercatat 24 sorti penerbangan dengan total waktu operasi sekitar 21 jam menggunakan dua pesawat Cessna Caravan 208B milik Smart Cakrawala Aviation.

Dalam pelaksanaannya, pesawat melakukan penyemaian terhadap awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan. Pada kondisi tertentu, penyemaian juga diarahkan ke sejumlah titik prioritas yang teridentifikasi memiliki kualitas udara kurang baik atau konsentrasi PM2.5 tinggi.

Hasil sementara menunjukkan OMC mampu memicu hujan di sejumlah wilayah Jakarta pada 27 Agustus. Evaluasi awal juga mencatat penurunan konsentrasi polutan di beberapa kawasan dengan kisaran 23 hingga 50 persen, sementara penurunan tertinggi sementara mencapai 57 persen.

"OMC berhasil mengoptimalkan potensi hujan di beberapa lokasi. Kami juga melihat adanya penurunan angka polutan, namun hasilnya tetap kami evaluasi karena kondisi atmosfer sangat dinamis," kata Marulitua.

Meski menunjukkan hasil awal yang positif, Pemprov DKI menegaskan OMC bukan satu-satunya cara untuk menangani persoalan kualitas udara. Pemerintah tetap membutuhkan langkah pengendalian dari sumber pencemaran agar perbaikan kualitas udara dapat berlangsung secara konsisten.

"Penurunan PM2.5 yang terlihat dalam evaluasi sementara tentu kami cermati, tetapi OMC bukan solusi tunggal. Persoalan kualitas udara harus ditangani secara menyeluruh dan konsisten dari sumber pencemarnya," tegas Marulitua.

Pemprov DKI juga terus menjalankan berbagai program pengendalian kualitas udara di luar pelaksanaan OMC. Upaya tersebut mencakup pemantauan kualitas udara, pengawasan emisi kendaraan bermotor, pengendalian emisi industri dan kegiatan usaha, penguatan transportasi publik, serta edukasi masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah.

Menurut Marulitua, pelaksanaan OMC tetap dilakukan dengan mempertimbangkan data dan kondisi atmosfer terkini. Operasi hanya dijalankan ketika kondisi teknis memungkinkan dan berdasarkan rekomendasi BMKG agar pelaksanaannya dapat memberikan manfaat yang optimal.

"OMC kami tempatkan sebagai salah satu instrumen mitigasi yang berdasarkan data dan kondisi atmosfer. Pengoperasian hanya dilakukan ketika secara teknis memungkinkan dan memang dapat memberikan manfaat berdasarkan rekomendasi BMKG," ungkapnya.

Dari sisi teknis, BMKG menyesuaikan metode serta material penyemaian dengan karakteristik atmosfer yang sedang berlangsung. Pada periode musim kemarau, salah satu teknik yang digunakan adalah water mist dengan campuran udara dan surfaktan SLS (Sodium Lauryl Sulfate) untuk membantu mengikat partikel polutan di udara.

Tim supervisi OMC BMKG Sutrisno menjelaskan penggunaan metode tersebut disesuaikan dengan kebutuhan operasi pada musim kemarau.

"Pada modifikasi cuaca kali ini, metode yang digunakan berbeda dengan saat musim penghujan. Pada musim kemarau, kami menggunakan surfaktan yang dicampur dengan udara untuk membantu mengikat polutan dan menurunkan angka polutan di wilayah DKI Jakarta," ujarnya.

Selain metode tersebut, bahan semai kalsium klorida atau CaCl2 dapat digunakan apabila pemantauan menunjukkan adanya pertumbuhan awan yang memenuhi kriteria. Bahan tersebut digunakan untuk membantu proses kondensasi sehingga potensi hujan yang terbentuk secara alami dapat dioptimalkan.

"Ketika hasil pemantauan menunjukkan adanya pertumbuhan awan yang memenuhi kriteria, bahan semai CaCl2 dapat digunakan untuk membantu proses kondensasi awan. Metode ini dilakukan secara bersama dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer yang ada," jelas Sutrisno.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Pelaku Pembuang Air Aki ke Sungai Diidentifikasi dan Akan Ditindak Tegas DLHK Depok

Pemkot Tangsel Perketat Pengawasan Pergudangan Taman Tekno Menyusul Digulungnya Sindikat Uang Palsu

Gubernur Pramono Kukuhkan Fauzi Bowo Sebagai Ketua Dewan Adat dan Kebudayaan Betawi

Soal Pejabat BI Baru, OJK: Makin Banyak Perempuan di Posisi sStrategis

Polres Lumajang Bantu Padamkan Karhutla di Gunung Semeru dengan Kayu dan Ranting Pohon

Atasi Kekeringan dan Polusi Udara, Pemprov DKI dan BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca

Belitung Diprakirakan BMKG Berpotensi Alami Musim Kemarau hingga November 2026

Kemenag Sulut Tingkatkan Kompetensi Guru PAI Baca Al-Qur'an

Pemkot Tangerang Perkuat Akses Pendidikan hingga Program Kesetaraan Guna Cegah Anak Putus Sekolah

Viral di Depok, Mobil Pick up Buang Muatan Air Aki ke Sungai

OutSystems Perluas Solusi AI untuk Percepat Proses Kredit Perbankan

Kredit Fiktif Bank BUMN Rugikan Negara Rp4,9 Miliar, Dua Tersangka Ditahan Kejati Jateng

Mau Piknik? Inilah Lima Lokasi Favorit Pilihan Keluarga di Kota Tangerang

Bukan karena Demonstrasi, Ini Rekayasa Lalu Lintas Saat Merdeka Run 2026 Sabtu Besok

Animo Tinggi! 10.000 Pelari Bakal 'War' Jalur 8K di Ajang Merdeka Run 2026

Tepung Singkong jadi Pemadam Kebakaran, Ini Risetnya

KKP Dorong 65 Kampung Nelayan Merah Putih Kembangkan Unit Usaha

Pertamina Kirim 2 Kapal Tanker ke Bali Angkut 24,2 Juta Liter Pertalite Perkuat Stok Pulau Dewata

Potensi Awan Hujan Riau 30 Agustus-1 September, Menhut Raja Antoni Minta OMC Dimaksimalkan.

Bocoran GTA 6 Makin Gila dari Cyberleek, Tapi 6 Fitur Penting Ini Malah Masih Misterius

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.