• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Literasi Kesehatan Jadi Ku...

Literasi Kesehatan Jadi Kunci Pengobatan Mandiri yang Aman dan Bertanggung Jawab di Asia-Pasifik

Rabu, 22 Jul 2026, 19:15 WIB

JAKARTA – Asia-Pacific Self Medication Industry (APSMI) mendorong peningkatan literasi kesehatan masyarakat sebagai fondasi penerapan perawatan diri (self-care) dan pengobatan mandiri yang bertanggung jawab di kawasan Asia-Pasifik. Dorongan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan International Self-Care Day yang diperingati setiap 24 Juli.

APSMI menilai peningkatan literasi kesehatan menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sistem layanan kesehatan di sejumlah negara kawasan Asia-Pasifik. Masyarakat dinilai perlu memiliki pengetahuan yang memadai agar mampu mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan, termasuk dalam menangani keluhan ringan secara mandiri dan mengetahui kapan harus mendapatkan pertolongan tenaga medis.

Ket. Foto: Ilustrasi self care (perawatan diri). APSMI mendorong peningkatan literasi kesehatan untuk memperkuat praktik self-care dan perawatan diri mandiri yang aman serta mendukung sistem kesehatan di Asia-Pasifik. — Sumber: Istimewa

Perawatan diri merupakan kemampuan individu, keluarga, dan masyarakat untuk mempromosikan kesehatan, mencegah penyakit, menjaga kesehatan, serta menangani penyakit, baik dengan maupun tanpa bantuan tenaga kesehatan.

Dengan dukungan literasi kesehatan yang baik, masyarakat dapat menangani sejumlah keluhan kesehatan ringan sebagai langkah awal. Namun, mereka juga perlu memahami batasan pengobatan mandiri dan mengenali kondisi yang membutuhkan konsultasi atau pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai intervensi perawatan diri sebagai salah satu bagian penting dalam upaya mewujudkan kesehatan bagi semua serta mempercepat pencapaian cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC).

Chairman Asia-Pacific Self-Medication Industry (APSMI), Rachmadi Joesoef, mengatakan penerapan perawatan diri secara bertanggung jawab dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi sistem kesehatan dan perekonomian.

"Berbagai bukti menunjukkan bahwa perawatan self-care yang bertanggung jawab memberikan dampak positif yang signifikan, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi sistem kesehatan dan perekonomian," ujar Rachmadi.

Mengacu pada laporan riset sosial-ekonomi 2026 yang dirilis Global Self-Care Federation (GSCF), penerapan perawatan diri secara bertanggung jawab disebut berpotensi menghemat sekitar USD 144 miliar per tahun dalam anggaran kesehatan global.

Selain itu, penerapan perawatan diri juga diperkirakan dapat menghemat sekitar 2,2 miliar jam waktu pelayanan dokter, menghasilkan tambahan sekitar 43,6 miliar hari produktif, serta berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.

APSMI menyebut manfaat sosial dan ekonomi tersebut masih berpotensi meningkat. Dengan dukungan kebijakan yang mendorong peningkatan literasi kesehatan, akses terhadap obat bebas (over the counter/OTC) yang terjamin kualitasnya, serta regulasi yang mendukung, manfaat perawatan diri diproyeksikan dapat meningkat hingga 50% pada 2040.

Director-General Global Self Care Federation (GSCF), Greg Perry, mengatakan integrasi perawatan diri  secara menyeluruh dapat memberikan tingkat pengembalian investasi yang tinggi bagi sistem kesehatan.

Menurutnya, perawatan diri dapat memberdayakan masyarakat, mendukung komunitas, dan menjadi salah satu pendekatan yang efisien bagi sistem kesehatan global yang menghadapi tekanan finansial.

Penanganan keluhan kesehatan ringan secara mandiri juga dinilai dapat membantu mengurangi beban fasilitas kesehatan. Ketika masyarakat mampu menangani kondisi ringan dengan tepat di rumah, tenaga kesehatan dapat memiliki kapasitas lebih besar untuk menangani pasien dengan kondisi serius atau membutuhkan perawatan kompleks.

Meski demikian, APSMI menegaskan bahwa pengobatan mandiri tidak berarti masyarakat dapat mengonsumsi obat secara sembarangan. Penerapan perawatan diri yang bertanggung jawab tetap membutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang memadai.

Masyarakat perlu mengetahui cara memilih obat bebas yang sesuai, membaca dan memahami informasi pada label serta kemasan produk, mengikuti petunjuk penggunaan, dan mengenali tanda-tanda atau gejala yang memerlukan pemeriksaan dokter.

"Self-care yang bertanggung jawab dimulai dari literasi kesehatan. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri untuk mengelola gangguan kesehatan ringan dengan tepat, mereka tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan pribadi, tetapi juga membantu sistem layanan kesehatan fokus pada pasien yang membutuhkan penanganan medis kompleks," kata Rachmadi dalam keterangannya pada hari Rabu (22/7).

Ia menambahkan, peningkatan literasi kesehatan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi antara regulator, tenaga medis, industri, akademisi, dan masyarakat.

Momentum International Self-Care Day tahun ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju APSMI Self-CARER Bali Summit 2026. Pertemuan regional tersebut akan mempertemukan regulator, pembuat kebijakan, pakar kesehatan global dan regional, serta pemimpin industri dari kawasan Asia-Pasifik.

Forum tersebut akan membahas penguatan ekosistem perawatan diri melalui pendekatan berbasis bukti (evidence-based), peningkatan literasi kesehatan, serta perluasan akses terhadap produk perawatan diri yang aman dan berkualitas.

Sebagai asosiasi regional yang menaungi industri swamedikasi di Asia-Pasifik, APSMI terus mendorong kolaborasi dengan regulator dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengembangkan kebijakan berbasis bukti yang mendukung penerapan perawatan diri secara aman dan bertanggung jawab.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program edukasi publik, dialog kebijakan, serta kemitraan lintas sektor. Tujuannya adalah meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memperluas akses terhadap produk obat mandiri yang berkualitas.

Isu literasi kesehatan juga akan menjadi salah satu topik utama dalam APSMI Bali Summit 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah bagi para peserta untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam merumuskan kebijakan yang dapat mengintegrasikan perawatan diri ke dalam sistem kesehatan nasional.

Dengan penguatan literasi kesehatan, penerapan perawatan diri diharapkan tidak hanya membantu masyarakat mengelola kesehatan secara lebih mandiri, tetapi juga mendukung efisiensi sistem kesehatan dan pencapaian target Universal Health Coverage (UHC) di kawasan Asia-Pasifik.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.