• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Bukan sekadar Kain Hiasan,...

Bukan sekadar Kain Hiasan, Wastra Ecoprint Flora Benuanta, Rekam Jejak Keanekaragaman Hayati Kalimantan, Sebuah Keindahan Tanpa Duplikat

Selasa, 25 Agu 2026, 22:59 WIB

TARAKAN - Kain katun berwarna putih berukuran 40X175 sentimeter dibentangkan oleh Agatha Chelsia Fange (58) merupakan salah satu perajin ecoprint di Kalimantan Utara (Kaltara) di atas meja kayu yang memiliki ukuran lebih besar dari kain.

Ecoprint merupakan teknik mencetak atau memberi motif dan warna pada kain, kulit, atau kertas menggunakan bahan-bahan alami dari lingkungan sekitar, seperti daun, bunga, batang, atau ranting

Ket. Foto: Wastra ecoprint karya perajin dari Tarakan, Agatha Chelsia Fange (58) dengan merek dagang Marco Handmade. — Sumber: ANTARA/Susylo Asmalyah

Sebelumnya proses ecoprint dimulai dengan ritual dari pencucian kain katun tersebut.

Katun polos ditenggelamkan dalam rendaman sabun ringan sebuah proses pembuka pori-pori agar serat katun siap mendapatkan jejak dan mengikat zat warna alami yang kelak dititipkan sang daun.

“Itu dinamakan proses scoring atau dicuci dari jejak minyak kotoran-kotoran dari pabrik yang menempel di kain. Kemudian kain tersebut dengan direndam selama 30 menit dengan sabun ringan, dari air rendaman ada terlihat kuning-kuning dari kain, dilanjutkan membuka serat kain untuk bisa menerima jejak-jejak daun jika diproses,” kata Chelsea panggilan akrab di Tarakan, Senin (24/8) sambil menunjuk air bekas rendaman kain.

Setelah itu, kain dalam kondisi atus yaitu kondisi kain yang basah, tapi tidak ada air menetes dan serat kain sudah terbuka, maka kain siap menerima jejak-jejak flora.

Selanjutnya, Chelsea mulai menata daun-daun dan ilalang yang banyak ditemukan di Tarakan ini, di atas bentangan kain. Jemarinya yang lembut mulai menatanya, dengan motif alam sesuai ukuran dan bentuk diinginkan.

Daun ketapang, pakis-pakisan, ilalang, hingga potongan kayu merah yang ditata satu persatu sesuai jiwa seni yang disukainya. "Posisi tulang daun harus pas menempel di kain. Hal ini menentukan tajam atau lembutnya warna dan motif daun yang akan tertinggal nanti," katanya.

Selesai flora ditata di kain kemudian digulung ketat, diikat tiap lembar daun dalam pelukan kain yang rapat. Dikukus selama 1,5 jam dalam dandang besar beruap panas dengan asap mengepul di dapur milik Chelsea. Keajaiban transfer warna dan bentuk dari flora dimulai di dalam proses pengukusan.

Panas kukusan secara perlahan memaksa pigmentasi alami daun berpindah ke kain, menyatu abadi ke dalam tulang serat.

Saat Chelsea mengangkat gulungan kain berisi flora tertata, mulai tercium aroma khas dedaunan. Kemudian, momen paling mendebarkan tiba saat bungkusan kain sudah hangat, tali pengikatnya dilepas pelan-pelan.

Ketika gulungan kain dibeberkan dan sisa daun layu disapu, terpancarlah kejutan magis, lukisan alami tercetak sempurna, tak akan pernah ada duplikat motif yang persis sama tersirat pada tiap wastra ecoprint.

Namun, adanya faktor ketidakpastian dari kriya tekstil ecoprint yang punya unsur warna yang kadang tidak keluar sesuai prediksi, namun ketidakpastian inilah yang menjadikan wastra ecoprint dari flora Benuanta punya ciri tersendiri.

“Setelah itu dikeringkan dengan diangin-anginkan selama lima hari, lanjut dilakukan fiksasi dengan menggunakan tawas atau kapur untuk memberikan efek warna putih, juga menggunakan tunjung untuk memberikan efek warna karat besi dan tidak mudah luntur,” katanya.

