- Home
-
- Luar Negeri
-
- 70 Tahun Hubungan RI-Mongo...
70 Tahun Hubungan RI-Mongolia, KBRI Buka Jalan Baru bagi Pengusaha Kedua Negara
Rabu, 30 Sep 2026, 06:16 WIBULAN BATOR - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing menjembatani pertemuan pelaku usaha Indonesia dan Mongolia sebagai peringatan 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
"Kesepakatan yang dicapai oleh komunitas bisnis kedua negara adalah faktor yang mengubah aspirasi kedua bangsa besar kita menjadi hasil nyata yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Pemerintah menetapkan kerangka kerjanya, tapi Andalah sebagai penggerak utama kerja sama, baik individu maupun pelaku bisnis, yang membangun jembatan tersebut," kata Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia Djauhari Oratmangun di Ulan Bator, Mongolia pada Selasa.
Dubes Djauhari menyampaikan hal tersebut dalam forum bisnis yang bertajuk "70 years of Partnership: A New Era of Cooperation" yang dihadiri sekitar 35 pelaku usaha baik dari Indonesia maupun Mongolia secara langsung maupun daring.
Mongolia dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik sejak 21 Desember 1956 dan memperingati 70 tahun hubungan diplomatik pada 2026.
Wakil Duta Besar RI di KBRI Beijing Irene dalam acara yang sama menyebut forum bisnis tersebut bertujuan untuk mengubah aspirasi menjadi kolaborasi yang bermakna yang menghasilkan hasil nyata.
"Dengan semangat itulah, saya dengan senang hati mengundang Anda semua untuk hadir di sini. Salah satu perusahaan farmasi Indonesia yaitu PT Kalbe Farma melalui mitranya di Mongolia, Monfa Trade sudah mendatangkan produk obat-obatan dari Tanah Air selama lebih dari 27 tahun," kata Irene.
Hal tersebut, menurut Irene, merupakan bukti nyata bahwa kualitas Indonesia dihargai di Mongolia.
"Namun, kita harus melakukan diversifikasi karena di luar farmasi, ada permintaan yang jelas untuk makanan olahan, minuman, peralatan listrik, dan tekstil. Kami juga menyambut perusahaan-perusahaan Mongolia untuk mengeksplorasi peluang di Indonesia," ungkap Irene.
Sebagai dua negara yang kaya akan sumber daya, Indonesia dan Mongolia, menurut Irene, juga akan mendapat manfaat dari pertukaran praktik terbaik dalam eksplorasi dan pengolahan mineral.
"Melalui forum ini, kami berharap dapat mempelajari prioritas Mongolia karena kemitraan, tentu saja, harus selalu bersifat timbal balik. Pemerintah kami berkomitmen untuk memajukan agenda ini," tambah Irene.
Dari perspektif KBRI, Irene menyebut ada tiga prioritas utama yang menonjol dalam hubungan Indonesia dengan Mongolia.
"Pertama, diversifikasi perdagangan. Hubungan ekonomi kita harus melampaui sektor farmasi, yang telah menjadi landasan kerja sama selama beberapa dekade. Indonesia siap memperkenalkan berbagai macam produk yang lebih luas," ungkap Irene.
Irene menyebut, Indonesia siap mendatangkan produk-produk makanan olahan, minuman, peralatan listrik, teksil yang akan mendukung modernisasi.
"Sektor-sektor ini tidak hanya layak secara komersial, tetapi juga saling melengkapi dengan permintaan konsumen Mongolia yang terus meningkat. Saya menyebutkan tekstil. Saat ini saya sedang mengenakan syal Gobi Mongolia," kata Irene.
Prioritas kedua adalah kemitraan investasi karena Indonesia dan Mongolia sama-sama diberkahi dengan sumber daya mineral yang melimpah.
"Dengan berbagi keahlian dalam eksplorasi, ekstraksi, dan pengolahan hilir, kita dapat menciptakan kemitraan yang menambah nilai pada bahan baku dan menciptakan lapangan kerja," ungkap Irene.
Perusahaan-perusahaan Indonesia diyakini membawa pengalaman dalam praktik pertambangan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya, sementara Mongolia menawarkan peluang unik dalam lanskap mineralnya yang luas.
"Usaha patungan di bidang ini tidak hanya akan memperkuat perekonomian kita, tetapi juga berkontribusi pada rantai pasokan global secara bertanggung jawab dan saling menguntungkan," tambah Irene.
Ketiga, hubungan antarmasyarakat dan antar bisnis mengingat kerja sama ekonomi tidak dapat berkembang tanpa hubungan antarmanusia yang kuat.
"Pariwisata harus tetap menjadi wilayah yang belum dimanfaatkan. Destinasi-destinasi beragam di Indonesia, dari Bali hingga Raja Ampat, dari Banyuwangi hingga Labuan Bajo, siap menyambut pengunjung dari Mongolia," ungkap Irene.
Sementara warisan budaya dan alam Mongolia yang unik menawarkan pengalaman tak terlupakan bagi masyarakat Indonesia didukung dengan pertukaran antaruniversitas, kamar dagang, dan asosiasi profesional juga memperdalam pemahaman dan kepercayaan.
"Hubungan ini adalah fondasi di mana kemitraan ekonomi berkelanjutan dibangun. Indonesia dan Mongolia dipersatukan oleh kepentingan bersama, dan kepentingan itulah bukti bahwa kita berada di sini hari ini. Jarak bukanlah penghalang bagi perusahaan-perusahaan Indonesia," tegas Irene.
Para pelaku usaha dari Indonesia yang hadir dalam forum bisnis tersebut antara lain Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia di China (INACHAM) Liky Sutikno, anggota INACHAM lain maupun perwakilan dari PT Rempah Galih (dengan produk bumub kering), PT Bali Hai Brewing (bir) dan PT Bospress Global Resources (prorduk ekstrak rumput laut), Filtech Energy (jasa pengembangan proyek industri khususnya di sektor petrokimia) dan perusahaan lainnya.
Sementara dari Mongolia hadir Presiden Kamar Dagang dan Industri Nasional Mongolia (Mongolian national Chamber of Commerce and Industry atau MNCCI) Baatarjav Lkhagvajav, Chandmani Consulting dan Xanadu Travel Mongol (bidang tur wisata) serta perusahaan lain di bidang logistik, keuangan dan farmasi.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Marcellus Widiarto
Berita Terkait:
-
Geopolitik Panas, Rantai Pasok Kacau! Ini Jurus Apindo Jaga Ekonomi Nasional
-
Tragedi Banjir Nepal-China Makin Parah, 633 Orang Tewas dan 3.000 Masih Hilang
-
Balé by BTN: Hadirkan Kemudahan bagi Generasi Muda untuk Punya Rumah
-
Sukses di Mancanegara, Film "Solata" Kembali ke Indonesia, Kisahkan Realitas Pendidikan di Tana Toraja
-
Otorita Perkuat Penanganan Karhutla di IKN
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.