IPB Bidik Ekonomi Sirkular Lewat Bisnis Maggot Plasma-Inti

Minggu, 20 Sep 2026, 13:20 WIB

BOGOR – Maggot yang selama ini identik dengan pakan ternak mulai dilirik sebagai bagian dari bisnis ekonomi sirkular.

Budi dayanya menawarkan peluang untuk mengolah sampah organik menjadi sumber protein sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi, seperti pakan ternak dan pupuk organik.

Ket. Foto: Ilustrasi - Seorang warga memantau perkembangan larva maggot di tempat budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Kelurahan Madiun Lor, Kota Madiun, Jawa Timur. — Sumber: ANTARA/ Siswowidodo.

Dengan pengelolaan yang tepat, bisnis maggot berpotensi membuka sumber pendapatan baru sekaligus membantu menjawab persoalan pengelolaan sampah.

IPB University, melalui Center for Tropical Animal Studies (Centras)-Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan dan Halal (LRI PGKH), mengembangkan model bisnis maggot berkonsep plasma-inti, yang tidak sebatas budi daya, namun mengolah sampah menjadi produk bernilai.

Kepala Centras Prof Nahrowi, dalam keterangan IPB University di Bogor, Jabar, Minggu, menjelaskan model bisnis, yang dikembangkan menggunakan konsep plasma-inti dalam kerangka program Sinergi 2026.

Mitra sebagai plasma tidak perlu melakukan seluruh proses budi daya mulai dari menetaskan telur, membesarkan maggot, hingga menghasilkan telur kembali.

"Plasma dapat berfokus pada pembesaran maggot, sementara tahapan lainnya dilakukan oleh pihak yang memiliki peran masing-masing," kata Nahrowi.

Menurutnya, keberadaan off-taker menjadi bagian penting dalam model tersebut. Dengan adanya pihak yang menyerap hasil produksi, mitra memiliki kepastian pasar.

Program Sinergi diarahkan untuk mengembangkan model bisnis maggot dengan pendekatan ekonomi sirkular, khususnya mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Untuk program tersebut, IPB University telah melakukan sosialisasi model bisnis maggot itu, sekaligus penandatanganan PKS serta peminjaman mesin pengering maggot.

Nahrowi menekankan bahwa hubungan dalam model plasma-inti juga membutuhkan kepercayaan antarpihak.

Plasma harus percaya kepada inti, begitu pula sebaliknya.

Salah satu model pengembangan melibatkan lima plasma dengan kondisi berbeda, di antaranya mitra di Jakarta, Bintaro, Tenjolaya, IPB University, dan Depok. Masing-masing memiliki potensi bahan baku dan kondisi pengelolaan yang berbeda.

Selain ketersediaan sampah, proses pengeringan menjadi salah satu tantangan. Pengeringan menggunakan matahari membutuhkan waktu beberapa hari, sedangkan mesin pengering berskala besar membutuhkan investasi tinggi.

Karena itu, mesin pengering menjadi salah satu dukungan teknologi yang diberikan melalui program ini.

Melalui model tersebut, IPB University mendorong terbentuknya ekosistem maggot yang menghubungkan pengelolaan sampah organik, produksi, pengolahan, dan pasar secara berkelanjutan.

"Model ini diharapkan dapat menjadi percontohan yang nantinya dikembangkan lebih luas," sebut Prof Nahrowi.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.