• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Tradisi yang Tak Lekang Za...

Tradisi yang Tak Lekang Zaman! Festival Pertengahan Musim Gugur Satukan Keluarga Lintas Budaya

Senin, 28 Sep 2026, 04:18 WIB

TIANJIN - Festival Pertengahan Musim Gugur di China menjadi momentum yang mempertemukan kerinduan terhadap keluarga dan kebersamaan lintas budaya, termasuk bagi mahasiswa Indonesia yang merayakannya bersama teman-teman dari berbagai negara di Universitas Tianjin.

Beatrice Faustina Jesslyn, seorang pelajar Indonesia berusia 19 tahun, menyanyikan lagu berbahasa Mandarin bersama teman-teman sekelasnya dari berbagai negara dalam acara gala Festival Pertengahan Musim Gugur yang digelar oleh Universitas Tianjin.

Sesaat setelah pertunjukan berakhir, dia melakukan panggilan video dengan keluarganya. Sambil mengarahkan kamera ke panggung dan kerumunan orang di belakangnya, dia berbagi cerita tentang suasana perayaan festival di China.

"Kami berasal dari berbagai negara, tetapi kami menyanyi bersama dalam bahasa Mandarin. Hal itu sendiri terasa benar-benar seperti sebuah kebersamaan," ujar Jesslyn sebagaimana warta Xinhua.

Ket. Foto: Festival Pertengahan Musim Gugur di China. — Sumber: Antara foto/Xinhua

Sebelum datang ke China, pemahamannya tentang Festival Pertengahan Musim Gugur hanya terbatas pada Bulan dan kue bulan. Suatu ketika, seorang teman mengundangnya ke rumah untuk merayakan festival tersebut.

Pengalaman itu benar-benar membuatnya mengenal festival tersebut secara lebih dalam. Keluarga temannya menyediakan tempat duduk khusus untuknya, dan dengan hangat memperkenalkannya pada berbagai jenis kue bulan dengan isian berbeda.

"Pada saat itu, meskipun saya jauh dari keluarga saya di Indonesia, saya merasakan kehangatan di China yang terasa seperti di rumah," ujar Jesslyn. "Kue bulan bukan sekadar makanan penutup. Bentuknya yang bulat melambangkan kebersamaan keluarga dan kehidupan yang utuh serta sempurna."

Sebagai salah satu festival tradisional terpenting bagi bangsa China, Festival Pertengahan Musim Gugur berawal dari tradisi pemujaan Bulan pada zaman kuno, ketika masyarakat berdoa memohon panen yang melimpah dan kedamaian. Pada masa Dinasti Tang, pemujaan Bulan secara bertahap berkembang menjadi tradisi menikmati keindahan Bulan. Pada masa Dinasti Song, festival tersebut secara resmi menjadi sebuah hari raya.

Jesslyn sangat merasakan makna "keutuhan" tersebut. "Hal yang paling menyentuh saya dari Festival Pertengahan Musim Gugur adalah bagaimana festival ini mengubah sesuatu yang sederhana seperti memandang Bulan menjadi sebuah ritual emosional yang dilakukan bersama oleh seluruh keluarga. Tidak peduli seberapa jauh orang-orang terpisah, selama mereka memandang Bulan yang sama, rasanya seperti mereka masih bersama."

Menurut Jesslyn, kasih sayang masyarakat China terhadap keluarga dan kebersamaan tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata, tetapi ditunjukkan melalui tindakan, seperti pulang untuk makan malam, menikmati Bulan bersama, dan menelepon kerabat yang berada jauh. "Kebersamaan bukan sekadar sebuah bentuk atau seremoni, melainkan perasaan tidak ingin absen dari kehidupan satu sama lain," ujarnya.

Turut tampil dalam acara gala tersebut adalah Timothy Joseph Hutagaol (25), mahasiswa doktoral asal Indonesia di Universitas Tianjin. Pada Festival Pertengahan Musim Gugur tahun ini, dia secara khusus mengunjungi Jalan Budaya Kuno Tianjin untuk melihat lampion, berjalan-jalan di kawasan tradisional, dan mencicipi kue bulan dengan isian kacang tanah, custard, dan pasta kacang manis.

