Ketika Penyintas Operasi Trisula Berbisik agar Sejarah Tak Ikut Mati

Minggu, 27 Sep 2026, 19:30 WIB

Lebih dari setengah abad setelah Operasi Trisula berlangsung di Blitar Selatan, Jawa Timur, para penyintasnya berhadapan dengan musuh lain: waktu.

Usia mereka semakin senja. Sebagian telah meninggal. Mereka yang masih hidup membawa sendiri ingatan tentang penangkapan, penyiksaan, kerja paksa, stigma, dan kehilangan harta benda yang bermula dari operasi militer pada 1968 tersebut. Sementara itu, dokumentasi visual mengenai luka yang mereka alami nyaris tidak ada.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Istimewa

Operasi Trisula merupakan salah satu babak kelam dalam sejarah konsolidasi kekuasaan Orde Baru yang sampai sekarang belum banyak diketahui publik. Ribuan warga sipil, sebagian besar petani biasa, ditangkap dan disiksa tanpa proses hukum karena dituduh sebagai simpatisan komunis.

Persoalan tentang ingatan, trauma, dan keadilan itulah yang mengemuka dalam pemutaran dan diskusi film The Last Supper (Whisper) (2026) yang diselenggarakan PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit) di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Film dokumenter karya Daniel Rudi Haryanto tersebut mengikuti tiga mantan tahanan politik korban Operasi Trisula: Markus Talam (87), Suyatman (76), dan Soekiman yang meninggal dunia pada 2020 dalam usia 72 tahun.

Mereka bukan tokoh politik. Ketiganya adalah petani biasa yang dituduh menjadi simpatisan komunis dan kemudian ditahan tanpa pernah melalui proses pengadilan.

Soekiman dan Suyatman akhirnya keluar dari penjara Blitar setelah mengalami penyiksaan. Nasib Talam berbeda. Ia harus menghabiskan satu dekade menjalani kerja paksa di kamp konsentrasi Pulau Buru.

Bahkan ketika mereka akhirnya keluar, status kebebasan itu menyimpan ironi. Ketiganya memang menerima surat pembebasan, tetapi nama resmi dokumen yang diberikan kepada mereka adalah “Surat Pelepasan Sementara”. Dengan kata lain, bukan surat pembebasan penuh.

Keluar dari tahanan juga tidak berarti penderitaan mereka selesai.

Selama puluhan tahun, pengalaman kekerasan itu tinggal dalam kehidupan sehari-hari ketiganya. Pada Talam, trauma bahkan bersembunyi di balik sesuatu yang bagi banyak orang terdengar indah: harmoni gamelan. Suara itu justru membawanya kembali pada ingatan tentang gedoran aparat militer di pintu rumahnya.

Suyatman hidup dengan ingatan lain. Ia terus dibayangi rahasia kelam Goa Tikus, tempat saudarinya bersama puluhan warga lain dieksekusi.

Di luar luka psikologis tersebut, stigma “komunis” mengikuti kehidupan mereka dan keluarganya. Tanah dan kebun dirampas. Kesempatan bekerja di instansi pemerintah tertutup.

“Akibat operasi militer Trisula, mereka dan keluarga mereka mengalami penderitaan fisik dan psikologis yang berkepanjangan,” tutur Rudi, panggilan akrab Daniel Rudi Haryanto.

Santap Malam dan Bisikan Para Penyintas

Di usia senja, ketiganya dipertemukan dalam film untuk sebuah “santap malam terakhir”. Mereka duduk bersama dan berbagi pengalaman masing-masing.

Mereka tidak bercerita dengan suara lantang. Mereka berbisik. Sesekali bisikan tersebut berhenti dan berganti dengan tetesan air mata.

Di sanalah The Last Supper (Whisper) meletakkan persoalan ingatan: pengalaman kekerasan yang selama puluhan tahun hidup dalam kesunyian harus diceritakan sebelum orang-orang yang mengalaminya pergi.

Mereka berusaha menjaga ingatan agar tidak ikut terkubur dalam sunyinya hutan jati. Pada usia yang semakin tua, ketiganya masih setia menunggu kabar baik yang mungkin tak akan pernah datang.

Rudi mengatakan film tersebut didedikasikan bukan hanya kepada Talam, Suyatman, dan Soekiman, tetapi juga kepada korban lain kekerasan negara terhadap masyarakat sipil. Banyak di antara mereka, menurut dia, hingga hari ini masih memperjuangkan hak-haknya.

“Mereka dipandang tidak bersih lingkungan; keluarga mereka tak dapat bekerja pada instansi pemerintah,” kata Rudi.

Dampak tersebut juga menyentuh sumber kehidupan keluarga korban.

“Tanah, kebun, dan aset keluarga mereka banyak yang dirampas dan digunakan untuk fasilitas umum atau tempat tinggal orang lain,” ujarnya.

Delapan Tahun Mengerjakan Film

Proses pembuatan The Last Supper (Whisper) berlangsung selama delapan tahun, dari 2017 sampai 2025. Film tersebut menggunakan animasi, desain suara yang detail dan jeli, serta simbol-simbol budaya Jawa khas Blitar Selatan.

Pilihan artistik itu bukan sekadar persoalan estetika. Rudi menggunakannya untuk menciptakan suasana yang lebih ringan sehingga penonton dapat masuk dan menyelami trauma mendalam yang dialami para subjek film.

Rudi merupakan sutradara alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia pernah meraih Directors Guild of Japan Award di Yamagata International Documentary Film Festival (YIDFF) dan penghargaan di CinemAsia Amsterdam.

The Last Supper (Whisper) kemudian tayang perdana di Jogja-NETPAC Film Festival 2025. Perjalanan film itu berlanjut ke Prancis. Pada April 2026, film tersebut ditayangkan di Festival International de Cinéma Asiatique de Tours (FICAT) dan meraih predikat “Best Film”.

Kini urgensi film tersebut menjadi semakin nyata. Para penyintas Operasi Trisula menua, sebagian telah meninggal, sementara dokumentasi visual mengenai kekerasan yang mereka alami sangat terbatas.

Waktu untuk merekam kesaksian mereka tidak tak terbatas. Karena itu, merawat ingatan tentang Operasi Trisula bukan hanya perkara mengenang masa lalu, tetapi juga menjaga agar pengalaman para korban tetap tercatat sekaligus mempertahankan tuntutan keadilan bagi mereka.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.