Waspadai Risiko El Nino dan Inflasi Pangan di Semester II-2026
Selasa, 11 Agu 2026, 03:05 WIBJAKARTA - Tantangan perekonomian nasional pada paruh kedua 2026 dinilai lebih berat dibanding paruh pertama karena sejumlah faktor penghambat yang baru mulai terlihat. Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendi Manilet sejumlah faktor seperti risiko El Niño dan inflasi pangan berpotensi menekan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah.
Sebab itu, Pemerintah harus berupaya menjaga konsumsi rumah tangga sebagai prioritas pada pada kuartal III dan IV-2026.
âTentu, konsumsi rumah tangga perlu menjadi perhatian tersendiri, terutama dalam upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada kuartal III dan IV. Apalagi, terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, salah satunya adalah inflasi, terutama yang didorong oleh kenaikan harga pangan,â katanya.
Dia juga menyoroti risiko El Niño yang diprediksi menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut jelasnya bisa memicu kenaikan harga pangan dan akhirnya menekan konsumsi rumah tangga.
âTekanan tersebut perlu diantisipasi, mengingat adanya risiko El Niño yang diprediksi menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian pemerintah agar kenaikan inflasi, khususnya yang bersumber dari pangan, pada akhirnya tidak menekan daya beli dan konsumsi rumah tangga secara keseluruhan,â jelasnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2026 tumbuh 5,06 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka itu melambat dibanding kuartal I-2026 yang sebesar 5,52 persen (yoy). Padahal konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi 2,67 persen.
Perbaikan Fundamental
Selain menjaga daya beli jangka pendek, Yusuf menilai pemerintah perlu melakukan perbaikan fundamental melalui peningkatan mobilitas ekonomi masyarakat.
âDi saat yang bersamaan, jika kita berbicara mengenai upaya perbaikan yang lebih fundamental, saya kira Pemerintah perlu kembali mendorong peningkatan mobilitas ekonomi masyarakat. Mereka yang saat ini berada dalam kategori calon kelas menengah perlu didorong agar dapat naik menjadi kelas menengah, sementara kelompok kelas menengah juga perlu memiliki peluang untuk meningkatkan status ekonominya,â katanya.
Upaya tersebut bisa dilakukan melalui penciptaan lapangan kerja yang berkualitas, khususnya pekerjaan formal.
âPekerjaan formal yang mampu memberikan peningkatan kesejahteraan dalam jangka panjang sekaligus memberikan kepastian dan perlindungan bagi pekerja, terutama ketika terjadi berbagai guncangan ekonomi,â katanya.
Dengan kombinasi kebijakan antara upaya menjaga stabilitas harga pangan dan penciptaan lapangan kerja formal, dia berharap konsumsi rumah tangga tetap terjaga sehingga pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II-2026 tidak terganggu.
Sebelumnya, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman menilai daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah menjadi kunci penting untuk menjaga kinerja pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II-2026.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Terapkan Pendekatan Humanis, Polisi Bagikan Air Mineral dan Roti saat Demo Buruh di Jakarta
-
Pemkab Sigi Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Hutan Ranjuri di Marawola.
-
Jelang Ramadan dan Idul Fitri, Kementan Tegaskan Stok Daging Aman
-
Imbas Banjir Semarang, Ini Update Layanan Pembatalan Tiket dan Perubahan Perjalanan KA dari Surabaya dan Malang ke Jakarta
-
Target PLTS 100 GW: Transisi Energi Dipacu, Regulasi Jangan Jalan di Tempat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.