Dijelaskannya untuk teknik pembuatan ecoprint ada tiga teknik yakni dengan founding atau diketok daunnya tanpa dikukus, kemudian dikukus dan dikukus dengan ada transfer warna.

Setiap daun memiliki ukuran, tulang daun serta menghasilkan warna yang berbeda satu dengan yang lain, walaupun dari satu jenis flora atau tumbuhan yang sama.

Hal ini yang menjadi ciri eksklusif dari karya ecoprint, dimana satu helai kain menghasilkan satu karya tanpa ada yang sama atau duplikatnya.

Chelsea yang merupakan Ketua Asosiasi Ecoprint Indonesia untuk wilayah Kalimantan dan Koordinator Ecoprint Kaltara mengatakan hasil karya ecoprint yang dibuatnya berasal dari tumbuhan di sekitarnya yang kebanyakan hasil menanam sendiri.

Terutama tanaman endemis Kalimantan yang tidak terdapat di daerah lain, seperti ilalang yang menghasilkan warna merah dan navy.

Chelsea yang menekuni seni ecoprint mulai tahun 2020, dimana kebanyakan dalam karya seni ecoprint yang dihasilkan dikombinasikan dengan motif etnik Dayak untuk memberikan ciri khasnya.

Satu kain, satu karya tanpa ada yang sama, bahkan jika menggunakan daun dari pohon yang sama dan dikukus di dalam dandang yang sama, cuaca, kelembapan udara, dan kadar air daun tetap akan melukiskan detail yang berbeda.

Wastra ecoprint flora Benuanta ini bukan sekadar kain hiasan, melainkan rekaman jejak keanekaragaman hayati Kalimantan adalah sebuah keindahan tanpa duplikat, yang tak akan pernah terulang.

20260825225756_2.jpg

Wastra ecoprint karya perajin dari Tarakan, Agatha Chelsia Fange (58) dengan merek dagang Marco Handmade. (Antara/Susylo Asmalyah)

KPwBI Kaltara melakukan pembinaan

Setelah finishing selesai wastra hasil jejak flora Benuanta ini siap dipasarkan, dimana Chelsea saat ini banyak menjual syal dengan dua ukuran 40x175 sentimeter dengan harga Rp125 ribu perhelai dan ukuran 60X200 sentimeter dengan harga Rp180 ribu permeter.

“Saya biasa menjual di toko saya dan di media sosial Instagram dengan akun marcohandmadetrk,” katanya. Kebanyakan pembeli yang datang ke tokonya menggunakan pembayaran digital QRIS.

Selain membuat syal dengan dua ukuran, Chelsea juga membuat vest dari wastra ecoprint dengan harga jual Rp350 ribu perpotong. Saat ini, omzet penjualan dari wastra ecoprint sekitar Rp35 juta perbulan.

Dia mengungkapkan kebanyakan karya ecoprint dihasilkannya disukai pangsa pasar luar negeri. Hal itu terlihat saat Chelsea bersama Pemerintah Provinsi Kaltara mengikuti China Expo di (Caexpo) di Kota Nanning, Tiongkok tahun 2024, hasil karya ecoprint hasil karyanya banyak diminati pengunjung acara tersebut.

Kemampuan sebagai perajin Ecoprint ini, Chelsea tidak dimanfaatkan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Dia juga membagi ilmu dengan masyarakat, agar ilmunya dapat berguna dan menghasilkan.

Saat ini, Chelsea untuk ecoprint mempekerjakan tiga orang tetangganya dan seorang dari kalangan disabilitas.

Selain itu, memberikan pelatihan kepada mahasiswa Universitas Borneo Tarakan (UBT) dan mereka dari kalangan disabilitas. Kegiatan pelatihan dilakukan Chelsea, agar para mahasiswa dan masyarakat dapat memanfaatkan keanekaragaman tumbuhan yang ada di sekitarnya untuk seni ecoprint.

Keberhasilan Chelsea dalam mengembangkan produknya tidak lepas dari campur tangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara yang memberikan pembinaan dan manajemen.