"Dari pengalaman saya sebagai mahasiswa di China dan setelah menyaksikan sisi menyentuh dari Festival Pertengahan Musim Gugur, saya memahami kebersamaan keluarga menyatukan kembali seluruh anggota keluarga setelah kesibukan bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Bentuk kue bulan yang bulat melambangkan keutuhan dan keharmonisan," ujar Hutagaol.

Hal tersebut mengingatkannya pada mudik, yakni tradisi tahunan masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman saat Idul Fitri. Banyak orang yang bekerja atau menuntut ilmu di perantauan rela berdesakan di dalam kereta dan bus antarkota, atau menempuh perjalanan dengan mobil dan sepeda motor, bahkan menghabiskan tabungan untuk menempuh perjalanan panjang di tengah kepadatan arus mudik demi kembali berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.

Jesslyn juga menemukan kesamaan antara Festival Pertengahan Musim Gugur dan Idul Fitri di Indonesia. Saat Idul Fitri, masyarakat pulang ke kampung halaman untuk berkumpul, saling meminta maaf, bertukar ucapan dan doa, serta makan bersama. Sementara itu, Festival Pertengahan Musim Gugur mengungkapkan kerinduan melalui Bulan, kue bulan, dan harapan akan kebersamaan.

"Keduanya sama-sama menekankan pulang ke rumah, kebersamaan, ikatan keluarga, dan kepedulian satu sama lain. Dalam berbagai budaya, kasih sayang manusia terhadap rumah dan keluarga pada dasarnya sama," ujar Jesslyn.

Inilah alasan Festival Pertengahan Musim Gugur dapat melampaui batas-batas budaya. Wang mengatakan, China memiliki Chang'e, Yunani memiliki Selene, India memiliki Dewa Bulan Soma, dan Jepang memiliki Kaguya-hime. Festival Pertengahan Musim Gugur menjadikan Bulan sebagai medium dan menemukan bahasa yang dapat dipahami bersama oleh umat manusia.

"Merindukan orang-orang terkasih, mendambakan kebersamaan, mensyukuri hasil panen, dan mendambakan kedamaian, semua itu bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki masyarakat China, melainkan termasuk di antara perasaan terdalam dan paling berharga umat manusia. Festival Pertengahan Musim Gugur menjadi wadah bagi emosi-emosi tersebut," ujar Wang.

Wang menambahkan, semakin banyak orang dari berbagai latar belakang akan mencicipi kue bulan, mengamati fase Bulan, dan mendengarkan kisah Dewi Bulan Chang'e terbang ke Bulan pada hari tersebut, sebagai ungkapan kerinduan dan harapan akan kebersamaan.

"Merindukan keluarga, menghargai ikatan keluarga, dan berharap dapat berkumpul kembali, emosi-emosi ini bukan milik satu negara tertentu, melainkan dirasakan oleh seluruh umat manusia. Dari mana pun orang berasal, mereka akan merindukan keluarga yang berada jauh dan ingin dicintai, dikenang, serta dapat berkumpul kembali," ujar Jesslyn.

Hutagaol menilai Festival Pertengahan Musim Gugur berakar pada kerapuhan manusia, kebutuhan psikologis, dan pengalaman emosional yang dirasakan bersama oleh seluruh umat manusia, terlepas dari perbedaan bahasa, geografi, maupun agama. Bulan purnama yang bulat sempurna dan tanpa cela menjadi metafora langsung bagi lingkaran keluarga yang utuh dan tidak terputus. Setelah menghadapi kesibukan dan berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, keharmonisan dan kehangatan saat berkumpul kembali dengan keluarga memberikan apa yang benar-benar dibutuhkan manusia.

"Festival Pertengahan Musim Gugur dapat melampaui batas negara karena menyentuh bagian paling rapuh sekaligus indah dari kemanusiaan, yakni keinginan kita semua untuk tidak membiarkan jarak menghapus kasih sayang dan kerinduan terhadap satu sama lain," ujar Hutagaol.

"Merayakan Festival Pertengahan Musim Gugur di China bukan hanya tentang merasakan sebuah festival tradisional, melainkan juga tentang belajar memahami makna 'rumah' dan 'cinta' dengan cara masyarakat China," ujar Jesslyn.

Di bawah Bulan purnama yang sama, kerinduan terhadap orang-orang terkasih dan harapan akan kebersamaan kini menjadi bahasa bersama yang menghubungkan berbagai negara dan budaya.

  • Lintas Budaya
  • Festival Pertengahan Musim Gugur
  • Satukan Keluarga

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.