Dari Formula 4 Menuju Formula 1, Perjuangan Panjang Pembalap Wanita Mengakhiri Penantian 50 Tahun
Selasa, 11 Agu 2026, 07:00 WIBLONDON - Setengah abad telah berlalu sejak perempuan terakhir kali tampil dalam balapan Kejuaraan Dunia Formula 1. Di tengah pertumbuhan popularitas F1 dan hadirnya program seperti F1 Academy, jalan menuju grid utama masih panjang. Namun, generasi baru seperti Alexia Danielsson mulai berani bermimpi menembus dunia yang selama ini didominasi laki-laki.
Alexia Danielsson baru berusia 14 tahun ketika pertama kali mengemudikan mobil Formula 1.
Mobil yang dikendarainya bukanlah mobil F1 modern yang digunakan dalam balapan Grand Prix, melainkan Williams 2007 yang telah dimodifikasi dan dimiliki seorang teman keluarga. Namun, pengalaman tersebut cukup untuk menegaskan ambisi Danielsson.
Kini berusia 17 tahun, pembalap asal Swedia itu berlaga di ajang Central European F4. Ia harus bersaing dengan sejumlah pembalap muda berbakat, termasuk Ella Hakkinen, putri juara dunia Formula 1 dua kali Mika Hakkinen yang kini mendapat dukungan dari McLaren.
Danielsson saat ini berada di posisi ke-26 dari 49 pembalap dalam klasemen. Namun, hasil tersebut tidak menyurutkan mimpinya untuk suatu hari berdiri di grid Formula 1.
âSaya tidak berpikir ada sesuatu yang mustahil. Anda hanya harus benar-benar mengejarnya. Berapa lama? Saya tidak tahu,â kata Danielsson.
Impian tersebut memang terdengar sederhana. Kenyataannya, untuk mencapainya dibutuhkan perjalanan panjang, biaya besar, bakat luar biasa, serta dukungan yang tidak sedikit.
Dan ada satu fakta yang membuat perjuangan para pembalap perempuan semakin berat.
Sudah 50 tahun tidak ada perempuan yang berlaga dalam balapan Kejuaraan Dunia Formula 1.
Akhir pekan ini menandai setengah abad sejak perempuan terakhir tampil dalam ajang tersebut. Penantian untuk melihat pembalap perempuan kembali berada di grid F1 pun diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat.
CEO Formula 1 Stefano Domenicali bahkan mengatakan pada 2024 bahwa ia tidak melihat kemungkinan seorang pembalap perempuan tampil di F1 dalam lima tahun berikutnya.
Danielsson merupakan salah satu talenta muda yang mendapat pembinaan dari More Than Equal, program pengembangan pembalap yang didirikan pada 2022 oleh mantan pembalap F1 David Coulthard dan pengusaha asal Republik Ceko Karel Komarek.
Program nirlaba tersebut memiliki misi ambisius: menemukan, mengembangkan, dan mendukung calon juara dunia Formula 1 perempuan pertama.
Namun, More Than Equal bukanlah tim balap. âKami bukan tim balap. Kami tidak memiliki mobil-mobil mengilap dengan stiker mengilap. Kami juga bukan sebuah seri balapan,â kata CEO More Than Equal, Tom Stanton.
âApa yang kami lakukan adalah membangun pembalap. Di situlah posisi kami dalam ekosistem ini.â
Program tersebut menyaring talenta berdasarkan kemampuan dan potensi, bukan sekadar popularitas.
Danielsson sendiri sudah menggeluti dunia balap sejak usia enam tahun. Ia mulai mengendarai kart sebelum beralih ke mobil balap pada usia 13 tahun.
Perjalanan seperti itu bukan hal asing bagi para calon pembalap profesional. Beberapa talenta muda bahkan harus meninggalkan rumah dan pindah ke negara atau benua lain demi mendapatkan lingkungan kompetisi yang lebih baik.
Ayah Danielsson, Alx, juga bukan orang asing dalam dunia balap. Ia pernah menjadi juara World Series by Renault pada 2006.
Stanton mengakui bahwa ketika More Than Equal memulai program pengembangan pembalap, mereka sudah mengetahui besarnya tantangan yang harus dihadapi.
Kini, dua tahun kemudian, tantangan itu terasa semakin besar.
âDulu kami tahu ada gunung yang harus didaki. Dua tahun kemudian, rasanya lebih seperti Everest. Tetapi setidaknya sekarang Base Camp-nya sudah jelas,â ujar Stanton.
Salah satu perubahan penting dalam beberapa tahun terakhir adalah kemunculan F1 Academy, seri balap khusus perempuan yang mendapat dukungan Formula 1.
Kompetisi tersebut menggantikan W Series dan digelar sebagai bagian dari rangkaian akhir pekan Grand Prix tertentu. Kehadirannya memberikan panggung yang lebih besar bagi pembalap perempuan sekaligus membuka jalur pengembangan menuju jenjang balap yang lebih tinggi.
Sejumlah pembalap mulai menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk bersaing secara kompetitif.
Pembalap Inggris Abbi Pulling menjadi juara F1 Academy 2024. Ia juga meraih kemenangan di British F4 dan tahun ini telah mencatat kemenangan di kejuaraan GB3.
