Selain Pacu Ekspor, Pemerintah Harus Kendalikan Impor dan Tingkatkan Produktivitas

Kamis, 27 Agu 2026, 03:00 WIB

JAKARTA - Defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) Indonesia pada kuartal II-2026 harus mendapat perhatian serius. Pemerintah tidak cukup hanya mendorong ekspor, tetapi juga perlu mengendalikan impor dan membenahi produktivitas nasional.

Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata mengatakan defisit CAD pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 12,5 miliar dollar AS atau 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut melebar dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 3,6 miliar dollar AS atau sekitar 1 persen terhadap PDB.

Ket. Foto: Kandidat Calon Gubernur BI, Destry Damayanti. — Sumber: koran jakarta/m fachri

“Pelebaran defisit CAD dari 1,1 persen ke 3,3 persen dari PDB tentu substansial,” kata Aloysius saat dihubungi, Rabu (26/8).

Kondisi tersebut perlu semakin diwaspadai apabila bersamaan dengan pelebaran defisit fiskal. Kombinasi keduanya dapat membawa Indonesia ke dalam situasi defisit kembar atau twin deficit.

Untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan, menurut Aloysius, pemerintah perlu bekerja dari dua sisi sekaligus, yakni memacu ekspor dan mengendalikan impor. Namun, kedua langkah tersebut bergantung pada kemampuan Indonesia meningkatkan produktivitas, baik di sektor industri manufaktur maupun sektor berbasis sumber daya alam.

Ia menilai kebijakan hilirisasi belum cukup apabila hanya sedikit menggeser posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Terlebih, sejumlah komoditas unggulan Indonesia mulai menghadapi persaingan dan kemunculan komoditas substitusi.

“Nikel misalnya kini sudah ada pesaingnya, ada komoditas substitusinya,” katanya.

Sedangkan, produktivitas jelasnya tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan teknis. Rendahnya produktivitas juga berkaitan dengan tata kelola ekonomi dan kualitas kelembagaan yang tidak banyak mengalami perbaikan, bahkan dalam beberapa aspek justru memburuk.

“Artinya, kendati neraca transaksi berjalan adalah indikator interaksi dengan eksternal, upaya menekan defisitnya juga menuntut perubahan-perubahan internal atau domestik yang seharusnya lebih bisa diatur dan dikendalikan,” kata Aloysius.

Pekerjaan Rumah

Saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu (26/8), Pejabat Sementara (Pjs) yang juga kandidat calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti tantangan ekspor di tengah neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang melebar pada kuartal II 2026.

“Menjadi PR tentunya bagi kita semua, pemerintah, Bank Indonesia, dan juga seluruh masyarakat kita adalah bagaimana agar ekspor kita bisa kita tingkatkan,” kata Destry.

Transaksi berjalan dalam neraca pembayaran masih menghadapi defisit pada neraca jasa dan pendapatan primer. Kondisi tersebut jelas Destry turut menyebabkan transaksi berjalan kembali defisit pada triwulan II 2026, sementara neraca perdagangan juga masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan ekspor barang ke depan.

“Jadi akhirnya ini menyebabkan yang kita alami sekarang ini di triwulan II, current account kita defisit, kembali ke defisit karena memang di trade balance kita mempunyai tantangan untuk ekspor barang ini yang perlu kita genjot ke depannya,” jelas Destry.

Selama ini, defisit transaksi berjalan katanya dapat ditutup oleh neraca finansial, terutama melalui investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) yang relatif stabil. Sedangkan, investasi portofolio masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan.

  • impor dan ekspor

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.