Lima Kunci HR Menyiapkan SDM Tangguh di Tengah Perubahan Dunia Kerja
Rabu, 26 Agu 2026, 10:15 WIBJAKARTA â Profesional sumber daya manusia (SDM) dituntut tidak hanya memahami persoalan karyawan, tetapi juga mampu menjadi mitra strategis bagi bisnis. Peran tersebut semakin penting di tengah perubahan dunia kerja yang menuntut perusahaan membangun kapabilitas SDM secara berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam episode perdana Power Talks Season 2, yang menghadirkan Dina Sitopu, praktisi HR dengan pengalaman lebih dari dua dekade di perusahaan multinasional. Dalam perbincangan tersebut, Dina membagikan sejumlah perspektif mengenai kepemimpinan dan pengelolaan SDM yang dinilai relevan bagi perusahaan maupun profesional dalam menghadapi perubahan dunia kerja.
Dari diskusi tersebut, terdapat lima kunci yang dapat menjadi perhatian para pemimpin HR dalam membangun SDM masa depan, mulai dari kemampuan memahami bisnis hingga pentingnya menggabungkan data dan pendekatan humanis dalam mengambil keputusan.
HR Perlu Memahami Bahasa Bisnis
Dina menekankan bahwa HR tidak cukup hanya memahami persoalan karyawan atau people issues. Untuk menjadi mitra strategis, HR perlu memahami arah bisnis, target perusahaan, serta bahasa yang digunakan oleh berbagai fungsi.
Pemahaman tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari pemasaran, produktivitas, keselamatan, kualitas hingga rantai pasok. Dengan memahami kebutuhan setiap fungsi, HR dapat memberikan kontribusi yang lebih relevan terhadap pencapaian tujuan perusahaan.
Menurut Dina, HR juga perlu terlibat dalam diskusi bisnis sejak awal, bukan hanya hadir ketika perusahaan membutuhkan eksekusi kebijakan HR. Keterlibatan tersebut memungkinkan HR memahami persoalan secara lebih menyeluruh, menyelaraskan kebutuhan lintas fungsi, sekaligus memastikan strategi bisnis dapat dijalankan melalui pengelolaan SDM yang tepat.
Coaching Harus Menjadi Bagian dari Ekosistem
Kunci kedua adalah pengembangan kemampuan melalui coaching. Dina menilai coaching akan memberikan dampak lebih besar apabila manfaatnya dapat dirasakan oleh individu, pekerjaan, tim, maupun pencapaian kinerja.
Karena itu, coaching tidak seharusnya hanya menjadi program sesaat atau sekadar memenuhi checklist perusahaan. Praktik tersebut perlu ditanamkan dalam proses bisnis dan menjadi bagian dari peran setiap people manager.
Pengembangan kemampuan coaching dapat didukung melalui pelatihan, pemberian penghargaan, pembentukan komunitas, sertifikasi, kelompok kecil, serta jaringan mentor. Berbagai pendekatan tersebut dapat membantu membangun budaya coaching secara konsisten di lingkungan perusahaan.
âCoaching bukanlah memberi tahu orang lain, melainkan memicu sudut pandang yang berbeda,â ujar Dina melalui keterangannya pada hari Rabu (26/8).
Menurut dia, coaching yang baik membantu seseorang memahami konteks, melihat berbagai pilihan, dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan persoalannya sendiri.
Keputusan HR Perlu Memadukan Data dan Kemanusiaan
Dalam mengambil keputusan terkait SDM, data dan fakta menjadi dasar penting. Namun, Dina menilai angka saja tidak cukup untuk menghasilkan keputusan yang tepat.
HR juga perlu mendengarkan perspektif para pemangku kepentingan, memahami kekhawatiran dan ekspektasi mereka, kemudian memastikan adanya keselarasan sebelum keputusan diambil.
Faktor kemanusiaan juga tetap perlu diperhatikan. Keputusan yang terlihat tepat secara angka dapat menimbulkan dampak negatif apabila diterapkan tanpa kebijaksanaan, kepekaan, dan rasa hormat terhadap orang-orang yang terdampak.
Perpaduan antara pola pikir analitis dan pendekatan humanis, menurut Dina, dapat membantu HR mengelola dampak dan risiko keputusan secara lebih bertanggung jawab.
Bangun Psychological Safety di Lingkungan Kerja
Perusahaan yang menjadi tempat berkembang bagi karyawan bukan berarti perusahaan yang bebas dari tekanan maupun konflik. Menurut Dina, pembeda utamanya terletak pada kemauan perusahaan untuk membangun nilai, hubungan, dan lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan menyampaikan kekhawatiran serta menjadi dirinya sendiri.
Hal tersebut berkaitan dengan pentingnya membangun psychological safety atau rasa aman secara psikologis di lingkungan kerja.
