KPBB: Car Free Day Jadi Upaya Transformasi Sistem Transportasi Perkotaan

Selasa, 29 Sep 2026, 06:15 WIB

JAKARTA - Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) menyatakan bahwa Car Free Day (CFD) atau hari bebas kendaraan bermotor, merupakan salah satu upaya transformasi sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

"CFD bukanlah kegiatan rekreasi mingguan, melainkan bagian upaya mendorong transformasi sistem transportasi perkotaan berkelanjutan," kata Direktur Eksekutif KPBB Safrudin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (29/9).

Ket. Foto: Car free day — Sumber: antara foto

Menurut dia, Jakarta khususnya masih menghadapi berbagai tantangan perkotaan yang semakin kompleks seperti pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, kemacetan lalu lintas, dan pencemaran udara.

Safrudin mengingatkan bahwa CFD mengajak masyarakat untuk mengurangi ketergantungan penggunaan kendaraan bermotor pribadi dengan mengubah "lifestyle" pada "sustainable urban mobility", yaitu budaya berjalan kaki, bersepeda, serta menggunakan angkutan umum masal dalam melakukan perjalanan sehari-hari.

Menurut dia, apabila mengurangi ketergantungan penggunaan kendaraan bermotor ini dapat berlangsung sebagai sebuah gerakan, maka akan mampu menurunkan beban kemacetan lalu lintas, pencemaran udara dan penghematan energi terutama BBM.

"Peringatan ke-24 Car Free Day hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam mengembangkan kebijakan perkotaan yang humanis yang ditandai oleh penurunan tantangan perkotaan," ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Budi Awaluddin menyatakan CFD sejalan dengan prinsip "avoid, shift, and improve" pada "Transport Demand Management" yaitu pengelolaan kebutuhan transportasi dengan menghindari perjalanan yang tidak diperlukan, dan mengalihkan perjalanan ke moda transportasi yang lebih berkelanjutan, serta meningkatkan efisiensi dan kinerja teknologi kendaraan.

"Kita harus menyadari bahwa pengendalian pencemaran udara tidak cukup hanya mengandalkan teknologi kendaraan yang lebih bersih. Diperlukan pula perubahan pola mobilitas masyarakat," katanya.

Untuk itu, kata dia perlu menggeser paradigma pembangunan kota dari yang selama ini cenderung berorientasi pada kendaraan bermotor menuju kota yang mudah diakses dari dan ke segala penjuru kota, sesuai kebutuhan perjalanan masyarakat.

"Jalan bukan semata-mata prasarana bagi kendaraan bermotor. Jalan juga merupakan ruang publik yang harus menjamin keselamatan, kenyamanan, aksesibilitas, dan kesetaraan bagi seluruh pengguna jalan," ujarnya.

Safrudin mengusulkan beberapa agenda penting yang perlu menjadi perhatian ke depan, di antaranya memperkuat kelembagaan dan regulasi Car Free Day, sehingga dapat menjadi bagian integral dari kebijakan transportasi.

Selain itu juga meningkatkan kualitas dan pemerataan penyelenggaraan Car Free Day, dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Jakarta serta memperluas akses terhadap ruang publik yang aman dan nyaman.

Tidak hanya itu, perlu juga mengintegrasikan Car Free Day dengan pengembangan transportasi berkelanjutan secara nyata dalam proses pembangunan, khususnya peningkatan kualitas angkutan umum masal, fasilitas pejalan kaki, dan jalur sepeda yang aman serta terproteksi.

"Dengan langkah-langkah tersebut, Car Free Day dapat berkembang dari sebuah kegiatan rutin menjadi gerakan kolektif yang mendorong transformasi mobilitas perkotaan sebagai warisan gerakan massa," katanya menambahkan.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.