Serta dibantu memasarkan produk dengan mengikuti kegiatan Karya Kreatif Benuanta (KKB) yang sudah mengikuti dari tahun pertama sampai ketiga ini. “Kalau belum ada KKB ada perbedaanya, sekarang lebih terkenal, dan dukungan bikin semakin semangat,” kata Chelsea sambil tersenyum lebar.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kalimantan Utara, Rahmawati Zainal yang juga anggota Komisi VII DPR RI mengatakan bahwa bicara soal wastra Kaltara, sebetulnya bicara tentang kekayaan yang selama ini kurang terekspos.Padahal potensinya luar biasa, Kaltara punya keragaman etnis yang sangat kaya.

“Selain itu, wastra Kaltara juga mulai naik panggung nasional. Tahun 2025 lalu, Tarakan bahkan menjadi salah satu pendukung Parade Wastra Nusantara di tingkat nasional,” kata Rahmawati.

Ini menunjukkan bahwa perlahan wastra kita mulai dilirik, meskipun jujur dia katakan, Kaltara masih tertinggal dari sisi branding dan skala usaha dibanding provinsi lain di Kalimantan.

“Kebetulan ini juga sangat relevan dengan tugas saya sekarang di Komisi VII yang mitra kerjanya mencakup Kementerian Pariwisata, Kementerian Perindustrian, Kementerian UMKM, dan Kementerian Ekonomi Kreatif,” kata Rahmawati.

Menurutnya perkembangannya positif dan mulai bergerak, tapi masih dalam tahap rintisan. Semangat perajin sudah ada, potensi budaya sudah ada, tinggal bagaimana pemerintah pusat, daerah, dan lembaga terkait hadir memberi dukungan yang konsisten.

"Saya selalu sampaikan ke teman-teman perajin, ada beberapa hal yang perlu jadi prioritas yakni standarisasi kualitas. Mulai dari bahan baku, teknik pewarnaan, kerapian jahitan, sampai kemasan,” kata Rahmawati.

Dia mengatakan produk yang bagus secara motif tapi lemah di finishing akan sulit bersaing, apalagi kalau target pasarnya sudah nasional atau ekspor.

Rahmawati mendorong perajin untuk mulai mengenal standar mutu dari Badan Standardisasi Nasional (BSN), supaya produk wastra Kaltara punya jaminan kualitas yang diakui secara nasional, bukan sekadar bagus di mata sendiri.

Terkait perkembangan ecoprint di Kaltara, Ketua Dekranasda mengatakan menarik karena sejalan dengan isu keberlanjutan yang semakin jadi, dimana tuntutan pasar global.

Apalagi Kaltara adalah provinsi dengan kekayaan hutan tropis dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, jadi bahan bakunya sebetulnya melimpah di depan mata yakni daun, bunga, kulit kayu lokal yang bisa dieksplorasi jadi motif ecoprint yang unik dan tidak dimiliki daerah lain.

Menurutnya saat ini perlu adanya riset motif berbasis flora endemik Kaltara, agar karya ecoprint akan lebih punya nilai jual dan cerita kalau motifnya diambil dari tanaman khas Kaltara, bukan sekedar meniru motif ecoprint daerah lain seperti Jawa.

Kemudian pelatihan teknik yang konsisten, terutama untuk kelompok ibu-ibu PKK dan UMKM perempuan, karena ecoprint terbukti di banyak daerah lain mampu memberdayakan perempuan secara ekonomi dengan modal dan alat yang relatif sederhana.

Serta standarisasi teknik pewarnaan dan fiksasi alami, supaya hasil cetakan pada kain tahan lama dan tidak cepat pudar, ini sering jadi kelemahan produk ecoprint pemula.

“Perlu pengembangan produk turunan, tidak hanya kain lembaran, tapi diarahkan menjadi produk siap pakai seperti kemeja, outer, tas, hingga aksesoris interior, agar lebih mudah dipasarkan ke segmen anak muda dan wisatawan,” kata Rahmawati.

Dia mengatakan narasi keberlanjutan sebagai nilai jual utama. Karena ecoprint ramah lingkungan ini, bisa jadi diferensiasi Kaltara di pasar nasional maupun ekspor yang saat ini makin peduli produk eco-friendly dan slow fashion.

Sinergi dengan sektor pariwisata dan kawasan konservasi di Kaltara, misalnya menjadikan workshop ecoprint sebagai bagian dari paket wisata edukatif di kawasan-kawasan yang sedang dikembangkan.