Pemimpin memiliki peran penting dalam menciptakan kondisi tersebut. Pemimpin perlu menjadi sosok yang approachable atau mudah ditemui, tetapi tetap mampu memberikan umpan balik, menjaga standar, dan mengambil keputusan secara konsisten.
Dengan pendekatan tersebut, hubungan yang dekat antara pemimpin dan karyawan tidak berubah menjadi perlakuan khusus. Sebaliknya, profesionalisme juga tidak membuat pemimpin menjadi terlalu jauh dari anggota tim.
Kepemimpinan Membutuhkan Keberanian dan Kepercayaan
Kunci kelima adalah keberanian dalam memimpin dan kemampuan membangun kepercayaan. Dina menilai pemimpin yang baik bukanlah sosok yang sekadar ingin disukai ataupun ditakuti.
Pemimpin perlu menjadi sosok yang tepercaya dan dihormati dengan cara menepati janji, menjaga kredibilitas, serta menerapkan standar secara konsisten kepada seluruh anggota tim.
Keberanian juga dibutuhkan untuk menghadapi tantangan, mengubah cara pandang, dan menemukan peluang di tengah keterbatasan.
Bagi profesional yang sedang membangun karier, keberanian tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan menentukan prioritas, membangun support system, serta memiliki definisi kesuksesan yang bersumber dari pertumbuhan diri, bukan semata-mata validasi eksternal.
âPemimpin HR yang hebat selalu memimpin dengan keberanian, membantu orang menjadi versi terbaik dari dirinya, dan membentuk bisnis dengan memastikan kemanusiaan serta kinerja dapat tumbuh bersama,â kata Dina.
Perpaduan Kinerja dan Kemanusiaan
Head of Country Marketing Jobstreet by Seek Indonesia, Sawitri, mengatakan percakapan tersebut memberikan perspektif yang relevan bagi profesional HR, pemimpin bisnis, maupun pencari kerja dalam memahami kebutuhan SDM untuk menghadapi perubahan.
Menurut Sawitri, HR yang kuat bukan hanya memahami kebijakan dan proses, tetapi juga mampu berbicara dalam bahasa bisnis, membangun kepercayaan, serta mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia.
âInsight dari Bu Dina menunjukkan bahwa HR yang kuat bukan hanya memahami kebijakan dan proses, tetapi juga mampu berbicara dalam bahasa bisnis, membangun kepercayaan, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya bagi manusia. Perpaduan antara kinerja dan kemanusiaan inilah yang penting untuk membangun perusahaan dan SDM yang siap menghadapi masa depan,â ujar Sawitri.
Power Talks Hadirkan Perspektif Dunia Kerja
Power Talks merupakan podcast yang menghadirkan ruang diskusi mengenai berbagai isu dalam ekosistem ketenagakerjaan di Indonesia. Program tersebut menghadirkan profesional dan ahli di bidang rekrutmen serta SDM dari berbagai perusahaan.
Memasuki Season 2, Power Talks menghadirkan sejumlah penyegaran dari sisi visual dan format berdasarkan masukan penonton. Episode bersama Dina Sitopu menjadi episode perdana pada musim kedua.
Sawitri mengatakan Power Talks diarahkan untuk menghadirkan percakapan yang lebih praktis dan dekat dengan realitas dunia kerja.
âMelalui Power Talks, kami ingin membawa percakapan yang lebih jujur, praktis, dan dekat dengan realitas dunia kerja. Harapannya, para profesional HR, pemimpin bisnis, dan pencari kerja bisa mendapatkan perspektif baru yang dapat langsung diterapkan,â ujar Sawitri.
Power Talks dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi Jobstreet by Seek serta platform Spotify dengan mencari âPower Talks by Jobstreetâ. Episode baru dijadwalkan tayang setiap bulan.
- dunia kerja
- sumber daya manusia
- Jobstreet
- kepemimpinan
- psychological safety
- Manajemen SDM
- Budaya Kerja
- pengembangan karier
- Power Talks
- HR
- Seek
- Dina Sitopu
- Coaching
- Kepemimpinan HR
- Kinerja Karyawan
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Riset: Bukan Cuma Gaji, Teman Kerja Jadi Faktor Kebahagiaan Pekerja Indonesia
-
Daftar Peserta dan Pembagian Grup FIBA 3x3 Europe Cup Crelan 2026
-
Wali Kota: Bogor Terus Perjuangkan Kesejahteraan Anak
-
Dinas Pendidikan Kota Semarang Bakal Evaluasi Penyebab SD Negeri Kurang Murid
-
Trump Sebut Nota Kesepahaman dengan Iran Sudah Tamat Setelah Iran Membalas AS dengan Menyerang Kuwait dan Bahrain
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.