Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah
Minggu, 23 Agu 2026, 17:50 WIBYOGYAKARTA â Di hamparan lahan bawang merah seluas 200 hektare di Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, aktivitas pertanian tak lagi sepenuhnya mengandalkan tenaga dan cara-cara konvensional.
Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat mulai memanfaatkan teknologi pertanian untuk membuat proses penggarapan lahan menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien.
Bagi para petani, kehadiran teknologi bukan sekadar soal mengganti cangkul dengan mesin. Lebih dari itu, teknologi menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan produktivitas dan keterbatasan tenaga kerja.
Pengolahan lahan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga besar kini dapat dilakukan dengan lebih efektif.
Di tengah hamparan bawang merah yang menjadi salah satu penggerak ekonomi pertanian Parangtritis, langkah Gapoktan tersebut menunjukkan bahwa modernisasi pertanian dapat tumbuh dari tingkat desa.
Pemanfaatan teknologi diharapkan tidak hanya meringankan pekerjaan petani, tetapi juga menjaga produktivitas lahan 200 hektare agar tetap memberikan hasil optimal dan memperkuat kesejahteraan petani.
Ketua Gapoktan Kalurahan Parangtritis Kadiso di Bantul, Minggu (23/8), mengatakan pemanfaatan teknologi tersebut salah satunya diterapkan pada sistem penyiraman tanaman bawang merah melalui elektrifikasi.
"Jadi dengan menggunakan pompa listrik," katanya.
Ia menilai penggunaan teknologi tersebut dapat memperingan pekerjaan petani sekaligus menekan biaya penyiraman sehingga meningkatkan keuntungan petani.
"Efisiensi biaya penyiraman bisa tertekan sebesar 88 persen dibanding dengan pompa Bahan Bakar Minyak (BBM)," ujarnya.
Selain diterapkan pada sistem penyiraman, menurut dia, elektrifikasi juga dimanfaatkan petani untuk memasang light trap sebagai sarana pengendalian hama dan penyakit yang ramah lingkungan serta relatif murah.
Light trap merupakan alat perangkap hama yang menggunakan cahaya lampu dan dipasang di lahan bawang merah untuk menarik serta menjebak hama sebelum bertelur pada tanaman.
"Light trap ini efektif sekali," katanya.
Ia mengatakan pemanfaatan teknologi lainnya berupa penggunaan pesawat nirawak atau drone untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang dinilai efektif, hemat, terutama dalam meningkatkan efisiensi tenaga kerja.
"Akan tetapi drone tadi yang diterbangkan itu biasa dipinjam dari Maksitani, harapannya bisa punya drone sendiri," ujarnya.
Para petani bawang merah di kawasan tersebut juga menerapkan pola tanam serentak yang di beberapa bagian lahannya dikombinasikan dengan sistem tumpang sari.
"Jadi kalau di sini ada bawang merah, semua bawang merah, tidak ada tanaman lain kecuali tanaman tumpangsari cabai," katanya.
Dengan perpaduan pemanfaatan teknologi dan penerapan sistem pertanian tersebut, para petani dapat memperoleh hasil panen yang optimal dengan rata-rata produksi mencapai 21 ton bawang merah per hektare.
"Sebanyak 21 ton itu sudah bersih, sudah dikemas, tidak ada daun dan akar, sedangkan total lahan di sini 200 hektare, tinggal dikalikan," ujarnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bantul Perkuat Koperasi Merah Putih Lewat Kebijakan dan Sistem Digital
-
Kementan Gandeng Petani dan Pemda Stabilkan Pasokan Bawang Merah Menjelang Idul Adha
-
Pemkab Garut Kerahkan Seluruh Jajaran Selamatkan Tanaman Pangan dari Kekeringan.
-
Gojek Terapkan Biaya Batal GoCar Rp3.000, Simak Aturan dan Skema Pengecualiannya
-
Lolos ke Babak 16 Besar, Fajar/Fikri Tak Ingin Terbebani Status Juara Bertahan di China Open 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.