Tekan Stunting, BGN Petakan Urgensi Makan Bergizi Gratis

Kamis, 30 Jul 2026, 13:45 WIB

JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan lembaganya terus melakukan pembenahan menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah. Perbaikan dilakukan dengan memetakan setiap persoalan berdasarkan tingkat urgensinya agar penanganan lebih efektif, tepat sasaran, dan mampu meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.

Sudaryono mengatakan pembenahan tidak hanya difokuskan pada wilayah yang masih menghadapi berbagai tantangan, tetapi juga memastikan daerah yang telah menjalankan program dengan baik tetap mampu mempertahankan kualitas pelaksanaannya. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi BGN dalam menjaga keberlanjutan Program MBG di seluruh Indonesia.

Ket. Foto: Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan lembaganya terus melakukan pembenahan menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah. Perbaikan dilakukan dengan memetakan setiap persoalan berdasarkan tingkat urgensinya agar penanganan lebih efektif, tepat sasaran, dan mampu meningkatkan kualitas layanan. — Sumber: Istimewa

“Selain kita berbenah terhadap pelaksanaan program yang sudah berjalan, kita juga memastikan yang sudah baik tetap berjalan dengan baik. Yang baik kita apresiasi, sementara berbagai persoalan yang masih ada kita petakan dan kita perbaiki berdasarkan tingkat urgensinya,” ujar Sudaryono, Rabu (29/7).

Ia menjelaskan, pembenahan operasional dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan setiap daerah, termasuk wilayah seperti Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan sejumlah daerah lain yang masih menghadapi tantangan dalam pelaksanaan program. Dengan pendekatan berbasis prioritas, sumber daya yang dimiliki dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan paling mendesak.

Sudaryono menambahkan, BGN telah memiliki basis data yang memungkinkan identifikasi kondisi setiap wilayah secara lebih rinci. Data tersebut mencakup sebaran penerima manfaat, kondisi gizi masyarakat, hingga daerah dengan prevalensi stunting yang masih tinggi sebagai dasar dalam menentukan prioritas intervensi.

“Kita melihat daerah-daerah dengan angka stunting tinggi dan sangat tinggi. Kalau di sana sudah ada SPPG, segera kita optimalkan. Kalau belum ada, maka menjadi fokus pengembangan berikutnya. Sementara daerah yang sudah berjalan baik akan terus kita jaga kualitasnya,” kata Sudaryono.

Menurutnya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat. Lebih dari itu, program harus mampu memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi masyarakat, termasuk menurunkan angka stunting dan mengurangi kasus kekurangan gizi.

“BGN ini adalah Badan Gizi Nasional, bukan Badan Makan Nasional. Makan hanyalah sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia,” tegas Sudaryono.

Sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas program, BGN juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Kesehatan, akademisi, dan pakar gizi. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk menyempurnakan penyusunan menu, kandungan gizi, metode intervensi di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, hingga penguatan sistem evaluasi berbasis data agar pelaksanaan Program MBG semakin efektif dan akuntabel.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.