Kabut Asap Mengancam Kesehatan Paru Anak

Minggu, 23 Agu 2026, 23:12 WIB

Pontianak - Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Pontianak, dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc mengatakan kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat menjadi perhatian karena dampaknya terhadap kesehatan paru anak.

"Terutama risiko paparan polutan terhadap paru-paru yang masih berkembang. Kabut asap adalah persoalan kesehatan anak dan setiap kali seorang anak menghirup udara yang tercemar, ada paparan polutan berbahaya yang sedang berlangsung," kata Rista di Pontianak, Minggu.

Ket. Foto: Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Pontianak, dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc — Sumber: Antara

Dia mengatakan kabut asap tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan atau dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut dia, perlindungan terhadap anak harus menjadi bagian penting dalam merespons memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.

Ia menjelaskan setiap keputusan ketika kualitas udara memburuk, seperti membatasi aktivitas di luar ruangan, memindahkan kegiatan olahraga ke dalam ruangan, menutup jendela, hingga memberikan perlindungan tambahan bagi anak dengan asma, berkaitan dengan upaya mengurangi paparan polutan terhadap paru-paru.

“Masyarakat memang tidak dapat meminta anak berhenti bernapas. Tetapi kita dapat memilih untuk tidak membiarkan mereka menghirup udara yang tercemar tanpa perlindungan yang semestinya,” ujarnya.

Rista mengingatkan orang tua tidak hanya memperhatikan munculnya batuk pada anak ketika kabut asap terjadi. Gejala lain juga perlu diperhatikan, termasuk perubahan cara bernapas, penurunan aktivitas, gangguan makan dan minum, serta perubahan perilaku.

Menurut dia, bayi dan balita belum mampu menyampaikan secara jelas ketika mengalami gangguan pernapasan. Sementara anak yang lebih besar terkadang hanya mengeluhkan kelelahan tanpa menyadari bahwa kerja pernapasannya mulai meningkat.

“Anak mungkin tidak selalu mampu mengatakan bahwa udara yang dihirupnya terasa tidak nyaman. Bayi tidak dapat mengeluh, balita mungkin hanya menjadi lebih rewel,” katanya.

Karena itu, dia meminta orang tua meningkatkan kewaspadaan dan menyesuaikan aktivitas anak dengan kondisi kualitas udara, terutama ketika kabut asap semakin pekat.

Rista juga mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengambil kebijakan yang lebih tegas dalam melindungi kesehatan anak selama periode kabut asap.

Ia menegaskan bahwa membaiknya kualitas udara setelah hujan tidak berarti perhatian terhadap kesehatan paru anak boleh berakhir.

"Kita sedang menjaga paru-paru yang akan mereka gunakan sepanjang hidupnya," kata Rista.

Ia berharap penanganan kabut asap dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengendalian sumber kebakaran hingga perlindungan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak.

  • karhutla

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.