• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • The Dog Stars: Ridley Scot...

The Dog Stars: Ridley Scott Tinggalkan Dunia yang Hancur untuk Film Apokaliptik yang Manusiawi

Senin, 24 Agu 2026, 00:00 WIB

Sutradara Ridley Scott kembali ke genre fiksi ilmiah lewat The Dog Stars, tetapi film terbarunya ini ternyata tidak menjadikan kehancuran dunia sebagai alasan untuk terus-menerus memamerkan aksi besar.

Justru sebaliknya, The Dog Stars mendapat respons awal positif karena menghadirkan sisi Ridley Scott yang lebih tenang, personal, dan emosional.

Ket. Foto: Film yang diadaptasi dari novel karya Peter Heller ini dibintangi Jacob Elordi sebagai Hig, seorang pilot yang bertahan hidup setelah pandemi memusnahkan sebagian besar umat manusia. — Sumber: Istimewa

Film yang diadaptasi dari novel karya Peter Heller ini dibintangi Jacob Elordi sebagai Hig, seorang pilot yang bertahan hidup setelah pandemi memusnahkan sebagian besar umat manusia. Ia tinggal di sebuah lapangan terbang terbengkalai di Colorado bersama anjingnya dan Bangley, penyintas sekaligus mantan personel militer yang diperankan Josh Brolin.

Kehidupan mereka berjalan dalam pola yang sederhana: bertahan hidup, menjaga persediaan, mengawasi ancaman dari para perampok, dan sesekali Hig menerbangkan pesawat kecilnya untuk mencari kebutuhan di tengah dunia yang hampir kosong.

Semuanya berubah ketika Hig menangkap transmisi radio misterius.

Sinyal tersebut membuat Hig meninggalkan zona aman dan mencari sumbernya. Perjalanan itu kemudian mempertemukannya dengan Cima, yang diperankan Margaret Qualley, serta Pops, karakter yang dimainkan Guy Pearce.

Di titik inilah The Dog Stars mulai menunjukkan perbedaan dari film pasca-apokaliptik pada umumnya.

Film ini memang memiliki kekerasan dan ketegangan, tetapi bukan itu yang menjadi pusat ceritanya. Ridley Scott lebih tertarik pada pertanyaan sederhana: setelah hampir seluruh dunia runtuh, apa alasan manusia masih memilih untuk hidup dan mempercayai orang lain?

Scott sendiri mengatakan optimisme menjadi unsur penting dalam film ini. Ia juga sengaja menghindari formula film zombie, karena menurutnya sudah terlalu banyak film yang menggunakan pendekatan tersebut.

Hasilnya, The Dog Stars terasa seperti perpaduan antara film survival, drama karakter, dan western berlatar akhir dunia.

Respons dari pemutaran perdana dunianya di London juga cukup menjanjikan. Sejumlah penonton dan kritikus memuji sinematografi, suasana dunia yang kosong, serta penampilan Jacob Elordi dan Josh Brolin.

Salah satu respons menggambarkannya sebagai film western di penghujung dunia dengan "hati yang besar", sementara kritikus lain menilai film ini lebih lambat dan personal dibanding sejumlah karya besar Ridley Scott sebelumnya.

Performa Josh Brolin menjadi salah satu hal yang banyak mendapat perhatian. Hubungan antara Hig dan Bangley menjadi salah satu fondasi utama film, karena keduanya memiliki cara yang sangat berbeda dalam menghadapi dunia baru yang brutal.

Elordi juga mendapat kesempatan menunjukkan sisi yang berbeda dari karakter-karakter sebelumnya. Sebagai Hig, ia tidak hanya dituntut menjadi sosok yang mampu bertahan hidup, tetapi juga menjadi karakter yang masih mempertahankan harapan ketika hampir semua alasan untuk berharap telah hilang.

Secara visual, film ini tetap memperlihatkan ciri khas Ridley Scott. Lanskap luas, lokasi terpencil, dan dunia yang nyaris tanpa manusia memberikan skala besar pada cerita yang sebenarnya sangat intim.

Menariknya, sebagian besar produksi dilakukan di Italia, yang digunakan untuk membangun lanskap dunia pasca-pandemi dalam film.

Namun, respons awal juga menunjukkan bahwa The Dog Stars bukan film yang akan cocok bagi penonton yang mengharapkan aksi tanpa jeda. Ritmenya cenderung lebih lambat pada bagian awal dan memberikan ruang cukup besar untuk kesunyian, hubungan antarkarakter, serta perjalanan batin Hig.

Rating film ini adalah R karena bahasa dan kekerasan, dengan durasi sekitar 118 menit.

Satu hal yang membuat The Dog Stars menarik adalah bagaimana Ridley Scott menggunakan skala kehancuran dunia untuk menceritakan sesuatu yang jauh lebih kecil: kebutuhan manusia untuk memiliki seseorang yang bisa dipercaya.

Jadi, jangan berharap The Dog Stars menjadi Mad Max versi Ridley Scott.

Film ini lebih dekat pada kisah tentang kesepian, kehilangan, persahabatan, dan harapan yang berlangsung di dunia setelah manusia hampir tidak lagi memilikinya.

Jika respons awal dari pemutaran perdana menjadi gambaran kualitas film secara keseluruhan, The Dog Stars berpotensi menjadi salah satu karya Ridley Scott yang paling berbeda dalam beberapa tahun terakhir—bukan karena paling spektakuler, tetapi karena memilih menjadi lebih manusiawi di tengah dunia yang sudah kehilangan hampir seluruh umat manusia.

The Dog Stars dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 28 Agustus 2026.

  • Review Film

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.