Sering Mengorok Saat Tidur? Dokter Ungkap Kaitannya dengan Risiko Gangguan Jantung
Selasa, 29 Sep 2026, 06:02 WIBJakarta - Kebiasaan mengorok pada orang dengan obesitas perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan obstructive sleep apnea (OSA) atau henti napas saat tidur.
âJadi, mengorok ini yang sangat-sangat under-diagnosed, yang sangat jauh dari terapi, bahwa pasien-pasien yang obesitas dan terkait dengan fibrilasi atrial atau AF, itu banyak yang mengorok,â kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia lulusan Universitas Indonesia dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K) dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (28/9).
Rizky mengatakan mengorok bukan sekadar tanda seseorang tidur, terlebih jika kondisi tersebut disertai OSA yang ditandai dengan berhentinya napas selama beberapa detik ketika tidur. OSA juga dapat menjadi salah satu faktor risiko tersembunyi pada pasien dengan fibrilasi atrium.
Kondisi tersebut dapat berulang selama seseorang tidur. Menurut dia, ketika tubuh kekurangan oksigen, dapat terjadi inflamasi atau peradangan yang dalam jangka panjang dapat mempercepat terbentuknya aterosklerosis atau peradangan pada dinding pembuluh darah sehingga mempermudah terjadinya fibrilasi atrium.
âJadi, mengorok ini harus diintervensi. Diintervensi bisa dengan konsultasi dengan dokter,â ujarnya.
Lebih lanjut dia menilai penanganan mengorok dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Jika penyebabnya berkaitan dengan lemak darah, hal tersebut perlu ditangani, sementara jika terdapat alergi, kondisi tersebut dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).
Ia juga mengatakan gangguan irama jantung atau aritmia dapat muncul pada orang yang pembuluh darah koronernya normal. Dengan demikian, kualitas dan kecukupan tidur perlu diperhatikan.
âTidurnya harus berkualitas, harus cukup, dan pastikan selama tidurnya yang cukup tadi, jumlahnya cukup, kualitasnya baik, harus ada screening mengorok,â ujar Rizky.
Menurut dia, pemeriksaan awal terkait kebiasaan mengorok dapat dilakukan dengan menanyakan kepada pasangan atau orang yang menjadi teman tidur.
Selain itu, teknologi seperti jam pintar (smartwatch) juga dapat digunakan untuk mendeteksi kualitas tidur dan melihat adanya episode kehilangan atau gangguan selama tidur.
Terkait obesitas, Rizky mengatakan penurunan obesitas dan pengendalian resistensi insulin dapat membantu mengontrol aritmia. Namun, ia menekankan bahwa aritmia memiliki banyak jenis.
Ia menyebut orang dengan obesitas, seperti obesitas morbid, memiliki risiko fibrilasi atrium yang lebih tinggi. Penyakit ini dapat ditangani dengan tindakan ablasi.
- Dokter jantung
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.