Kabut Asap Karhutla Jadi Pembunuh Diam-Diam, Pakar Ungkap Bahayanya

Selasa, 25 Agu 2026, 06:30 WIB

Banjarbaru — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak boleh dianggap sebagai bencana biasa. Paparan asap dapat memicu gangguan kesehatan serius, terutama pada kelompok rentan, bahkan berpotensi meningkatkan risiko kematian.

Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Dr dr Syamsul Arifin, MPd, FISPH, FISCM, mengingatkan kabut asap sebagai “pembunuh diam-diam” yang dapat membahayakan kesehatan secara perlahan maupun mendadak.

Ket. Foto: Pengendara yang melintas tanpa masker di tengah kebakaran lahan hebat di kawasan Guntung Damar Kota Banjarbaru, Senin (24/8). — Sumber: Antara

“Data dari berbagai penelitian menunjukkan saat kabut asap melanda, kunjungan ke rumah sakit meningkat hingga 40 persen, terutama untuk kasus gangguan pernapasan dan jantung,” kata Syamsul di Banjarbaru, Senin (24/8).

Menurut Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ULM itu, masih banyak masyarakat yang menganggap kabut asap sebagai bencana biasa yang harus diterima. Padahal, anggapan tersebut justru dapat membahayakan kesehatan.

“Anggapan ini keliru dan berbahaya,” tegasnya.

Syamsul menjelaskan kabut asap merupakan campuran partikel halus dan berbagai polutan yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Salah satu komponen paling berbahaya adalah PM2.5, yakni partikel dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer.

Sebagai gambaran, diameter rambut manusia berkisar 50-70 mikrometer. Dengan demikian, ukuran PM2.5 lebih dari 20 kali lebih kecil dibandingkan rambut manusia.

“Artinya, PM2.5 lebih dari 20 kali lebih kecil dari rambut kita,” ujarnya.

Karena ukurannya sangat kecil, partikel tersebut dapat melewati mekanisme penyaringan alami pada hidung dan saluran pernapasan bagian atas. PM2.5 kemudian dapat mencapai alveolus atau kantung udara di paru-paru, bahkan berpotensi masuk ke aliran darah.

Selain PM2.5, asap karhutla juga membawa berbagai polutan lain seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), dan senyawa organik volatil (VOC) yang dapat bersifat iritatif maupun berbahaya bagi kesehatan.

Dampak paparan asap dapat beragam, mulai dari iritasi mata dan saluran pernapasan hingga memperburuk penyakit paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan jantung.

Kelompok Rentan

Syamsul mengatakan sejumlah kelompok masyarakat memiliki risiko lebih tinggi ketika terpapar kabut asap. Mereka antara lain bayi dan balita, ibu hamil, penderita asma atau penyakit paru-paru, serta penderita penyakit jantung.

Untuk mengurangi risiko, ia membagikan enam langkah yang dapat dilakukan masyarakat ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

Pertama, menggunakan masker yang sesuai, seperti KN95 atau N95, untuk membantu menyaring partikel halus.

Kedua, mengurangi aktivitas di luar ruangan. Aktivitas fisik berat membuat seseorang bernapas lebih cepat dan dalam sehingga jumlah partikel yang masuk ke paru-paru dapat meningkat.

Ketiga, menutup pintu dan jendela untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.

Keempat, memastikan tubuh mendapatkan cukup cairan dengan minum air putih.

Kelima, membilas mata menggunakan air bersih apabila mengalami iritasi atau rasa perih.

Keenam, segera mendapatkan pertolongan medis apabila muncul gejala berat seperti nyeri dada, jantung berdebar, sesak napas, atau pusing secara tiba-tiba.

Ikuti Imbauan

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Mohammad Jumhur Hidayat juga meminta masyarakat mematuhi arahan pemerintah daerah selama penanganan karhutla.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan kabut asap, terutama ketika kualitas udara belum membaik.

“Bagi masyarakat harus mendengarkan apa arahan dari wali kota. Jadi kalau kata Wali Kota jangan keluar rumah dulu, ada edaran, misalkan sekolah boleh dari jarak jauh, ya kita lakukan saja begitu,” kata Jumhur saat mengunjungi warga terdampak karhutla di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin.

Ia mengingatkan masyarakat tidak memaksakan diri beraktivitas di luar rumah ketika kondisi udara masih dipenuhi asap.

“Daripada nanti terkena masalah, penyakit bertambah, ada infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), sesak napas, kita yang rugi,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan mencatat hingga Jumat (21/8), karhutla telah berdampak terhadap 87 kabupaten/kota di Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Dari wilayah terdampak tersebut, sekitar tiga juta warga di 37 kabupaten/kota dilaporkan terpapar kabut asap akibat karhutla.

Paparan asap dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma dan penyakit paru-paru.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat di wilayah terdampak menggunakan masker dan memeriksa kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat di daerah terdampak karhutla perlu meningkatkan kewaspadaan. Kabut asap bukan sekadar gangguan jarak pandang, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan jika paparan berlangsung terus-menerus.

  • Terpapar Asap Karhutla

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.