Jakarta Menuju 20 Besar Kota Dunia, PBB Soroti Investasi dan Polusi

Kamis, 08 Okt 2026, 06:00 WIB

Jakarta - Koordinator Residen PBB di Indonesia Gita Sabharwal menilai Jakarta memiliki peluang menjadi model global bagi kota yang kompetitif, inklusif, berkelanjutan, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan perkotaan.

“Jakarta berpotensi menjadi model global, khususnya bagi kota yang berupaya untuk menjadi kompetitif secara global, inklusif, berkelanjutan, dan tangguh,” kata Sabharwal dalam sesi panel “Building Competitive and Livable Cities” pada Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).

Ket. Foto: Koordinator Residen PBB di Indonesia Gita Sabharwal berbicara dalam sesi panel "Building Competitive and Livable Cities" Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10). — Sumber: Antara

Menurut Sabharwal, ukuran dan skala Jakarta yang besar memberikan peluang sekaligus tanggung jawab untuk membangun kota yang mampu bersaing secara global, tetapi tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Ia menyebut Jakarta menargetkan masuk dalam 20 besar kota dunia pada 2045. Sabharwal memahami tantangan yang dihadapi para pemimpin kota dalam mewujudkan visi tersebut, sehingga diperlukan kemitraan yang mampu menggabungkan pendanaan, keahlian, dan solusi dari berbagai pihak.

“Kemitraan” tersebut, kata dia, dapat dilakukan melalui kerja sama pemerintah dan swasta serta pemanfaatan berbagai platform yang tersedia untuk membuka akses terhadap solusi, keahlian, dan pembiayaan global.

Untuk mendukung upaya tersebut, PBB bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) akan meluncurkan platform Indonesia untuk Investasi Global bagi Pembangunan Berkelanjutan.

Platform itu dirancang untuk mempertemukan investor, mitra pembangunan, serta pelaku usaha dari dalam dan luar negeri, termasuk lembaga keuangan internasional.

Sabharwal mengatakan platform tersebut juga akan mengembangkan berbagai mekanisme pembiayaan, termasuk pembiayaan campuran dan skema inovatif, guna membuka akses modal bagi sejumlah prioritas pembangunan perkotaan.

Prioritas tersebut mencakup pembangunan infrastruktur perkotaan, sistem energi, energi terbarukan, hingga pengelolaan sampah.

Namun, Sabharwal mengingatkan bahwa besarnya peluang yang dimiliki kota juga diikuti berbagai kerentanan. Kota menjadi pusat pekerjaan, inovasi, investasi, dan layanan, tetapi sekaligus berada di garis depan menghadapi perubahan iklim, tekanan lingkungan, dan ketimpangan sosial.

Berbagai tantangan tersebut, menurut dia, membutuhkan dukungan infrastruktur, perumahan, dan sistem transportasi yang memadai serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan.

Dalam kesempatan itu, Sabharwal juga menyoroti persoalan polusi udara di Jakarta. Menurut dia, masyarakat telah memahami dampak polusi terhadap kesehatan dan produktivitas serta mengetahui berbagai penyebab dan sumber pencemaran udara.

Ia menilai kondisi polusi juga dapat berubah seiring pergantian musim sehingga penanganannya membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan terintegrasi.

“Kita memerlukan pendekatan terintegrasi, karena udara bersih bukan sekadar solusi lingkungan; hal ini bergantung pada sistem energi, sistem transportasi, dan sistem pengelolaan limbah,” ujarnya.

Sabharwal menekankan bahwa pembangunan kota yang kompetitif dan layak huni perlu dilakukan secara bersamaan dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

  • Jakarta Global City

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.