Menurutnya kalau ini digarap serius, ecoprint bisa jadi salah satu diferensiator wastra Kaltara di kancah nasional, bukan sekadar mengikuti tren, tapi benar-benar merepresentasikan kekayaan alam Kaltara.

“Sebagai anggota DPR RI dari dapil Kaltara, ini yang terus saya kawal lewat forum-forum rapat kerja dengan mitra kerja Komisi VII maupun kementerian/lembaga lain, bagaimana mendorong agar dukungan untuk perajin wastra ini terstruktur dan berkelanjutan, bukan sekadar seremonial festival tahunan,” katanya.

Rahmawati juga mengakui peran Bank Indonesia Perwakilan Kaltara sudah cukup aktif belakangan ini. Beberapa hal konkret yang BI Kaltara lakukan mendorong UMKM naik kelas melalui digitalisasi, akses pembiayaan, dan business matching dengan lembaga keuangan.

Ada fokus khusus pada pengembangan tekstil kerajinan lokal, penguatan desain produk, pendampingan, sampai akses pasar untuk meningkatkan daya saing. BI juga mendorong orientasi ekspor, mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli internasional, katanya.

“Kantor Perwakilan yang turut membina wilayah sekitar Kaltara, harus ada program konkret seperti workshop desain produk wastra yang melibatkan desainer muda dan pelaku UMKM binaan,” kata Rahmawati.

Saat ini, BI Kaltara juga aktif mendukung sertifikasi halal dan penguatan ekosistem ekonomi syariah yang relevan untuk produk-produk fesyen muslim berbahan wastra. Namun menurutnya perannya masih bisa diperluas lagi.

“Kaltara sebetulnya perlu even serupa yang konsisten setiap tahun, bukan hanya program parsial. Saya mendorong, agar BI Kaltara bersama Pemprov dan Dekranasda Kaltara membangun flagship even wastra tahunan yang jadi etalase resmi produk-produk seperti Batik Lulantatibu, tenun Dayak Kenyah, dan kain khas Tidung-Bulungan,” katanya.

Dan tentu peran BI ini akan makin optimal kalau disinergikan dengan mitra kerja Komisi VII lainnya, Kementerian Ekonomi Kreatif untuk penguatan branding dan hak kekayaan intelektual motif wastra, Kementerian Pariwisata untuk mengaitkan wastra dengan paket wisata budaya, serta Kementerian Perindustrian dan Kementerian UMKM untuk sisi hulu produksi dan legalitas usaha.

“Ini yang terus saya dorong lewat rapat-rapat kerja Komisi VII, supaya penanganan wastra Kaltara tidak berjalan sendiri- sendiri antar-instansi,” kata Rahmawati.

Langkah KpwBI Kaltara patut diapresiasi

Menurut Direktur Politeknik Bisnis Kaltara dan Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan BI, Dr. Ana Sriekaningsih., SE., S.Th., MM bahwa langkah KpwBI Kaltara dalam mendorong pengembangan UMKM lokal menunjukkan komitmen strategis yang patut diapresiasi.

“Terutama dalam menjawab tantangan struktur ekonomi daerah yang berbasis kepulauan dan berbatasan langsung dengan negara tetangga,” kata Ana.

Dia mengatakan ada beberapa poin krusial yang menjadi catatan dan apresiasi terhadap peran BI Kaltara yakni digitalisasi keuangan dan inkulsivitas QRIS untuk akselerasi perluasan QRIS hingga ke pasar tradisional, pedagang kecil di Tarakan, Nunukan, hingga wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) menjadi tonggak penting.

Langkah ini, tidak hanya memodernisasi cara bertransaksi, tetapi juga secara berlanjut membantu UMKM membangun credit scoring digital yang memudahkan mereka mengakses pembiayaan perbankan secara resmi.

Kemudian penguatan kapasitas usaha dan akses pasar melalui program pendampingan, kurasi produk, dan Kaltara Showcase serta partisipasi dalam Karya Kreatif Indonesia, BI Kaltara berhasil membawa produk unggulan lokal seperti batik khas Kaltara, olahan rumput laut, dan komoditas pangan ke tingkat nasional bahkan ekspor.

