UMKM Naik Kelas! Festival Kopi Manokwari Jadi Panggung Kebangkitan Ekonomi

Jumat, 07 Agu 2026, 20:05 WIB

MANOKWARI – Pembangunan UMKM berbasis kopi memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperkuat perekonomian daerah.

Tidak hanya berfokus pada produksi biji kopi, pengembangan UMKM di sektor ini juga mencakup pengolahan, pengemasan, branding, hingga pemasaran yang mampu meningkatkan daya saing di pasar domestik maupun ekspor.

Ket. Foto: Festival Kopi Manokwari 2026 digelar selama tiga hari ini di Manokwari City Mall, Papua Barat, Kamis (7/8/2026), sebagai promosi kopi lokal dan memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM. — Sumber: ANTARA/ Fransiskus Salu Weking

Agar manfaat ekonominya lebih optimal, diperlukan dukungan berupa peningkatan kualitas produk, akses pembiayaan, sertifikasi, serta penguatan rantai pasok sehingga ekosistem usaha kopi dapat tumbuh secara berkelanjutan dan memberikan pendapatan yang lebih baik bagi petani maupun pelaku UMKM.

Bupati Manokwari Hermus Indou mengatakan penyelenggaraan Festival Kopi Manokwari 2026 merupakan salah satu strategi mengakselerasi pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui promosi produk unggulan, serta perluasan akses pasar.

Pembangunan UMKM berbasis kopi membutuhkan dukungan dari semua pelaku usaha, termasuk Komunitas Kopi Manokwari yang telah menginisiasi pelaksanaan festival di Manokwari City Mal, Papua Barat, pada 7-9 Agustus 2026.

“Hari ini Komunitas Kopi Manokwari sudah menunjukkan kontribusi dalam mendorong pembangunan ekonomi di daerah,” kata Hermus, Jumat (7/8).

Menurut dia, Manokwari memiliki potensi sebagai daerah penghasil kopi di Provinsi Papua Barat selain Pegunungan Arfak, dengan luasan kurang lebih mencapai 30 hektare yang telah dikembangkan sejak beberapa tahun lalu.

Pengembangan komoditas perkebunan, termasuk kopi, harus memperhatikan tiga aspek utama. Pertama, peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen, penyediaan bibit unggul, penggunaan teknologi, serta penguatan kapasitas petani.

Kedua, mendorong pengolahan pascapanen untuk meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi, perbaikan mutu, pengemasan, sertifikasi, dan diversifikasi produk agar memiliki daya asing yang lebih tinggi.

Ketiga, memperluas akses pemasaran melalui promosi produk secara berkala, business matching, pemanfaatan media sosial, serta pengembangan jejaring antara petani dengan pelaku usaha, industri, hingga pasar global.

“Jadi, aspek hulu, aspek hilir, dan aspek pemasaran harus berjalan beriringan agar memberikan dampak ekonomi yang lebih tinggi bagi petani maupun pelaku UMKM,” ujar Hermus.

Hermus menyebut bahwa, Distrik Mokwam maupun Kampung Kwau tidak hanya menjadi lokasi pengembangan komoditas kopi di Manokwari, melainkan ekowisata pemantauan burung pintar atau burung endemik Papua, Vogelkop Bowerbird.

Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memperkuat sinergisitas dan kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan, termasuk komunitas kopi guna mengoptimalkan pengembangan potensi unggulan daerah.

“Supaya wisatawan berkunjung ke Mokwam tidak hanya memantau burung pintar, tapi mereka bisa minum kopi asli Manokwari,” ujar Hermus.

Ketua Komunitas Kopi Manokwari Roland Raweyai menjelaskan, festival bukan sekadar ajang promosi produk, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kemampuan barista dalam meracik minuman sesuai permintaan dari konsumen.

“Kami berterima kasih atas dukungan dari pemerintah daerah dalam pelaksanaan festival ini,” ujarnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.