Sawah Terendam Jadi Alarm, Bantul Kebut Tangani 55 Hektare Lahan
Rabu, 12 Agu 2026, 17:35 WIBYOGYAKARTA â Lahan pertanian yang terendam berpotensi mengganggu produktivitas dan menekan pendapatan petani, terutama jika genangan terjadi pada fase kritis pertumbuhan tanaman.
Kondisi ini juga dapat mengganggu jadwal tanam berikutnya sehingga dampaknya tidak berhenti pada satu musim.
Karena itu, penguatan drainase, pengelolaan tata air, serta respons cepat terhadap genangan menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menangani genangan air yang merendam lahan pertanian seluas sekitar 55 hektare di Kapanewon Sanden dan Kretek dengan membuka aliran air yang tersumbat menggunakan alat berat.
Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo di Bantul, Rabu (12/8), mengatakan lahan pertanian yang terendam berada di Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, serta Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek.
"Saya sudah ke sana, jadi ada di Srigading, Kapanewon Sanden dan di Tirtohargo, Kapanewon Kretek," katanya.
Ia merinci, di Srigading terdapat sekitar 20 hektare lahan pertanian yang ditanami padi. Sementara di Tirtohargo terdapat sekitar 30 hektare lahan padi dan lima hektare lahan bawang merah yang terendam air.
Menurut dia, kondisi tersebut terjadi berulang setiap tahun akibat aliran air menuju Sungai Opak tersumbat, ditambah tingginya gelombang air laut yang menyebabkan air tidak dapat mengalir ke muara.
"Sebenarnya rutin tiap tahun, gelombang tinggi dan buntu, jadi airnya tidak bisa mengalir ke muara Sungai Opak," ujarnya.
Setelah melakukan peninjauan, DKPP Bantul akan berupaya membuka aliran air yang tersumbat menggunakan alat berat apabila diperlukan agar genangan dapat segera ditangani.
"Saat ini menunggu backhoe untuk membuka aliran airnya," katanya.
Joko mengatakan pihaknya juga mengupayakan agar petani tidak mengalami gagal panen dengan mempertimbangkan karakteristik tanaman yang terdampak genangan. Menurut dia, tanaman padi masih dapat beradaptasi dengan kondisi air yang banyak.
"Kalau tanaman padi jelas aman, tapi ya semoga cepat surut juga. Kalau untuk tanaman bawang merah, sebenarnya kalau tidak lama terendam air juga tidak apa-apa," katanya.
Salah seorang petani terdampak, Darman (70), mengatakan genangan air di lahannya mulai terjadi sejak Selasa (11/8) akibat gelombang tinggi dan luapan Sungai Opak yang masuk ke lahan pertanian.
"Terendam ini karena aliran di muara (Sungai) Opak kebumpetan (tersumbat)," ujarnya.
Sebagai upaya awal, Darman melakukan penyedotan air secara mandiri menggunakan mesin penyedot bertenaga diesel. Namun, upaya tersebut membutuhkan waktu karena volume air yang menggenangi lahan cukup banyak.
"Ini baru saya sedot airnya, sejak pagi sampai siang tadi belum selesai-selesai. Sudah habis lima liter BBM saya," katanya.
Darman berharap genangan air segera tertangani sehingga tanaman dapat diselamatkan dan petani tidak mengalami kerugian akibat gagal panen.
"Ya semoga airnya bisa segera surut biar tanamannya bisa panen," ucapnya.
- Bantul
- Sawah Terendam
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Serat Palilah Diserahkan, Warga Pedak Baru Bantul Dapat Kepastian Tinggal
-
Kementan Gandeng Petani dan Pemda Stabilkan Pasokan Bawang Merah Menjelang Idul Adha
-
Pemkab Garut Kerahkan Seluruh Jajaran Selamatkan Tanaman Pangan dari Kekeringan.
-
Bantul Perkuat Koperasi Merah Putih Lewat Kebijakan dan Sistem Digital
-
Berpotensi Melemah Lanjutan, 11 Mei 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.