Di Tangan Perajin Rejang Lebong, Sampah Plastik Menjelma Kerajinan Istimewa

Jumat, 07 Agu 2026, 22:00 WIB

REJANG LEBONG – Di tangan warga Desa Seguring, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, limbah tali plastik atau Polyethylene Terephthalate (PET) tidak lagi dipandang sebagai sampah yang mencemari lingkungan.

Melalui keterampilan menganyam yang diwariskan secara turun-temurun, bahan bekas tersebut disulap menjadi beragam produk kerajinan bernilai ekonomi, mulai dari tas, tikar, keranjang, hingga aneka perlengkapan rumah tangga.

Ket. Foto: Perajin anyaman berbahan limbah tali plastik yang ada di Desa Seguring, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong tengah mengerjakan salah satu barang. — Sumber: ANTARA/Nur Muhamad

Kreativitas ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Anyaman berbahan PET tidak hanya membantu mengurangi timbunan limbah plastik, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi warga desa. Sentuhan motif tradisional yang dipadukan dengan bahan daur ulang menghadirkan produk yang unik, kuat, dan memiliki daya tarik tersendiri di pasaran.

Lebih dari sekadar menghasilkan kerajinan, aktivitas tersebut mencerminkan semangat ekonomi sirkular yang tumbuh dari desa.

Limbah yang semula tidak memiliki nilai kini berubah menjadi sumber penghasilan, sekaligus memperkuat identitas lokal melalui karya-karya kreatif yang ramah lingkungan.

Kisah Desa Seguring menunjukkan bahwa inovasi sederhana yang lahir dari masyarakat mampu menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.

Pengusaha kerajinan anyaman Desa Seguring, Ari Fahifmi, mengatakan inovasi itu berawal dari sulitnya mendapatkan bahan baku alami seperti bambu dan rotan yang biasa digunakan untuk membuat alat-alat tradisional seperti beronang, bakul, dan tampi beras.

"Inovasi ini bermula saat saya bekerja di Kota Bengkulu dan melihat banyak limbah tali plastik dibuang begitu saja. Saya mencoba mengolahnya menjadi anyaman, dan ternyata respons pasar sangat positif," ujar Ari di Rejang Lebong, Jumat (7/8).

Melihat potensi tersebut, Ari memutuskan kembali ke desa kelahirannya pada 2023 untuk memfokuskan usaha kerajinan anyaman berbasis limbah dengan memberdayakan masyarakat lokal.

Saat ini, kapasitas produksi usaha kerajinan tersebut mencapai 500 unit per bulan. Produk dipasarkan dengan harga berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp150 ribu per unit, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatan.

Pemasaran produk anyaman tali plastik tersebut kini telah menjangkau luar wilayah Bengkulu, seperti Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Keunggulan produk ini terletak pada ketahanannya yang lebih awet serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan anyaman berbahan rotan.

Menurut dia, usaha itu telah menyerap 20 tenaga kerja lokal yang merupakan warga Desa Seguring. Sebagian besar perajin memanfaatkan waktu senggang seusai bertani untuk menganyam di rumah guna menambah pendapatan keluarga.

Ke depan, Ari berencana memvariasikan produknya dengan menyasar perlengkapan rumah tangga seperti meja dan kursi anyaman, sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus mengedukasi masyarakat terkait pengolahan limbah.

Kepala Desa Seguring Yan Husin mengaku sangat bangga atas kreativitas warganya yang berhasil mengubah limbah plastik menjadi produk kerajinan yang bernilai ekonomis, sehingga menjadi contoh bagi warga lainnya untuk dapat mengembangkan kemampuan serupa.

"Saya sangat bangga atas kreativitas warga kami ini, karena produknya tidak hanya bernilai ekonomi juga mengangkat nama baik Desa Seguring," kata Yan Husin.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.