Korut Waspadai Peningkatan Anggaran Pertahanan Jepang

Senin, 24 Agu 2026, 02:40 WIB

SEOUL - Korea Utara (Korut) pada Sabtu (22/8) mengecam rencana Jepang yang dilaporkan akan meningkatkan anggaran pertahanannya, seraya menuduh Tokyo bersiap untuk melancarkan perang agresi ketika sekutunya yaitu Amerika Serikat (AS) berencana untuk melakukan pembicaraan dengan Pyongyang.

Jepang secara bertahap beralih dari sikap pasifis pasca-Perang Dunia II dengan meningkatkan belanja militer, meningkatkan pakta pertahanan dan mengerahkan peluncur misil ke pulau-pulau terluarnya.

Ket. Foto: Sejumlah anggota pasukan pertahanan berbaris dalam sebuah acara penyambutan di kantor Kementerian Pertahanan Jepang di Tokyo pada 24 Juni lalu. Pada Sabtu (22/8), Korut mengecam rencana Jepang yang dilaporkan akan meningkatkan anggaran pertahanannya. — Sumber: AFP/Yuichi YAMAZAKI

“Kementerian Pertahanan Jepang kini sedang mengejar anggaran tertinggi untuk tahun fiskal mendatang,” lapor lembaga penyiaran NHK dan media lainnya pekan lalu, dengan jumlah sebesar 8,9 triliun yen (USD56 miliar).

“Permintaan anggaran akan sekali lagi memecahkan rekor sepanjang masa,” sebuah komentar dari kantor berita KCNA mengatakan.

Meskipun belum rampung, langkah tersebut jelas menandakan perluasan anggaran perang yang berbahaya yang akan membawa gejolak baru di kawasan dan dunia, kata KCNA.

"Peningkatan besar-besaran dalam pengeluaran militer ini akan mengarah pada penumpukan kekuatan militer untuk menyelesaikan persiapan perang agresi," ungkap KCNA.

AS, sekutu lama Jepang dan Korea Selatan (Korsel), sementara itu mencari keterlibatannya sendiri dengan Pyongyang, dengan Presiden Donald Trump memerintahkan untuk mengurangi latihan militer tahunan dengan Seoul yang bertujuan untuk melawan potensi ancaman dari Korut yang memiliki senjata nuklir.

Perintah Trump telah membuat risau sekutu yang khawatir tentang komitmen AS terhadap keamanan di Asia timur. Jepang pekan lalu secara kritis menggarisbawahi pentingnya kerja sama keamanan dengan AS dan Korsel.

Trump juga mengatakan akan bertemu dengan pemimpin Korut, Kim Jong-un, pada tahun ini.

Warisan Kolonial

Jepang menduduki seluruh Korea sebelum menyerah pada Perang Dunia II pada tahun 1945, setelah itu semenanjung tersebut dibagi menjadi beberapa negara bagian di sepanjang paralel ke-38.

Warisan masa kolonial yang penuh kekerasan terus membebani kebijakan luar negeri Korut dan Korsel.

Tiongkok, sekutu utama Korut, baru-baru ini menyatakan kekhawatirannya atas apa yang mereka anggap sebagai "militerisme baru" oleh Jepang.

Pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi sendiri sedang melakukan pembaruan besar-besaran terhadap strategi pertahanan nasional tahun ini dalam menghadapi ambisi militer Tiongkok yang semakin besar.

Beberapa waktu lalu Tokyo telah mencabut larangan ekspor senjata yang diberlakukan Jepang dan memperluas belanja pertahanan, sambil mendorong amandemen konstitusi pasifis. Namun, Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi pekan lalu menegaskan kembali tekad pemerintah untuk terus memenuhi tanggung jawab Jepang untuk menegakkan jalur Jepang pascaperang sebagai negara yang damai, kata dia saat berkunjung ke sebuah kuil untuk menghormati korban perang di negara tersebut.AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.