Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah
Senin, 24 Agu 2026, 07:53 WIBCINCINNATI â Arthur Fils menorehkan tonggak penting dalam kariernya setelah menjuarai Masters 1000 Cincinnati. Petenis Prancis berusia 22 tahun itu mengalahkan petenis tuan rumah Frances Tiafoe 6-3, 1-6, 6-0 dalam pertandingan final, Senin (24/8).
Gelar tersebut menjadi gelar Masters 1000 pertama Fils sekaligus yang terbesar dalam kariernya. Kemenangan ini juga mengakhiri penantian Prancis selama 12 tahun untuk kembali memiliki juara Masters 1000, setelah Jo-Wilfried Tsonga terakhir kali melakukannya di Toronto pada 2014.
Keberhasilan di Cincinnati langsung mengangkat posisi Fils ke peringkat 11 dunia, yang sekaligus menjadi peringkat terbaik sepanjang kariernya. Momentum itu datang tepat menjelang US Open yang akan dimulai sepekan kemudian.
Tak lama setelah memastikan kemenangan, Fils langsung menghubungi kedua orang tuanya melalui telepon. Sang ayah menjadi orang pertama yang dihubunginya setelah pertandingan.
"Itu ayah saya di telepon. Sekarang saya harus menelepon ibu," ujar Fils dengan penuh kegembiraan dalam seremoni penyerahan trofi.
Ia kemudian mengenang perjalanan panjang yang harus dilalui sebelum akhirnya meraih gelar terbesar tersebut.
"Wow, rasanya luar biasa. Rasanya benar-benar luar biasa. Ada begitu banyak latihan, begitu banyak hal, begitu banyak pengorbanan," kata Fils.
Kesuksesan Fils terasa semakin istimewa karena perjalanan menuju puncak tidak berlangsung mulus. Ia sempat kehilangan sebagian besar musim 2025 akibat cedera punggung, sementara masalah pada pinggul juga membuatnya harus menepi selama beberapa bulan pada musim ini.
"Cedera... Untuk bisa memenangkan satu gelar seperti ini, artinya sangat besar bagi saya," tutur Fils.
Fils tampil agresif sejak awal pertandingan. Ia langsung mematahkan servis Tiafoe dan membuka keunggulan 3-0. Permainan dari baseline yang solid membuat petenis Prancis itu mampu mengendalikan sebagian besar reli.
Tiafoe kesulitan memberikan tekanan terhadap servis lawannya. Fils bahkan hanya kehilangan tiga poin dari servisnya sepanjang set pertama dan menutupnya 6-3 dalam waktu 29 menit.
Namun, situasi berubah drastis pada set kedua. Tiafoe mulai bermain lebih agresif dan memanfaatkan kesalahan-kesalahan Fils. Petenis Amerika Serikat itu dua kali mematahkan servis Fils untuk unggul 5-1 sebelum menyamakan kedudukan lewat kemenangan 6-1.
Setelah set kedua, Tiafoe sempat meminta perawatan pada pinggul kanannya yang sudah mengganggunya dalam beberapa pekan terakhir.
Fils justru mampu bangkit dan kembali menemukan permainan terbaiknya pada set penentuan.
Ia langsung merebut servis Tiafoe untuk memimpin 2-0, kemudian kembali melakukan break untuk memperbesar keunggulan menjadi 4-0. Setelah memegang servis dan unggul 5-0, Fils hanya tinggal selangkah dari gelar.
Tiafoe sempat menyelamatkan dua match point pada gim terakhir. Namun, Fils mendapatkan kesempatan ketiga setelah melakukan lob yang memaksa lawannya bertahan. Pengembalian forehand Tiafoe kemudian melewati garis baseline. Pertandingan berakhir setelah 98 menit, dengan Fils menang telak 6-0 pada set ketiga.
Fils mengungkapkan bahwa percakapan singkat dengan dirinya sendiri setelah set kedua menjadi salah satu kunci kebangkitannya.
"Saya memulai set pertama dengan sangat, sangat kuat. Pada set kedua saya sedikit kehilangan fokus dan dia memberikan tekanan kepada saya," katanya.
"Tetapi setelah set kedua, saya berbicara sedikit kepada diri sendiri di depan cermin. Saya berkata, 'Jika kamu akan kalah, situasinya tidak mungkin menjadi lebih buruk dari ini. Kamu harus berjuang.'â
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. "Saya tidak punya kata-kata untuk menggambarkan kemenangan ini," ujar Fils. "Setelah cedera yang memperlambat perkembangan saya, ada sedikit rasa lega. Ini benar-benar pekan yang luar biasa. Kami melakukan pekerjaan yang luar biasa dan semuanya belum selesai."
Final Cincinnati juga mencatat sejarah tersendiri. Fils dan Tiafoe menjadi dua petenis kulit hitam pertama yang bertemu dalam final Masters 1000. Fils berharap pencapaian tersebut bisa memberikan inspirasi bagi generasi berikutnya.
"Jika mereka bisa melihat kami bermain di final hebat seperti ini dan kemudian bermimpi untuk bisa berada di posisi yang sama, itu sesuatu yang indah," kata Fils kepada Tennis Channel.
Bagi Tiafoe, kekalahan tersebut menjadi kegagalan kedua di final Masters 1000 Cincinnati. Pada 2024, ia juga mencapai partai puncak sebelum dikalahkan Jannik Sinner
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Komisi XIII DPR RI Minta Pemprov NTT Optimalkan Harmonisasi Produk Hukum Daerah
-
Luar Biasa, Spanyol Juara Piala Dunia 2026!!!!!!!
-
El Nino Bakal Lebih Panjang, Stok Aman, Ada Bantuan Pangan 997 Ribu Ton
-
CENTCOM Umumkan Kematian Tentara AS Ketiga oleh Ledakan Drone Kamikaze Iran
-
Jawa Barat Rawan Pembegalan, Sepanjang Juli 2026 Saja Polda Jabar Ungkap 24 Kasus Begal
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.