• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Idgitaf Meramu 5 Lagu dari...

Idgitaf Meramu 5 Lagu dari Naskah Drama untuk 'Home Sweet Loan The Musical'

Kamis, 06 Agu 2026, 17:05 WIB

Jakarta, 06/8 (ANTARA) - Penyanyi sekaligus penulis lagu Idgitaf mengonfirmasi keterlibatannya sebagai penggubah lima lagu orisinal baru yang akan mengisi lika-liku perasaan Kaluna dalam pementasan teater "Home Sweet Loan The Musical".

Pengumuman tersebut disampaikan dalam sesi konferensi pers bersama tim produksi di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, Kamis (6/8).

Ket. Foto: Penyanyi dan penulis lagu Idgitaf (tengah) bersama penulis novel asli "Home Sweet Loan" Almira Bastari (kedua kiri bawah) saat konferensi pers peluncuran poster dan video musik "Cukup Nggak Cukup" untuk mempromosikan pementasan teater "Home Sweet Loan The Musical" di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Kamis (6/8). — Sumber: ANTARA/Abdu Faisal

Kelima nomor lagu baru yang disiapkan itu masing-masing memiliki judul "Beli Sekarang", "Riuh Jakarta", "Satu Nafas Lagi", "Amarah Seperti Apa", dan "Zona Aman". Ragam karya teranyar ini dirancang secara lugas tanpa berbelit, menurut Idgitaf, guna menyuarakan keluh kesah para pekerja keras kelas urban sekaligus generasi roti lapis (sandwich generation).

"Proses dari penulisan lima lagu ini enggak fix lima awalnya. Jadi aku bilang, 'Coba aja dulu satu. Kalau kamu suka cara kerja aku, kita gas terus.' Soalnya kan aku vibe check itu belum pernah sama dua perempuan (tim penulis) ini," ujar Idgitaf saat menceritakan awal mula keterlibatannya.

Meskipun harus meramu lagu dari sebuah naskah drama, ia mengaku tidak merasa terbebani selama proses kreatif berlangsung.

"Tapi sebenarnya kalau ditanya tantangannya apa, jujur aku enggak merasa begitu semenantang itu. Menurut aku enggak seberat itu. Kenapa? Karena aku mengerjakan karya yang bukan karyaku. Aku balik lagi, bukan cerita gue, ini cerita orang. Jadi gua hanya menyampaikan apa yang orang ini rasakan. Gua enggak sok-sokan leveling sama diri gue," kata Idgitaf.

Idgitaf juga membeberkan karakteristik penulisan liriknya yang unik dan cenderung berbeda dari pakem penataan musik teater pada umumnya.

"Aku tipe penulis lirik yang sering kali judul dulu baru lagunya. Karena judul tuh kayak memberikan premis jelas ini tentang apa, gitu. Jadi beda banget sama kayak Kak Ivan (penata musik Ivan Tangkulung) yang biasanya nada dulu baru liriknya. Aku kayak lirik dulu, jadi mereka ngobrol, aku tulis semuanya," tuturnya menambahkan.

Dari kelima materi yang disiapkan, ia menyebut lagu berjudul "Amarah Seperti Apa" sebagai salah satu karya andalannya. Sementara itu, untuk bagian penutup pertunjukan, ia menyiapkan lagu berjudul "Satu Nafas Lagi" yang dirancang dengan pendekatan minimalis namun mendalam.

"Aku tuh awalnya kayak, 'Oke, gue mau bikin ini kayak grand, big banget, show banget.' Tapi aku balik lagi, maksudnya, kita nyari apa di Kaluna tuh? Apakah kita nyari kemewahan? Tidak, mending ke Grand Indonesia, gitu. Kita nyari di Kaluna tuh adalah sebuah relief, sebuah pengakuan, sebuah validasi. Jadi, kayak ya udah Satu Nafas Lagi, gitu. Kayaknya kita bisa bertahan mungkin satu nafas lagi," ucap pelantun lagu Berakhir di Aku tersebut.

Proyek teater musikal ini merupakan bentuk penggabungan lintas ekosistem kreatif berskala besar yang mempertemukan industri perfilman, teater musikal, dan pengembangan seni pertunjukan. Produksi adaptasi ini digarap secara kolaboratif oleh Visinema Pictures, Indonesia Kaya, serta komunitas teater pemuda Jakarta Art House.

Program Director Indonesia Kaya, Billy Gamaliel, menjelaskan bahwa proyek ini sekaligus menjadi ruang pembinaan karena melibatkan banyak talenta baru dari alumni program Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya (IMB).

"Ini juga menjadi project membanggakan karena banyak teman-teman dari alumni programnya Indonesia Kaya, Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya, yang terlibat di tim. Di tim kreator sudah ada sutradaranya Lisa Reideka dari IMB Angkatan Ketiga," jelas Billy.

Selain itu koreografernya sudah malang melintang di West End kembali ke West Mall, Indonesia, kembali ke Galeri Indonesia Kaya, ada El Haq Latief yang sudah berkarier di London West End, IMB angkatan pertama, dan juga banyak teman-teman yang terlibat dari IMB satu, dua, dan tiga yang terlibat jadi pemain juga, katanya.

Pada kesempatan yang sama, penulis novel asli "Home Sweet Loan", Almira Bastari, menambahkan bahwa gagasan awal penulisan cerita itu lahir dari pengalamannya sendiri saat masih aktif bekerja sebagai seorang analis finansial.

"Sebagai financial analyst, setiap pagi itu harus baca Bloomberg dan Wall Street Journal. Terus hari itu ada artikel anak muda di Hong Kong tuh harus nyicil apartemen studio 25 tahun gitu. Dan saya rasa isu ini ternyata enggak cuma di kita aja nih orang-orang anak muda tuh susah beli rumah, di negara-negara lain pun di seluruh dunia juga ada kesulitan itu," ungkap Almira.

Ia juga mengenang bagaimana dinamika kehidupan rumahnya di masa pandemi turut menginspirasi penulisan karakter di novel drama berat pertamanya ini.

"Kan kita pandemi gitu ya, jadi kakak-kakak saya yang udah nikah tuh balik ke rumah. Jadi pas balik ke rumah ini, kok jadi saya semua nih yang ngerjain? Jadi sebenarnya lumayan, 'Oh, begini rasanya.' Nah habis itu pingin nulis cerita ini. 'Home Sweet Loan' mungkin adalah cerita pertama saya yang dramanya itu lebih berat, tapi ternyata bisa menemukan lapisan pembaca baru," pungkasnya.

Pementasan resmi "Home Sweet Loan The Musical" dijadwalkan menyapa para pencinta seni pertunjukan pada 30 September hingga 18 Oktober 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.