Menurut Ana ada penekanan pada standardisasi mutu, branding, dan legalitas usaha menjadi kunci,agar produk UMKM dapat bersaing di rantai pasok yang lebih luas.

Pembiayaan finansial dan linkage perbankan merupakan upaya menjembatani UMKM dengan lembaga keuangan formal melalui instrumen pembiayaan inklusif seperti Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial/RPIM, memperkecil kesenjangan modal.

“Potensi sektor ekonomi kreatif dan olahan berbasis sumber daya alam lokal di Kaltara sangat besar,” kata Ana. Pendampingan yang berfokus pada prinsip keberlanjutan dan kemandirian pangan daerah menjadikan UMKM sebagai pilar stabilitas harga sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi non tambang.

Sedangkan tantangan dan harapan ke depan, agar dampak pembinaan BI Kaltara semakin optimal dan meluas, beberapa aspek dapat terus ditingkatkan dengan melakukan sinergi antar lembaga melakukan kolaborasi yang semakin solid dengan Pemda, perbankan daerah, serta akademisi untuk penguatan edukasi manajemen keuangan dasar.

Penguatan logistik dan distribusi: Mengingat letak geografis Kaltara, efisiensi rantai pasok dan biaya logistik antarwilayah perlu mendapat perhatian bersama agar efisiensi usaha UMKM tetap terjaga.

"Kemudian dilakukan juga pendampingan pasca kurasi guna memastikan UMKM yang telah terdigitalisasi dan terkurasi mendapat pengawalan konsisten, agar tidak kembali ke pola usaha konvensional," kata Ana.

Dia menegaskan secara keseluruhan, inisiatif dan fasilitasi BI Kaltara telah berada di jalur yang tepat untuk menjadikan UMKM sebagai fondasi ketahanan ekonomi regional Kaltara. Ant

  • Wastra Ecoprint Flora Benuanta

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

Berita Terbaru

Bukan sekadar Kain Hiasan, Wastra Ecoprint Flora Benuanta, Rekam Jejak Keanekaragaman Hayati Kalimantan, Sebuah Keindahan Tanpa Duplikat

Karya Kreatif Indonesia 2026: UMKM Jambi Binaan BI Raup Penjualan Rp675,87 Juta

Dorong Keberlanjutan Sektor Bangunan, Schneider Electric Kampanyekan Teknologi Berbasis Data

PLTS 100 GWp Hemat APBN Rp73 Triliun per Tahun dan Ciptakan 5,5 Juta Lapangan Kerja

Kolaka Jadi Lumbung Padi Sultra, Pemkab Siapkan Lahan untuk RMU

Konflik Sudan Selatan Memanas, Dua Personel Perdamaian PBB Asal Ethiopia Tewas Ditembak

Seolah Tak Pernah Padam, Horor Wabah Ebola Kongo Tembus 5.500 Kasus

Perkuat Kemitraan Industri, RI-India Bidik Kolaborasi di EV, Semikonduktor & Digital

Pemkab Karawang Salurkan Puluhan Pompa untuk Petani Atasi Kekeringan

184 Ribu Warga Jateng Terdampak Kekeringan, PU Distribusikan Air Bersih ke 24 Kabupaten

Pengembangan Ekraf Berbasis Wellness Didorong Wamenekraf jadi Peluang Baru Pertumbuhan Ekonomi

BPBD Gunungkidul Salurkan 2,4 Juta Liter AIr selama Kekeringan

Dirut PLN: Indonesia Jalankan Proyek PLTS Terbesar di Dunia

Polisi Tangkap WNA Malaysia Terkait Peredaran Vape Narkoba

Fantastis! Produk Kreatif Binaan BI Kaltim Raup Omzet Rp1,14 Miliar di Ajang KKI Jakarta

Kabar Baik untuk Warga Tabukeker, PLTMH Buka Akses Listrik dan Air Bersih.

KTP Tak Laku Buat Memperoleh Kartu SIM baru, Lalu Pakai Apa?

Kawasan Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Pemkot Bandung jadi Kawasan Ekonomi Khusus, Wisata Kuliner dan Ekraf

Kemenhub Imbau Masyarakat Cek Kelaikan Bus Lewat Aplikasi Spionam dan Mitra Darat

Janice Tjen Melaju ke Babak 16 Besar, Sayang Aldila Terhenti

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.