Permainan Garuda Buruk, Diragukan Bisa Menang Besar Atas Bangladesh

Rabu, 30 Sep 2026, 06:22 WIB

JAKARTA – Dengan pemain yang begitu lengkap, ternyata permainan skuad Garuda di laga kedua melawan Malaysia tidak membaik, malah cenderung memburuk, dibanding saat menghadapi Singapura di laga pertama. Langkah Tim Nasional Indonesia menuju final FIFA Asean Cup 2026 kini bergantung pada dua pertandingan sekaligus.

Setelah gagal menundukkan Malaysia, malah beruntung tidak kalah, dalam laga tanpa gol di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (28/9) malam, Skuad Garuda wajib mengalahkan Bangladesh di laga terakhir Grup A. Selain itu, sembari berharap Malaysia kehilangan poin ketika menghadapi Singapura.

Ket. Foto: Pesepak bola Tim Nasional Indonesia Ivar Jenner (tengah) menendang bola melewati adangan pesepak bola Tim Nasional Malaysia Manuel Hidalgo (kanan) dalam pertandingan penyisihan Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Senin (28/9). — Sumber: ANTARA/M Risyal Hidayat

Pertarungan melawan Bangladesh di SUGBK, Kamis (1/10), bukan sekadar pertandingan untuk mengamankan tiga poin. Indonesia membutuhkan kemenangan dengan margin gol sebesar mungkin untuk memperbaiki selisih gol. Sedangkan hasil pertandingan Malaysia kontra Singapura akan menentukan, tambahan poin, apakah cukup mengantarkan Skuad Garuda ke partai puncak.

Regulasi turnamen hanya juara Grup A yang berhak melaju ke final. Malaysia untuk sementara berada di posisi teratas dengan keunggulan selisih gol. Sedangkan Indonesia membuntuti di peringkat kedua dengan jumlah poin sama. Hasil 0-0 melawan Malaysia membuat persaingan di papan atas semakin ketat dan menghilangkan keleluasaan Indonesia untuk menentukan nasib sendiri.

Skenarionya cukup jelas. Indonesia harus mengalahkan Bangladesh dengan skor di atas 3-0 karena Malaysia menang 3-0. Kemudian, berharap Malaysia gagal menang atas Singapura. Jika Malaysia kembali meraih tiga poin, tugas Skuad Garuda menjadi jauh lebih berat karena keunggulan selisih gol harus dikejar dalam satu pertandingan.

Kondisi tersebut membuat pembenahan lini serang menjadi pekerjaan utama John Herdman. Pelatih Indonesia itu mengakui kegagalan mengembangkan serangan ketika bermain dengan 10 pemain menjadi salah satu evaluasi terpenting setelah menghadapi Malaysia.

“Satu-satunya yang perlu diperbaiki adalah aspek menyerang dari strategi ketika bermain dengan 10 pemain,” ujar Herdman. Indonesia sebenarnya tampil agresif sebelum kehilangan Thom Haye pada menit ke-37. Gelandang jangkar itu menerima kartu merah langsung setelah melakukan pelanggaran keras terhadap pemain Malaysia, Arif Aiman.

Bisa saja kartu merah ini buah dari kebiasaan main kasar di liga super. Ketika biasa main kasar di liga super, maka otomatis secara tidak sadar, terbawa dalam pertandingan internasional dan hasilnya sangat merugikan timnas.

Sejak bermain dengan 10 orang, Skuad Garuda dipaksa lebih banyak bertahan. Herdman mengakui situasi tersebut mengubah permainan secara drastis. Ketika masih berkekuatan 11 pemain, Indonesia mampu menciptakan sejumlah peluang berbahaya. Ini termasuk sundulan yang membentur tiang, tembakan dari luar kotak penalti, serta gol yang kemudian dianulir. Namun setelah Haye diusir, daya gedor Skuad Garuda menurun tajam.

“Mungkin ke depan kami bisa lebih menyerang dengan formasi 10 pemain,” ujar Herdman. Evaluasi itu menjadi sangat penting menghadapi Bangladesh. Indonesia tidak hanya membutuhkan kemenangan, tetapi juga harus membangun produktivitas gol sejak awal.

Strategi Bermain

Bermain terlalu hati-hati berisiko membuat Skuad Garuda kehilangan kesempatan mengejar selisih gol. Sedangkan terlalu terbuka dapat memberikan ruang bagi lawan untuk melakukan serangan balik. Pengamat sepak bola nasional Haris Pardede menilai kartu merah Haye menjadi titik anjlok permainan Indonesia.

Kehilangan gelandang tersebut membuat kreativitas lini tengah Garuda berkurang drastis. “Kehilangan Thom Haye di babak pertama adalah pukulan telak bagi kreativitas lini tengah. Efek domino dari kartu merah itu sangat terasa pada babak kedua. Aliran bola mati total,” ujarnya.

Di sisi lain, lini pertahanan justru memperlihatkan ketangguhan. Tim pertahanan mampu mempertahankan gawang Indonesia dari tekanan Malaysia yang melepaskan 18 tembakan. Organisasi pertahanan yang disiplin membuat Skuad Garuda tetap membawa pulang satu poin meski harus bermain dengan 10 orang.

Haris menilai ketahanan tersebut menjadi modal penting, tetapi harus diimbangi perbaikan transisi. “Performa pertahanan luar biasa. Lini belakang tampil sangat disiplin dan kokoh untuk mengamankan nirbobol. Namun, kestabilan transisi dari bertahan ke menyerang saat bermain dengan sepuluh orang harus segera dibenahi,” ujarnya.

Menghadapi Bangladesh, Herdman juga perlu mewaspadai sejumlah pemain berpengalaman lawan. Salah satu yang mendapat perhatian khusus adalah Shamit Shome. Gelandang ini pernah berada di bawah asuhan Herdman ketika masih menangani tim nasional Kanada. ν ben/G-1

  • Jadwal Timnas Indonesia

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.