Sementara itu, pembalap Prancis Doriane Pin, juara F1 Academy musim lalu, telah mendapatkan kesempatan menguji mobil Mercedes Formula 1.
âMulai ada lebih banyak pembalap perempuan di luar sana,â kata Stanton.
âMereka juga tampil semakin baik. Ketika pembalap perempuan mulai secara konsisten berada di papan atas, semakin banyak orang akan memperhatikan.â
Namun, perhatian itu juga membawa konsekuensi. âIni menjadi berkah sekaligus kutukan karena kemudian muncul ekspektasi.â
Salah satu tantangan terbesar dalam menemukan pembalap perempuan adalah sistem pencarian bakat yang belum sepenuhnya mampu mengidentifikasi mereka.
More Than Equal kemudian mengembangkan FutureLap, sebuah platform yang menganalisis data dari kejuaraan karting dan balap single-seater junior untuk menemukan talenta-talenta yang berpotensi berkembang, baik laki-laki maupun perempuan.
Tujuannya sederhana: memastikan pembalap berbakat tidak terlewat hanya karena sulit dikenali.
âYang kami lihat sekarang adalah semakin banyak pembalap perempuan yang muncul,â kata Stanton.
âBukan berarti sebelumnya mereka tidak ada. Hanya saja kami tidak bisa melihat mereka karena hasil balapan tidak mencantumkan jenis kelamin.â
Ia memberikan contoh sederhana tentang persoalan identifikasi tersebut.
Nama Andrea, misalnya, merupakan nama perempuan di Inggris, tetapi lazim digunakan sebagai nama laki-laki di Italia.
More Than Equal juga bekerja sama dengan University of Portsmouth dalam penelitian mengenai ergonomi pembalap perempuan di Formula 4. Penelitian itu diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai kebutuhan fisik dan desain mobil yang lebih sesuai bagi pembalap perempuan.
Besarnya minat menunjukkan bahwa talenta perempuan sebenarnya tersedia.
Kelompok pertama More Than Equal yang beranggotakan enam pembalap diseleksi dari sekitar 1.000 pelamar.
Kelompok kedua, yang terdiri dari delapan pembalap, dipilih dari sekitar 1.500 pendaftar.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalannya bukan semata-mata kekurangan pembalap perempuan. Tantangannya adalah menciptakan jalur yang memungkinkan talenta tersebut berkembang hingga level tertinggi.
Stanton mengatakan ambisi utama program tetap sama: melahirkan juara dunia F1 perempuan pertama.
Namun, ia menyadari bahwa perjalanan menuju target tersebut tidak bisa dinilai hanya dari satu pencapaian.
âAmbisinya tetap bahwa kami ingin melihat pembalap perempuan pertama memenangkan Kejuaraan F1,â ujarnya. âTetapi kami juga harus mengakui bahwa ada sejumlah pencapaian pertama dalam perjalanan menuju ke sana yang sama pentingnya.â
Menurut Stanton, pembalap perempuan pertama yang benar-benar berada di grid Grand Prix F1 dapat memiliki arti yang sama besarnya dengan gelar juara dunia.
âSaya tidak mengatakan bahwa pembalap perempuan pertama yang menjadi juara F1 tidak akan menjadi sebuah peristiwa luar biasa. Tetapi pembalap perempuan pertama yang berada di grid, dalam beberapa hal, memiliki arti yang sama pentingnya karena itu akan melegitimasi gagasan bahwa olahraga ini bisa menjadi olahraga campuran.â
Formula 1 kini berada dalam periode pertumbuhan popularitas yang luar biasa. Namun, popularitas tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam keberagaman di lintasan.
Setengah abad tanpa pembalap perempuan di grid utama menjadi pengingat bahwa perubahan di olahraga elite tidak selalu bergerak secepat pertumbuhan popularitasnya.
Bagi Danielsson dan para pembalap muda lainnya, perjalanan masih panjang. Tidak ada jaminan mereka akan mencapai Formula 1.
Namun, mereka kini memiliki lebih banyak jalur, program pengembangan, kompetisi, dan dukungan dibanding generasi sebelumnya.
âSaya pikir apa yang kami lakukan ini unik,â kata Stanton. âTetapi saya juga berpikir dibutuhkan sebuah desa untuk membesarkan anak ini. Ini akan menjadi kombinasi antara kami, tim, dan sistem pendukung lainnya. Kami semua harus bekerja bersama agar ini berhasil.â
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Korsel-Ukraina Bahas Tawanan Perang Korut
-
Komut Pertamina: Inovasi, Profesionalisme, dan Empati Jadi Kunci Pelayanan kepada Masyarakat
-
Bupati Magelang Resmikan Wayang Relief di Borobudur, Inovasi Budaya Angkat Warisan Candi Jadi Karya Modern
-
Bukan Cuma SATRIA-1, BAKTI Gencarkan Ribuan BTS 4G untuk Wilayah 3T
-
Alibaba.com Perkuat Ekspor UKM Lewat Agen AI dan Kompetisi Inovasi 2 Miliar Rupiah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.