Potensi Panas Bumi Jadi Andalan Energi Nasional

Rabu, 12 Agu 2026, 03:00 WIB

Jakarta - Asosiasi Panasbumi Indonesia (Indonesian Geothermal Association/Inaga) akan menggelar Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) ke-12 pada 19–21 Agustus 2026 di Jakarta untuk mendorong percepatan pengembangan panas bumi sebagai bagian dari upaya memperkuat transisi dan ketahanan energi nasional.

Ketua Umum Inaga Julfi Hadi mengatakan pengembangan panas bumi membutuhkan dukungan teknologi, pendanaan, serta koordinasi yang kuat antarpemangku kepentingan.

Ket. Foto: Ketua Umum Inaga Julfi Hadi mengatakan pengembangan panas bumi membutuhkan dukungan teknologi, pendanaan, serta koordinasi yang kuat antarpemangku kepentingan. — Sumber: istimewa

“Akselerasi pengembangan energi panas bumi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi dan pendanaan, tetapi juga pada soliditas para pemangku kepentingan yang menggerakkannya,” kata Julfi, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Selasa (11/8).

Forum tersebut akan mempertemukan pemerintah, regulator, pengembang panas bumi, investor, penyedia teknologi, akademisi, serta pelaku industri dari dalam dan luar negeri untuk membahas pengembangan panas bumi dan peluang investasi energi bersih.

Berdasarkan agenda resmi IIGCE, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menyampaikan pidato utama dalam pembukaan pada 19 Agustus. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga dijadwalkan menyampaikan laporan pada sesi tersebut.

Rangkaian pembahasan IIGCE mencakup aspek ekonomi dan pembiayaan, kebijakan dan harga energi, pengelolaan sumber daya, eksplorasi, teknologi pengeboran dan intervensi sumur, pembangkitan listrik, rantai pasok dan sumber daya manusia, hingga pemanfaatan langsung panas bumi di luar pembangkitan listrik.

Agenda tersebut sejalan dengan besarnya potensi panas bumi Indonesia. Kementerian ESDM mencatat potensi sumber daya panas bumi nasional mencapai 23.742 megawatt (MW), sedangkan kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi sekitar 2.745 MW.

Dengan kapasitas tersebut, Indonesia berada di posisi kedua dunia sebagai produsen listrik panas bumi setelah Amerika Serikat. Besarnya selisih antara potensi dan kapasitas terpasang menunjukkan masih terbuka ruang pengembangan yang luas untuk memperkuat pemanfaatan energi domestik.

IIGCE 2026 juga akan dilengkapi pameran teknologi dan inovasi panas bumi yang mempertemukan pengembang, penyedia teknologi, pengambil kebijakan, dan pelaku industri.

Pengamat energi sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Feiral Rizky Batubara menilai diversifikasi energi menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama di tengah risiko pemadaman listrik berskala besar atau blackout.

“Mitigasi risiko blackout perlu dilakukan melalui penguatan sistem kelistrikan secara menyeluruh, termasuk diversifikasi sumber energi dan peningkatan pembangkit yang mampu menyediakan pasokan listrik secara stabil,” kata Feiral dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

  • Transisi Energi

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.