Daur Ulang Baterai Bekas Jadi Peluang Bisnis, Akademisi FTUI Dorong Transisi Energi.
Jumat, 07 Agu 2026, 18:22 WIB Akademisi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Ellia Kristiningrum mengembangkan bisnis baterai bekas pakai untuk mendukung transisi energi nasional.
âBaterai kendaraan listrik tidak seharusnya dipandang sebagai limbah ketika masa gunanya di kendaraan telah berakhir. Melalui konsep second life, baterai masih memiliki nilai ekonomi dan manfaat besar sebagai penyimpanan energi," kata Ellia Kristiningrum di kampus UI Depok, Jumat.
Melalui risetnya Ellia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude melalui penelitian yang mengembangkan model bisnis berbasis ekosistem untuk pemanfaatan kembali baterai kendaraan listrik setelah masa pakainya berakhir.
Dalam penelitiannya yang berjudul âModel Bisnis Baterai Second Life Kendaraan Listrik di Indonesia Berbasis Perspektif Ekosistemâ menawarkan solusi atas salah satu tantangan terbesar dalam transisi energi: pengelolaan baterai kendaraan listrik yang kapasitasnya menurun.
Â
"Meski tidak lagi optimal digunakan pada kendaraan, baterai tersebut masih memiliki kemampuan menyimpan energi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai sistem penyimpanan listrik untuk sektor industri, komersial, maupun komunitas," katanya.
Pendekatan ini tidak hanya memperpanjang umur pakai baterai, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular dan mengurangi dampak lingkungan akibat limbah baterai.
Ellia menekankan bahwa keberhasilan pemanfaatan kembali baterai tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga pada tata kelola, koordinasi, dan pertukaran informasi antarpemangku kepentingan.
Model bisnis yang dikembangkannya menempatkan ecosystem orchestrator sebagai penghubung utama antara produsen kendaraan, produsen baterai, perusahaan pengujian, industri pemanfaatan kembali, perusahaan daur ulang, regulator, hingga pengguna akhir.
Dengan demikian, seluruh proses, mulai dari pengumpulan, pengujian kondisi, pemanfaatan kembali, hingga daur ulang, berlangsung lebih terintegrasi, transparan, dan efisien.
Salah satu kontribusi penting dari penelitian ini adalah diperkenalkannya konsep verified energy asset, yakni pendekatan yang memandang baterai bekas kendaraan listrik bukan lagi sebagai limbah, melainkan sebagai aset energi bernilai ekonomi.
Melalui sertifikasi, battery passport, verifikasi kapasitas, dan sistem pengelolaan data performa baterai yang terintegrasi, pemanfaatan kembali dapat dilakukan secara lebih aman, terpercaya, dan memberikan kepastian bagi seluruh pelaku industri.
Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pemanfaatan kembali baterai sangat bergantung pada kolaborasi berbagai aktor dalam ekosistem yang terintegrasi.
Harapannya, model yang dikembangkan dapat menjadi referensi bagi industri dan pembuat kebijakan dalam membangun ekosistem baterai second life yang berkelanjutan di Indonesia.
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
Berita Terkait:
-
Tiongkok Masukkan 20 Perusahaan Jepang ke Daftar Hitam Ekspor
-
Rayakan 25 Years of Excellence: Napindo Satukan 6 Sektor Strategis dalam 1 Panggung
-
Bank Indonesia Mendadak Kembali Naikkan Suku Bunga Jadi 5,5 Persen
-
Tradisi Maantaan Sambareh ka Rumah Mintuo Dihidupkan Kembali, Festival Tabuik Piaman 2026 Jadi Upaya Lestarikan Warisan Budaya Pariaman
-
Domenico Tedesco Resmi Diumumkan Sebagai Pelatih Baru Bologna
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.